"Jangan pergi, Sukma! Jangan tinggalkan aku!" Meski kedua matanya masih tertutup, tetapi mulut Aryan terus saja meracau. Ketika mengalami lucid dream, Aryan terus mengigau, memanggil nama seseorang yang selalu saja hadir di setiap tidur malamnya. Kala itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi dan Aryan masih terbaring di atas ranjang peraduannya. Setengah jiwanya masih lena dalam lelap, tetapi pikirannya bisa menyadari kalau dia tengah bermimpi buruk. "Sukma!" Racauan Aryan sontak berubah menjadi teriakan. Bersamaan dengan itu, kedua matanya juga terbuka lebar dan sontak Aryan mengangkat punggung dari atas kasur. Aryan duduk terhenyak, sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah. "Ya, Tuhan! Rupanya aku bermimpi lagi." Perlahan dia mengusap wajahnya dan sadar kalau dia baru sa

