Kisah 5 tahun yang lalu

1024 Words
Hari sebelumnya. Di kampus sedang ramai, membahas salah satu senior di kampus yang tiba-tiba terseret kasus pembunuhan. Pembunuhan itu menyangkut keluarga sendiri, ayah, ibu dan adik perempuan yang masih berusia 5 tahun. Kasus pembunuhan itu sudah terjadi 5 tahun silam, tetapi sampai detik ini belum juga ditemukan siapa pelaku pembunuhan tersebut. 5 tahun yang lalu, sebuah rumah ditemukan terbakar, para tetangga bergotong-royong membantu memadamkan api yang memang belum sempat membakar habis rumah mewah itu. Ketika api sudah padam, beberapa orang masuk dan menemukan 3 mayat di ruang makan. Ketiga orang itu ditemukan tewas dengan keadaan mulut yang berbusa. Polisi menyimpulkan kalau ketiganya diracuni dan rumah dibakar untuk menghilangkan jejak. Namun, yang membuat kasus pembunuhan itu semakin viral adalah kejanggalan di mana anak sulung yang tidak ikut makan malam. Anak sulung yang saat itu masih berusia 17 tahun itu muncul ketika orang-orang tengah memadamkan api. Saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, sementara ia muncul dengan ekspresi tenang seolah ia bukan anggota keluarga korban. Banyak orang yang mengira kalau anak sulung itu yang menjadi tersangka atas kematian keluarganya. Polisi bahkan memintanya datang ke kantor polisi untuk memberikan saksi. Walaupun ada banyak orang yang curiga, kenyataannya polisi tidak bisa membuktikan kalau anak sulung itu adalah pembunuhnya. Hal yang lebih membuat orang-orang geram adalah sampai detik ini kasus pembunuhan itu masih belum terpecahkan. Berita mengenai kasus pembunuhan itu sampai di telinga pemuda yang bernama Rino. Rino adalah salah satu mahasiswa di kampus yang sama dengan Ardi, bahkan keduanya pernah beberapa kali satu kelas. Keduanya saling kenal, tetapi tak terlalu akrab karena Ardi sering menyendiri. Kecuali jika dengan sang kekasih-Isyana, barulah Ardi mau pergi berkumpul dengan teman-teman lainnya. Rino mendengar kasus pembunuhan yang sudah terjadi 5 tahun silam itu dari saudaranya yang merupakan tetangga Ardi di rumahnya yang dulu, rumah yang pernah terbakar dan saat ini sudah dijual dengan harga murah. Setelah mendengar kasus yang menyeret nama Ardi, Rino begitu bersemangat karena ia memang tak menyukai pria yang seumuran dengannya itu. Rino membenci Ardi karena dianggap sudah merebut Isyana-wanita yang ia sukai sejak menjadi mahasiswa baru. Ardi dan Isyana berpacaran sejak 2 tahun lalu ketika mereka masih di semester 5. Rino yang sejak dulu mengejar cinta Isyana merasa sakit hati dan menyimpan dendam untuk teman sekampusnya itu. Hingga suatu hari, ia menyebar berita mengenai pembunuhan keluarga Ardi di grup chat kampus. Kabar itu berembus dengan cepat sampai seluruh penghuni kampus tahu, tidak hanya mahasiswa tetapi para dosen ikut ketakutan karenanya. [Di kampus kita ada psikopat yang udah ngebunuh keluarganya sendiri. Katanya, karena dia iri sama adek perempuannya yang lebih disayang orang tuanya.] Rino menyebar berita yang ia niatkan memang untuk menghancurkan masa depan Ardi itu di grup chat w******p. Pria itu tak peduli apakah Ardi benar-benar pembunuh atau tidak, yang ia inginkan adalah Ardi putus dari Isyana agar ia bisa mendekati gadis itu lagi. [Yang benar?] balas yang lain. Rino lalu membagikan beberapa artikel di internet dan bahkan lembar berita di koran yang sempat diabadikan saudaranya itu ke grup kampus. Semua orang melihat bagaimana pandangan orang-orang di sekitar rumah korban itu pada anak sulung yang terkenal pendiam. Semua orang di group itu tercengang ketika melihat anak sulung itu ternyata adalah pemuda tampan yang selama ini terkenal baik dan ramah. Namun, berkat berita yang Rino sebarkan itu, semua orang berubah, memandang pemuda yang kerap dipanggil Ardi seperti virus yang mematikan. [Dia memang pendiam, kadang senyumannya malah bikin merinding.] [Nggak nyangka, ternyata ganteng-ganteng serigala berbulu domba.] [Aku jadi takut ke kampus.] [Gimana bisa kita satu kampus dengan pembunuh?] [Bagaimana kalau salah satu di antara kita ada yang dibunuh?] [Keluarkan dia dari grup!] Group w******p kampus itu langsung ramai, sang admin yang merupakan ketua BEM langsung menghubungi salah satu dosen untuk meminta pendapat. Sejak hari itu, Ardi dihindari oleh teman-teman sekampus. Hanya beberapa orang yang masih menyapa Ardi, itupun karena terpaksa karena takut pemuda tampan itu marah. Membuat pria itu marah sama seperti bunuh diri karena mereka berpikir bisa menjadi korban berikutnya. Ardi yang mengetahui semua desas-desus tentang dirinya memilih diam. Ia yang biasanya murah senyum, kini seperti patung yang tanpa ekspresi. . . Setelah menemui dosen wali, Ardi pergi dengan tatapan mata kosong. Pria itu langsung pulang, melewati jalanan di kampus itu dengan wajah datar, walaupun banyak orang yang menatapnya dengan takut. Namun, ia sama sekali tak mempercepat langkahnya, malah berjalan santai seolah sedang berada di atas catwalk. Dari kejauhan, seorang pria tersenyum puas karena melihat Ardi dikucilkan di kampus. "Nggak seharusnya kamu kuliah di sini, Ardi!" Siapapun yang melihat Ardi saat ini, pasti akan berpikir kalau pria itu memang menyimpan sejuta rahasia. Apa yang dirasakan pria tampan itu? Kenapa hanya diam? Kenapa tidak membantah? Kenapa tidak menjelaskan apapun? Kenapa bersikap santai walaupun semua orang menyudutkannya? Semua orang bertanya-tanya, menebak, menduga apapun sesuka mereka. Tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Hanya Tuhan dan pelaku yang sebenarnya yang tahu apa yang terjadi malam itu. Malam itu, Ardi pergi ke swalayan untuk membeli pensil dan buku gambar. Ada tugas menggambar yang harus ia kumpul esok hari, ia tak memiliki peralatan menggambar saat itu. Oleh sebab itu, ia pergi ke swalayan dan meninggalkan keluarganya malam itu. Ketika ia kembali, orang-orang sudah berkumpul di rumahnya, menatapnya dengan pilu. Tatapan itu tak lama, segera mereka menatapnya dengan tatapan curiga, seolah ia adalah dalang di balik kejadian memilukan itu. Ketika ada orang yang tak sengaja menabraknya dari belakang karena berlarian sambil membawa air, buku gambar yang Ardi pegang tak sengaja jatuh. Orang-orang merasa aneh pada Ardi sejak saat itu. Bukannya berlari membantu memadamkan api, malah mengambil buku gambar yang jatuh di tanah itu, seolah ia sudah tahu kalau keluarganya sudah meninggal dunia. Hal yang lebih membuat orang merasa curiga, ketika menyadari pemuda itu pulang cukup larut hanya untuk membeli buku gambar dan pensil saja. Bahkan, polisi juga ikut mencurigai Ardi karena pemuda itu sama sekali tak menampilkan ekspresi sedih karena kehilangan. Itu bukan hanya ditinggal pergi ke luar kota, tetapi ia sudah ditinggal oleh keluarganya selama-lamanya. Bagaimana ia bisa terlihat begitu tenang, setitik pun tak ada air mata yang keluar. Ironisnya, pembunuhan satu keluarga itu belum terpecahkan sampai sekarang. Menyisakan teka-teki bagi semua orang yang menyaksikannya. Apa motif dibalik perbuatan keji itu dan siapa yang melakukannya? Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD