Pagi ini orang-orang berkumpul di salah satu rumah kos pria yang lokasinya tak terlalu jauh dari kampus.
Tak hanya masyarakat biasa, ada banyak polisi yang sudah mengamankan sekitar lokasi kejadian. Di mana mayat pemuda yang ditemukan di dalam kamar dengan mulut yang berbusa, diduga keracunan.
Polisi masih melakukan penyelidikan setelah menerima laporan dari beberapa warga tadi pagi.
Pemuda yang ditemukan meninggal di dalam kamar kosnya itu adalah Rino, orang yang telah menyebarkan berita mengenai kematian keluarga Ardi.
Orang-orang di sekitar Rino merasa curiga dan berpikir itu adalah pembunuhan, bukan kasus bunuh diri. Karena, semalam Rino masih bersikap seperti biasa dan bahkan ia mengajak salah satu temannya untuk pergi liburan di akhir pekan.
Beberapa teman kos Rino berpikir itu adalah perbuatan Ardi, orang yang sejak beberapa hari lalu dicurigai sebagai psikopat.
Namun, ada satu orang yang berpikir berbeda dari yang lain, Wira namanya. Pemuda yang merupakan teman akrab Rino itu berpikir kalau pembunuh temannya itu bukanlah Ardi, melainkan orang lain.
"Aku tahu siapa yang udah ngebunuh Rino," ucap Wira yang tiba-tiba muncul di rumah kos sahabatnya itu ketika polisi masih melakukan penyelidikan.
Polisi akhirnya membawa Wira ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Pria itu mengatakan apapun yang ingin ia katakan, termasuk kecurigaannya pada teman wanitanya.
"Apa yang membuat Saudara berpikir itu adalah perbuatan teman kuliah Saudara?" tanya petugas sembari menatap layar laptop, tangannya masih bergerak dengan lincah, menulis semua yang ia dengarkan dari Wira.
Wira menceritakan bagaimana kemarin siang ia melihat Rino dan Ayu berdebat di depan salah satu toilet di kampus. Saat itu kampus sedang sepi karena merupakan jam kuliah siang, hanya ada beberapa mahasiswa yang berada di luar ruangan.
Flashback On
Wira sendiri berniat ke toilet untuk buang air kecil, tetapi ia urungkan karena mendengar Rino dan Ayu berdebat di depan toilet.
"Kita nggak tahu siapa pembunuh sebenernya. Nggak seharusnya kamu bagi informasi yang masih belum tentu kebenarannya itu di grup kampus!" teriak Ayu, seorang gadis yang juga merupakan Rino dan Ardi. Gadis itu merasa marah pada Rino karena ulah pemuda itu, nama Ardi menjadi tercoreng, dicap sebagai psikopat yang akhirnya dijauhi banyak orang.
"Kenapa? Kamu mau belain pahlawan kamu itu? Jangan kira aku nggak tahu kalo selama ini kamu suka sama Ardi itu! Kamu nggak mau kan kalo pujaan hati kamu itu dipandang aneh sama orang-orang? Atau sebenarnya kamu takut kalo dia beneran psikopat? Jadi, kamu nggak mau mengakui kalo kamu udah jatuh cinta sama seorang pembunuh? Jangan gila! Kamu bisa jadi korban dia selanjutnya!" Rino membalas ucapan Ayu dengan kalimat menohok.
"Jaga mulut kamu! Aku tahu Ardi bukan pria seperti itu! Kalo kamu masih mengganggu Ardi, aku pastiin kamu akan menyesal selamanya!" Ayu meninggalkan Rino setelah mengancam pemuda itu.
Flashback Off
Setelah menceritakan semua yang ia lihat hari itu, Wira diperbolehkan pulang. Namun, pihak kepolisian tak langsung menangkap Ayu. Gadis itu dipanggil sebagai saksi, ada banyak pertanyaan yang diajukan ke gadis itu.
Pada saat diinterogasi, Ayu menunjukkan sikap yang aneh, membuat pihak kepolisian curiga.
"Bukan ... bukan saya yang membunuh Rino, Pak." Ayu berkata dengan gemetar, kedua tangannya saling bertaut dan ia sama sekali tak berani menatap petugas.
Namun, Ayu dibiarkan pulang karena tak ada bukti kuat yang mengarahkan kalau ia adalah pembunuh Rino.
Ayu disambut dengan pelukan sahabatnya-Isyana yang merupakan kekasih Ardi. Gadis itu setia menunggu Ayu selama temannya itu diinterogasi hingga berjam-jam. Isyana begitu baik, perhatian dan rela melakukan apapun untuk orang-orang di sekitarnya.
Isyana memberi sebotol air minum ke temannya, lalu tersenyum pada Ayu.
"Tenanglah, semuanya baik-baik aja. Kita pulang sekarang, ya." Isyana mengajak Ayu pulang.
Kedua gadis itu adalah teman sekamar, mereka tinggal di rumah kos yang terkenal elit di kalangan mahasiswa lainnya. Demi menghemat biaya sewa kamar kos, keduanya memilih berbagi kamar, karena selain bagus, lokasi rumah kos mereka cukup dekat dengan kampus. Ya, rumah kos Ayu-Isyana dan rumah kos Rino berjarak cukup dekat. Rumah Ardi lah yang paling jauh karena pria itu harus tinggal dengan neneknya yang sudah tua renta.
Ketika kasus pembunuhan Rino masih diselidiki, Ardi juga ikut dipanggil dan dimintai kesaksian. Itu adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, mereka berspekulasi kalau pemuda itulah yang membunuh Rino. Karena Rino sudah mengungkap rahasia yang ia sembunyikan selama 3,5 tahun itu.
Selama ini, Ardi terkenal sebagai mahasiswa tampan yang rajin, ramah dan juga baik. Ia kuliah layaknya anak-anak pada umumnya, nyaman dan tak pernah tersandung masalah yang serius. Sampai akhirnya kasus pembunuhan keluarganya terungkap, nama Ardi langsung berubah menjadi nama yang harus dihindari.
Di grup w******p banyak yang menuduh Ardi.
[Aku yakin Ardi yang membunuh Rino.]
[Iya. Lihat saja dia pakai cara yang sama dengan pembunuhan keluarganya, sama-sama diracuni!]
[Psikopat seperti dia nggak pantes hidup!]
[Aku jadi merinding.]
[Bagaimana bisa orang seperti itu berbaur dengan kita selama ini?]
Masih ada banyak lagi ungkapan kemarahan dan kekecewaan mereka pada Ardi. Bahkan nama Isyana juga ikut diseret karena gadis itu sudah berpacaran dengan Ardi selama 2 tahun.
Di rumah Ardi, Isyana baru saja duduk di ruang tamu, disusul Ardi yang baru saja keluar dari kamar.
Ardi tersenyum pada Isyana, kecil saja.
Isyana tersenyum selebar mungkin, memberi semangat pada kekasihnya.
"Kenapa?" tanya Ardi pelan.
"Apanya?"
"Kenapa ke sini?"
"Harus punya alasan apa agar pacarmu ini bisa ke sini?"
Ardi tertawa kecil, menatap sang kekasih dengan tatapan penuh arti.
Pria itu mengembuskan napas panjang.
"Kamu tahu apa yang sedang terjadi sama aku."
Isyana mengangguk.
"Dan kamu masih ke sini? Nemuin aku?"
Isyana kembali mengangguk.
"Kamu nggak takut kalo aku macem-macem sama kamu?"
"Kenapa? Kamu mau perkosa aku? Nggak perlu, aku bisa melakukannya secara suka rela!" Isyana bercanda. Selama ini Ardi memang tak pernah melakukan hal intim, hanya kecupan dan ciuman bibir.
Ardi terkekeh.
"Di luar sana, orang-orang bilang aku psikopat."
"Aku tahu."
"Mereka bilang aku pembunuh."
"Aku tahu."
"Dan kamu masih mau jadi pacar aku?"
"Iya."
Ardi kembali terkekeh. Lalu diam untuk waktu yang lama, Isyana ikut diam.
"Aku nggak mau ngelibatin kamu dalam urusanku ini. Isyana, mari kita putus."
Ardi meminta perpisahan pada kekasihnya itu.
Isyana malah tertawa.
"Kalo aku nggak mau, apa kamu akan membunuhku?" tanya Isyana lantang.
Isyana dan Ardi saling bertatapan, tatapan yang sulit diartikan dengan kata-kata, tanpa berkedip, suasana begitu tegang.
Bersambung...