Aarghhhhh!!!
Hellen berteriak kencang, meluapkan emosinya yang membakar d**a.
“b******k kalian berdua!” Tak hanya berteriak, hujatan pun ia lontarkan. Wanita yang sepanjang hidupnya tak pernah mengeluarkan kata-kata keji itu kini berani mengeluarkannya.
“Dasar pembohong! Kutil Kuda! Ular jadian-jadian!”
Hellen berdiri mengambil paksa foto pernikahan berpigura yang menggantung di dinding kamarnya hingga membuat tangannya tergores dengan pinggiran pigura sampai mengeluarkan darah. Tapi itu tak penting, tak membuatnya merasa sakit juga.
Yang terpenting baginya sekarang adalah foto yang tiap hari selalu berhasil memberikan senyum lebar di bibirnya itu kini dengan sekuat tenaga ia banting ke atas lantai dengan kuat lalu ia injak-injak sembari mengeluarkan sumpah serapahnya. Tak cukup hanya diinjak, kini foto sosok pria yang paling disayanginya itu ia ludahi berkali-kali lalu dengan kaki kanannya ludahnya itu ia gesekkan hingga membuat wajah pria dalam foto itu menjadi rusak.
“Harusnya … ya harusnya, wajah kebanggaanmu itu aku rusak dengan tanganku, MICO! Bukan hanya rusak sebatas di foto ini!” Hellen kembali meludah di tempat yang sama.
Wanita itu lalu mengedarkan pandangannya dengan mata memerah dan d**a naik turun. Dengan langkah pasti, ia menyabet semua foto-foto kecil berpigura yang terpasang di dinding juga yang ada di atas nakas lalu ia banting semua foto itu secara bersamaan. Di antara pecahan pigura foto, tangan Helen dengan cekatan mengambil lembaran foto dan menyobeknya hingga menjadi partikel-partikel kecil.
Satu hal yang Hellen sadari, selain foto pernikahan mereka, hanya foto suaminya lah yang menghiasi kamarnya. Itu pun atas inisiatif Hellen sendiri yang memasangnya. Begitu pula di tiap ruang dalam rumah pemberian mertuanya ini.
Memang salah Hellen sendiri yang langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu Mico. Ia langsung menjadi cewek bucin hingga hari-hari yang dilewatinya setelahnya hanya ia habiskan untuk memikirkan pria yang kini menjadi suaminya itu. Tak hanya suka mengoleksi foto sang suami, Hellen pun paling sering mengutarakan kata cinta setiap hari pada Mico dan bodohnya, di detik ini, wanita itu pun sadar bahwa Mico tak pernah sekalipun membalas ungkapan cintanya dengan kalimat yang sama. Pria itu hanya menjawab dengan kalimat, “aku tahu.”
Netra Hellen kini berpindah di atas kasur yang biasa ia pakai bergulat dengan suaminya. Ia berjalan menghampiri kasur berukuran king size itu. Kasur yang selalu ia rapikan sebelum ia berangkat menuju butiknya itu, kini sudah berubah berantakan dan menguarkan bau percintaan sekaligus jejak parfum percampuran Sally dengan Mico.
Gigi Hellen langsung bergemeletuk. Hatinya langsung bertanya, “Berapa kali kasurnya itu menjadi saksi kebrutalan dua manusia yang baru saja meninggalkan kamar ini?” Apalagi menjadi istri Mico selama setahun membuat Hellen hapal betapa besar nafsu pria itu saat melakukan hubungan suami istri. Tangan Hellen mengepal kuat saat membayangkannya.
Kedua tangan Hellen kini menarik bed cover kasurnya kuat bersamaan dengan tertariknya bantal dan guling yang ada di atas kasur. Benda-benda itu kemudian diangkat Hellen dan di bawahnya menuju halaman belakang dan meletakkannya di atas semen kasar. Wanita itu kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia mengambil botol yang berisi solar juga korek gas dari dalam dapur lalu dibawanya menuju halaman belakang. Ia menuangkan solar di atas bed cover juga bantal guling tadi dan menyalakan korek gas. Seketika, api membumbung tinggi, membakar benda yang menjadi saksi perselingkuhan suaminya yang tak tahu caranya bersyukur itu.
Tidak puas dengan benda-benda yang dibakarnya, Hellen kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka lebar-lebar lemari pakaiannya dan mengambil seluruh pakaian suaminya baik yang tertumpuk rapi di sana maupun yang berada di gantungan.
Tarikan kasar yang dilakukan Hellen saat mengambil pakaian dari dalam lemari, membuat selembar foto jatuh dan menempel di kaki kanannya. Hellen seketika mengernyit saat netranya menangkap sebuah tulisan yang ada di lembaran foto bagian belakang. Perlahan bibir wanita itu bergerak membacanya.
“Masih mencintaimu hingga detik ini di hidupku.”
DEG!
Hellen tak kuasa untuk menunduk dan mengambil foto itu. Seketika fotonya melotot saat mendapati wajah seorang wanita yang familiar di foto itu. Sally dengan selimut yang membungkus tubuhnya juga rambutnya yang terlihat acak-acakan. Di foto itu tertulis tanggal dan tahun yang sudah cukup lama. Hellen merasa foto itu diambil saat Sally tengah menjalin asmara dengan suaminya dan … fakta itu … fakta bahwa sebelumnya Sally pernah tidur dengan suaminya semakin membuat d**a Hellen terasa terbakar.
Hellen langsung terduduk lemas di atas lantai. Ia menangis meraung-raung. Apa gunanya ia menjaga kehormatannya selama ini sampai akhirnya ia menikah. Ia serasa memperoleh laki-laki sampah dan berhasil menjamah tubuhnya.
Padahal dulu sebelum bertemu Mico, Hellen adalah tipe perempuan yang begitu menjaga jarak dengan kaum pria, pun tak mau ia disentuh-sentuh apalagi sampai menjalin hubungan asmara. Bisa dibilang, Mico adalah pria pertama yang mendapatkan dirinya. Pria yang ia pandang begitu sopan itu ternyata adalah seorang b******n tengik dan kotor. Pria mana yang bisa dianggap baik-baik jika pernah melakukan hubungan badan dengan wanita sebelum menikah?
Bahkan kini hanya memegang pakaian-pakaian suaminya saja, Hellen merasa jijik. Ia pun bangkit kembali dan bergegas menuju halaman belakang kemudian melempar pakaian yang ia bawa ke dalam kobaran api yang kini membesar kembali. Kobaran api itu melahap semua benda yang ia buang bersaman dengan rasa cinta Hellen terhadap Mico yang menghilang menjadi asap dan tertiup angin.
Klunting!
Bunyi pesan masuk di gawai Hellen. Pesan dari kontak nama bertuliskan ‘kakak tersayang’ pada aplikasi w******p-nya. Harusnya Hellen tak perlu membukanya, namun dengan hatinya yang sudah berceceran, tangan wanita itu menekan pesan masuk tersebut. Secepat kilat, beberapa foto berhasil terdownload secara otomatis juga sebuah video yang sudah menampakkan adegan syur di bagian depan.
“Cih! Merasa bangga kau jalang? Kau pikir aku akan sakit hati, hah?!” Setelah berhasil melihat foto-foto syur Sally dengan Mico, kini tanpa ragu, Hellen membuka video yang ia yakini berisi adegan panas. Dalam video itu tergambar jelas bagaimana keduanya kembali melakukan perbuatan menjijikkan dan itu mereka lakukan setelah meninggalkan apartemen ini.
“Benar-benar manusia sinting!” umpat Hellen. Seketika sepintas ide pintar muncul di otaknya. Hellen yang sejatinya memiliki banyak teman di dunia maya juga berteman dengan sosial media Sally pun langsung mengupload video panas itu, baik di IG, f*******:, maupun di Twitter miliknya yang semuanya ia tag nama Sally dalam postingannya itu. Tak lupa ia juga memberi caption yang ia pastikan bisa menghadirkan para penghujat Sally di dalamnya. Apalagi Sally adalah seorang model, tentu video panas itu akan membuat citranya rusak.
“Dasar Bodoh!” maki Hellen dengan senyum licik yang tersungging di bibirnya. Sayangnya satu hal yang belum membuatnya puas. Mico tak memiliki satu pun akun di sosial media. Sial!
***