Ayo putus

1047 Words
Isyana dan Ardi terlibat adu tatap cukup lama, hingga kemudian Ardi yang tersenyum lebih dahulu, menyudahi suasana canggung itu. "Kamu bener-bener nggak punya rasa takut, ya?" tanya Ardi. "Aku nggak tahu beli rasa takut itu di mana? Apakah aku harus punya?" Kembali Isyana melempar candaan yang membuat Ardi tersenyum semakin lebar. "Kamu masih bisa bercanda di situasi sekarang ini? Kamu nggak takut kalau aku akan melukai kamu, seperti yang orang-orang katakan?" tanya Ardi yang masih tersenyum, tetapi kini senyumnya tampak lebih ringan, tak selebar sebelumnya. Isyana juga tersenyum ringan, memiringkan sedikit saja kepalanya sembari menatap sang kekasih dengan tatapan sendu. "Takut? Aku lebih takut nggak bisa ketemu lagi, ketimbang takut kamu lukai. Karena aku nggak bisa bayangin gimana hidup aku tanpa kamu." Ardi kembali tersenyum lebar, merasa senang setelah mendengar pengakuan kekasihnya itu. "Bagaimana aku seberuntung ini?" tanyanya singkat. Isyana pun membalas senyuman sang kekasih, terlihat begitu tulus. Wajah cantik gadis itu membuat Ardi merasa terhibur. Di saat hampir semua orang menuduhnya atas kematian keluarganya sendiri, ada satu orang yang begitu mempercayainya. "Kamu nggak takut kalau teman-teman di kampus jauhin kamu?" tanya Ardi dengan suara yang terdengar lirih. Isyana menggeleng. "Kamu nggak takut kamu akan sendiri mulai sekarang?" tanya Ardi lagi. "Kan ada kamu, aku nggak akan sendiri," sahut Isyana tanpa ragu. Ardi terkekeh sesaat. "Kamu nggak akan bosan kalau cuma sama aku aja? Setiap hari cuma ketemu aku aja, aku terus dan aku lagi. Yakin? Kalau kamu mau putus, aku nggak akan marah sama kamu, aku ngerti. Masalah ini bukan cuma main-main, Isyana." Pemuda itu sangat menginginkan perpisahannya dengan sang kekasih, tak ingin wanita yang ia sukai itu harus menerima perlakuan tidak mengenakkan karena dirinya. "Aku nggak mau putus, kenapa kamu terus bahas itu? Aku sudah bilang kalau aku mau terus jadi pacar kamu. Aku akan menikah sama kamu suatu saat nanti. Berhenti meminta aku pergi." Isyana dengan tegas mengatakan penolakannya atas permintaan Ardi untuk berpisah. Ardi semakin merasa senang, ia benar-benar merasa beruntung dan bersyukur. Namun, ia masih merasa terbebani dan takut kalau Isyana akan mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang, seperti yang ia rasakan sekarang. Itu sangat menyiksanya, dipojokkan, dimusuhi, dihujat dan bahkan didoakan buruk oleh orang-orang "Ini mungkin kesempatan terakhir kamu, aku mungkin nggak akan mau putus dari kamu kalau sekarang kamu nggak mau putus." Kembali Ardi berusaha meminta perpisahan dari kekasihnya, tentu saja itu demi kebaikan Isyana. Isyana menatap Ardi dengan lekat. "Kamu mau malam ini kita tidur bareng? Biar kamu percaya kalau aku lebih milih kamu ketimbang orang-orang? Yang kamu bilang teman-teman itu, aku nggak yakin mereka akan selalu ada, sama seperti yang kamu lakuin ke aku. Jadi, aku akan milih hal yang aku yakini aja, aku lebih milih hal yang buat aku seneng. Bukan cuma mikirin perasaan dan pendapat orang lain." Hal yang paling Isyana sukai dari Ardi adalah pria itu tak banyak bicara, tak banyak berjanji dan lebih suka melakukan semuanya secara langsung, tanpa banyak kata-kata. Yang paling penting, Ardi adalah sosok orang yang jarang mengungkapkan perasaannya lewat ekspresi wajahnya. Ardi adalah sosok orang yang sulit ditebak, tak mudah tersenyum di depan orang asing, membuat Isyana menyukai pria itu. Menatap Isyana dengan lekat, Ardi masih saja merasa terbebani dengan kondisinya itu. Ia sudah terbiasa mendapatkan tuduhan dan perlakuan tak nyaman seperti sekarang ini. Ia bisa menahan semuanya, tetapi ia tak ingin Isyana merasakan apa yang ia rasakan. Karena walaupun ia diam selama ini, ia sebenarnya merasa tersiksa. Ia takut Isyana merasa ketakutan karena dorongan dari banyak pihak yang tentu saja tak akan percaya begitu saja dengan apa yang ia katakan. "Pulanglah." Ardi tiba-tiba meminta sang kekasih pulang. Hal itu membuat Isyana menekuk wajahnya, padahal ia sudah bersusah payah meyakinkan sang kekasih kalau ia baik-baik saja. Ia masih ingin berada di sana, masih ingin bersama sang kekasih. Namun, Ardi malah memintanya pulang. "Kenapa? Kamu bener-bener mikir aku nggak akan sanggup bertahan sama kamu? Di situasi kamu yang seperti sekarang ini? Kamu pikir aku akan kabur? Kamu pikir aku nggak akan sanggup wujudin kata-kataku ini?" tanya Isyana yang mulai kesal karena Ardi tiba-tiba memintanya pulang. Bukannya ikut marah, Ardi malah tersenyum, merasa gemas pada tingkah sang kekasih. "Bukan. Aku mau kamu pulang sekarang karena aku ada janji sama Nenek. Aku mau anter Nenek pergi ke rumah temennya, mereka ada janji buat periksa kesehatan bareng-bareng." Pria itu berbohong. Namun, mendengar pengakuan itu, Isyana kembali merasa tenang. "Tapi aku juga minta kamu buat ambil waktu sebanyak mungkin, pikir kembali, berulang kali. Apa kamu bener-bener mau lanjut dan bertahan dengan aku? Atau kita akhiri saja sekarang. Aku nggak akan maksa kamu, Isyana. Kamu tahu perasaan aku ke kamu itu tulus, aku sayang sama kamu. Tapi demi kebaikan kamu, aku nggak akan kekang kamu dan paksa kamu buat jadi pacar aku selamanya. Aku akan hormati keputusan kamu. Seandainya kamu mau berpisah, aku nggak akan marah. Dan seandainya kamu yakin kalau kita bisa bersama selamanya, aku nggak akan menolak keputusan kamu itu, meski sebenernya aku takut kamu tersakiti. Jadi, coba kamu pikir kembali semuanya," ucap Ardi panjang lebar. Pria itu jarang berbicara panjang lebar seperti itu, tetapi dengan Isyana, ia sudah biasa melakukannya. Karena dengan gadis itu, ia merasa nyaman dan tak malu sama sekali. Selain itu, ia memang menyayangi gadis itu dengan tulus. Isyana mengembuskan napas panjang. "Aku mau marah, tapi rasanya percuma juga marah sama kamu. Baiklah, aku akan pulang, dan aku akan pura-pura berpikir seperti yang kamu bilang itu. Aku cuma mau bilang, mau sekarang apa nanti, hasilnya tetep sama. Aku nggak akan mau putus dari kamu, aku suka sama kamu, dan mau kita tetep bersama. Biarkan saja orang bilang apa, aku percaya kamu bukan pembunuh atau psikopat seperti yang mereka bilang." Gadis itu berbicara lantang, yakin dan tanpa keraguan sedikit pun. Seolah ia sudah tahu siapa pembunuh yang sebenarnya, ia merasa begitu yakin kalau Ardi adalah orang baik yang begitu cocok untuknya. Ardi terkekeh. "Baiklah, lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi jangan menyesal kalau nanti kamu nggak bisa jauh dari aku." "Kalau begitu jangan usir aku, biarin aku di sini." Ardi kembali terkekeh. "Pulanglah. Aku mau pergi sama Nenek." Ardi ingin Isyana pergi dari sana, berbohong demi kebaikan gadis yang ia sukai itu. Ia ingin kekasihnya itu berpikir berulang kali untuk terus melanjutkan hubungan mereka yang penuh akan resiko itu, ia tak ingin melihat masa depan Isyana hancur karena masalah dirinya sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD