Aku Siapa?

1284 Words
“Sial!” “Ada apa Sally?” Mico yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya itu menantap heran pada wanita yang hampir lima jam ia ajak bergulat di atas ranjang. “Lihat kelakuan istrimu ini? Beruntung manajerku segera menghapusnya sebelum banyak yang melihat.” Mico yang melihat screenshot video panas antara dirinya dengan Sally yang diposting di f*******: pun seketika membulatkan matanya, “kamu kirim video percintaan kita, Sayang? Pada Hellen?” “Ya. Kupikir dia akan segera meminta cerai padamu. Sadar diri bahwa kamu tak menginginkannya dan lebih menginginkanku. Tapi kenyataannya, otaknya selicik rubah.” Mico lalu menghela napas dan meletakkan pantatnya di atas kasur, di mana Sally masih berada di sana hanya dengan memakai pakaian dalam saja. “Kamu yang bodoh! Kenapa video panas kita harus kamu kirim ke wanita itu?” “Ish! Kamu kok malah ngatain aku sih?” Sally mengerucutkan bibirnya. “Dengar, Sayang ….,” Mico merangkum wajah Sally dan dihadapkan ke arahnya, “tanpa mengirimkan itu, aku tak akan kembali padanya. Ia mau tanda tangani gugatan cerai dariku ataupun tidak, aku akan tetap memberinya talak tiga. Kamu paham? Dan video itu jelas malah akan menghancurkan karir kamu. Kenapa kamu harus cemburu pada wanita yang hanya berstatus sebagai istriku tanap memiliki hatiku?” Seutas senyum senyum akhirnya terbit dibibir Sally yang bengkak dan Mico tak membuang waktu lagi untuk melumat bibir itu meskipun hanya sebentar. “Yang kau kirimkan pada Hellen, sudah kau hapus?” Sally langsung membulatkan matanya. “Belum. Bagaimana ini?” “Kecerobohan kedua,” timpal Mico. Pria itu lantas beranjak dari kasur dan menghampiri ponselnya yang tergeletak di atas nakas. “A-apa yang kamu lakukan?” tanya Sally penasaran juga was-was. “Menghapus video yang kamu kirimkan pada Hellen di gallery ponsel wanita itu.” Dengan santai Mico menjawab pertanyaan kekasihnya itu sembari mengotak-atik layar ponselnya. “Bagaimana bisa?” Sally terkejut mendengar ucapan Mico. “Aku bisa menghackhing ponsel Hellen.” “Oh ya? Sehebat itu?” “Aku pernah belajar dari temanku yang ahli IT.” “Kenapa kamu melakukan itu?” “Karena aku memiliki kekasih seorang model.” “So?” “So, aku harus melindungi dia, tidak hanya di dunia nyata tetapi juga lewat dunia cyber.” Mico memang seorang pria yang cerdas. Hanya saja ia bodoh dalam urusan memilih wanita. Sejatinya, Sally tak hanya tidur bersama Mico. Menghilangnya Mico dari hidupnya beberapa tahun yang lalu membat kehidupan Sally semakin liar. “Ya ampun, makin sayang deh sama kamu ….” Sally melabuhkan satu kecupan di pipi kanan Mico. “Selesai! Aku pun sudah menghacker semua akun sosial medianya,” sahut Mico lalu tersenyum sembari menatap Sally, “aku tulus cinta sama kamu. Makanya, aku bener-bener mau lindungi kamu. Kata temenku, dunia entertain itu jahat. Sally … mau nggak, suatu hari nanti, kamu berhenti dari duniamu itu?” “Kenapa?” “Aku ingin ajak kamu meninggalkan kota ini. Kamu tau? Orangtuaku pasti akan marah melihat kelakuanku sekarang. Dan ingat, mereka tak pernah setuju akan hubungan kita dari awal.” “Citra kamu sebagai model, lambat laun pasti akan menjadi jelek. Tak bisa ditolak bahwa kamu tetap berstatus perebut suami orang.” “Mico?” Sally tidak suka kata pelakor keluar dari mulut pria yang dicintainya itu meskipun hal itu memang benar adanya. “Please, nurut sama aku. Sebelum itu terjadi … tolong berhentilah dari modeling.” “Dengan alasan apa aku berhenti?” “Katakan saja kamu akan menikah.” “Maksudmu?” “Ayo … kita menikah secepatnya.” *** “Apa ini? Kenapa akun media sosialku tak satu pun bisa kubuka?” Hellen menggeram dan berusaha membuka kembali akun faceebook, IG dan twitternya yang semuanya tak bisa ia masuki. “Siapa yang melakukan hal ini? Kedua manusia b******k itu kah?” Hellen membanting ponselnya. Ia lalu menatap langit-langit kamar. Di langit-langit kamar itu justru muncul wajah Mico juga Sally yang tengah tertawa terpingkal-pingkal kepadanya. Hellen dengan sigap melemparkan benda apa saja di dekatnya ke atas langit kamarnya yang pada akhirnya jatuh dan menimpa kepalanya. “Aduh!” Hellen mengusap kepalanya sendiri. Semakin lama ia mengusap kepalanya, semakin membuat bola matanya berkaca-kaca dan tak lama bibirnya bergetar tepat di saat air mata jatuh dari pelupuk mata. Kenangan antara dirinya dengan Mico tiba-tiba hadir. Kenangan di mana Mico sering mengusap kepalanya hanya agar ia bisa tidur dengan nyenyak. Kebiasaan Mico yang sering dilakukan pria itu tanpa Hellen minta. Kehidupan pernikahannya dengan Mico bukan hanya sehari dua hari. Banyak kenangan yang sudah ia lalui bersama tanpa adanya masalah. Mico pun tipe suami yang tak banyak menuntut ini itu. Ia cenderung lebih pengertian. Mencuci piring, mencuci baju maupun menanak nasi bukan menjadi hal yang luar biasa bagi Mico karena baik Hellen maupun Mico seringkali melakukan kegiatan itu secara bergantian. Meskipun begitu, layaknya seorang manusia, sosok Mico tetap memiliki kekurangan. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, Mico masih kesulitan dalam mengikat tali sepatu. Oleh karena itu selain berolahraga, Mico sangat menghindari memakai sepatu bertali. Hellen meraup wajahnya kasar. Ia menyesal kenapa harus menangis lagi. Tapi bukankah manusiawi jika hati wanita tersakiti ia pasti akan menangis? Lagi pula … kenapa wanita yang semula dianggapnya sebagai malaikat ternyata hanyalah iblis dalam selimut? Apalagi ia mereka saling berbagi peluh dengan satu pria yang sama? Tak tahan lagi dengan bayangan sosok Mico yang terus menerus menghantuinya, wanita itu memutuskan untuk turun dari ranjang. Ia tak bisa tidur. Maka wanita itu memutuskan untuk pergi ke ruang tengah dan memilih tidur di atas sofa. Sayangnya bayangan Mico yang sering tidur di pahanya setiap ia duduk di sofa itu membuat Hellen kembali bangkit dan menendang sofa dengan kakinya yang berujung ia kesakitan sendiri. Alhasil, Hellen memilih tidur di atas karpet. Berusaha memejamkan matanya karena life must be gone tanpa pria itu, langit pun masih bisa biru *** Walau hanya satu detik, mata Hellen tak pernah lepas dari dua manusia yang saling bergandengan tangan dengan mesra di depan sana. Sembari menunggu kedua pasangan tak halal itu memasuki mobil, Hellen sudah bersiap menekan tombol start pada mobil barunya. Mobil yang baru saja ia beli secara cash dari dealer. Tepat di saat Mico dan Sally sudah berada di dalam mobil yang sialnya Hellen bisa melihat keduanya b******u lewat kaca mobil yang tidak terlalu gelap itu, semakin membuat gejolak amarah Hellen naik di ubun-ubun. “Kalian harus mati!” seru Hellen yang langsung menginjak gas dan membiarkan mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan gila-gilaan menuju mobil yang masih terparkir di halaman depan sebuah minimarket. Untungnya posisi mobil Hellen berada tepat di depan mobil pria yang masih menjadi suaminya itu, hal itu memudahkan Hellen yang belum ahli menyetir untuk mencapai targetnya. Brakz!! Tubuh Hellen terdorong maju hingga memecahkan kaca jendela bagian depan bersamaan dengan tubuh Sally yang juga keluar dari dalam mobil. Kedua kepala wanita itu saling membentur. Bunyi teriakan para manusia samar-samar masih didengar oleh Hellen juga suara rintihan pria yang masih menjadi suaminya itu menyebut-nyebut nama Sally hingga pada akhirnya kelopak matanya terasa berat dan ia tak bisa mendengar suara apapun lagi. *** “Sally-sally?” Samar-samar, suara itu menggelitik rungu wanita yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Kelopak mata yang awalnya tertutup kini bergerak-gerak hingga akhirnya terbuka sempurna. Melihat siapa sosok yang tengah berada tepat di depan wajahnya, kelopak matanya dengan cepat mengerjap-ngerjap. Wanita itu seperti tengah bermimpi. Apalagi sebuah senyum yang membingkai wajah pria yang tampannya paripurna itu langsung ia sambut dengan senyum yang sama. “Sally? Sayangku, akhirnya kamu bangun. Aku khawatir banget ….” “Sally?” “Ya, Sayang. Apakah kamu melupakan namamu sendiri?” “Namaku?” “Jika Hellen sadar, akan kuberikan balasan yang setimpal untuknya! Beruntungnya, kita tidak terluka terlalu parah, Sayang.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD