“Kamu yakin, Hellen pulang malam?”
“Yakin, Honey. Aku baru aja berkunjung ke butiknya. Katanya dia mau ketemu klien dulu,” sahut seorang wanita yang sejak kedatangannya ke rumah minimalis ini langsung duduk di pangkuan sang tuan rumah dan kini menggunakan tangannya untuk membelai wajah rupawan pria di depannya yang sudah bertelanjang d**a.
“Aku … belum siap untuk ketahuan,” ucap pria yang merupakan sang tuan rumah, yang kini menggeram saat wanita yang duduk di pangkuannya mulai menggoyangkan pantatnya.
Gerakan wanita yang tak lain adalah Sally itu seketika berhenti. “Kenapa? Kamu takut berpisah dengan istrimu?” Sedikit kesal, Sally berucap lalu membuang wajah.
“Hei, dengar.” Pria yang memangku Sally itu menangkup wajah wanita yang merupakan kekasihnya dan mengarahkannya tepat ke arah wajahnya. “Aku justru takut dia membencimu atau menyakitimu.” Pria itu melabuhkan kecupan singkat pada bibir Sally.
“Aku tidak takut. Asal kamu memilihku bukan dia.”
“Kamu meragukanku?”
“Siapa tau, kamu berubah pikiran setelah setahun menikah dengannya.”
“Oh astaga!” Pria yang tak lain adalah Mico itu terkekeh saat menyadari raut wajah cemburu wanita yang sangat dicintainya itu sejak SMA. “Hellen mungkin hanya mendapatkan ragaku, tapi kamu mendapatkan ragaku juga cintaku. Semua yang ada pada diriku adalah milikmu, My Sweety.”
Tak membuang waktu lama, kini kedua pasang kekasih yang tidak halal itu saling menyalurkan kerinduan. Bunyi decapan lidah mereka menjadi bukti bahwa mereka tengah melakukan hal yang jelas-jelas melanggar aturan Tuhan. Sally terlihat bernapsu melakukannya pun disambut sangat baik oleh pria yang diam-diam telah mengkhianati janji pernikahannya itu.
Ya, Mico merupakan pacar Sally. Mereka dipertemukan kembali secara tidak sengaja di sebuah toko roti saat Mico hendak membeli brownies pesanan istrinya sepulang ia bekerja.
Mico yang awalnya merasa sudah melupakan Sally, ternyata benih-benih cintanya kembali tumbuh dengan subur. Pria itu merasakan kembali debaran jantungnya yang tak normal saat bertemu Sally. Debaran yang sebelumnya tak pernah ia rasakan pada istrinya yang ia nikahi karena sebuah perjodohan.
Ya, Mico dan Hellen memang menikah karena dijodohkan kedua orangtua mereka. Saat itu, Mico hanya merasa cocok ketika terlihat dalam pembicaraan dengan Hellen di pertemuan awal mereka. Selain itu, ada sisi dalam diri Hellen yang begitu mirip dengan Sally. Mereka sama-sama mudah tersenyum dan tidak berbicara dengan gaya pongah. Hal itulah yang meyakinkan Mico menyetujui perjodohan dengan istrinya itu tanpa berpikir terlalu lama. Dan selama satu tahun menjalin pernikahan dengan Hellen, Mico pikir sudah mencintai istrinya itu. Akan tetapi, nyatanya hal tersebut dipatahkan begitu saja saat sosok Sally kembali hadir dalam hidupnya.
Sejak awal Mico berpacaran dengan Sally, orangtuanya tidak pernah memberi restu. Mengingat, bagaimana orangtuanya, terutama sang ibu yang begitu tahu bahwa Sally merupakan keturunan dari seorang wanita yang menyelingkuhi suaminya. Juga, penampilan Sally yang berpakaian terbuka. Sebagain orangtua, mereka khawatir bahwa Sally akan memberikan pengaruh yang buruk bagi Mico, putra semata wayang mereka yang berusaha mereka didik agar kelak memiliki masa depan yang cerah.
Waktu itu, Mico berusaha meyakinkan orangtuanya bahwa sosok Sally jauh berbeda dengan sosok ibunya juga Sally adalah wanita baik-baik meksipun penampilannya terkesan ‘nakal’. Namun, baik ayah ataupun ibu Mico tetep bersikeras tak merestui bahkan memaksa Mico untuk putus dari kekasihnya itu. Jadilah Mico dan Sally merajut kasih secara diam-diam. Puncaknya saat kuliah semester lima, sang ibu memergoki Mico jalan berdua dengan Sally di sebuah pusat perbelanjaan. Jadilah setelah itu, Mico diboyong pindah oleh kedua orangtuanya ke Bandung.
Ini sudah keempat kalinya, Sally datang ke rumah Mico, lalu melakukan percintaan panas dengan pria yang wanita itu klaim sebagai kekasihnya, tepatnya di saat adik tirinya-Hellen- tidak berada di rumah.
Mico sendiri selalu membeli bed cover dengan motif dan warna yang sama, guna menyembunyikan jejak percintaan dirinya dengan sang kekasih tercinta di ranjang yang sama, yang biasanya ia gunakan untuk bercinta dengan istrinya.
Mico selalu tak pernah puas saat bercinta dengan Sally. Pria itu begitu menggilai tubuh sang kekasih yang begitu liar di atas ranjang. Sayangnya, ia bukan pria yang pertama merenggut mahkota milik kekasihnya itu. Kata Sally, ia pernah tak sadar menyerahkan mahkotanya saat mabuk dalam rangka perayaan keberhasilannya sebagai seorang model-profesinya sekarang. Namun, cinta yang sudah membutakan mata hati Mico, membuat pria itu tak menjadikan masalah perihal kevirginan kekasihnya.
Kini Sally dan Mico sudah berada kembali di atas kasur yang berada di kamar utama rumah ini. Melakukan hal terlarang yang lebih jauh lagi dari yang tadi, dimana tubuh keduanya sudah tak tertutupi kain apapun dan membuat kasur yang mereka tempati berderit.
Brak!
Baik Mico dan Sally dengan kompak menoleh ke arah pintu saat mereka mendapati sosok wanita yang sama-sama mereka kenal tengah menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
“Ap-apa-apaan ini?!”
Sally segera bangkit dari posisinya dan berupaya memakai pakaiannya yang sudah berceceran di atas lantai. Namun, sebelum wanita itu menutup kemolekan tubuhnya dengan sempurna, wanita yang tak lain adalah Hellen segara mencekik leher Sally dengan kuat.
Uhuk! Uhuk!
“Hellen! Lepaskan!” Mico yang sudah memakai kolor, segera mendatangi istrinya dan berusaha melepaskan tangan sang istri yang mencekik leher kekasihnya.
“Dasar, wanita m*rahan!” geram Hellen sembari memberikan tatapan nyalang pada kakak tiri yang begitu dikaguminya itu, yang justru membuat amarah Mico menggelegak.
“Hellen! Kubilang lepaskan!” Mico pada akhirnya merangkul pinggul Hellen dan menarik tubuh wanita itu dari belakang. Usaha Mico akhirnya berhasil. Ia kemudian melempar tubuh istrinya itu ke samping-berhasil membuat tubuh sang istri yang rapuh itu tersungkur di atas dinginnya lantai keramik.
“Kau tidak berhak mengatai kekasihku yang tidak-tidak!” bentak Mico yang menatap nyalang ke arah Hellen.
“Ke-kasih? Mas, aku ini istrimu!” Hellen menepuk dadanya sendiri dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Ya, hanya sebatas istri di atas kertas. Kau tahu? Selepas bercinta, aku selalu memberikanmu vitamin? Apakah kau tak pernah menyadarinya, jika yang kuberikan adalah pil pencegah kehamilan?”
Ucapan Mico benar-benar membuat Hellen seperti disambar petir. “P-pil, pil KB?”
“Ya! Dasar bodoh! Aku tak sudi keturunanku lahir dari rahimmu,” cerca Mico.
“M-mas, ini … ini Mas seharusnya tak sejahat ini padaku.” Hellen tak lagi bisa membendung air matanya apalagi saat melihat pria yang satu tahun ini terlihat sangat mencintainya itu menghampiri kakak tirinya dan memeluknya erat.
Melihat pemandangan memuakkan di depannya, Hellen segera bangkit lalu memukul-mukul punggung suaminya bertubi-tubi seraya berseru, “Lepasin dia, Mas. Jangan peluk! Mas, nggak boleh peluk wanita mana pun kecuali Hellen!”
“Minggir!” Hanya dengan satu tangannya, Mico mampu membuat tubuh Hellen terdorong ke belakang.
Hari ini, untuk pertama kalinya, selama satu tahun pernikahannya, Hellen mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya-hanya untuk wanita yang … yang sudah Hellen anggap seperti malaikat dalam hidupnya.
Hellen melihat Mico berjalan keluar dari kamar dengan Sally yang masih berada dalam pelukan suaminya-seolah-olah pria itu takut Hellen akan menyakiti kekasihnya kembali.
Hellen pun segera berlari dan berhenti di hadapan sepasang kekasih tersebut.
“Kak Sally, aku mohon, jangan ambil suamiku, Kak. Aku mohon.” Masih dengan air mata yang terus mengalir di pipi Hellen, wanita itu menggenggam tangan Sally sembari memohon. Mungkin hanya Hellen lah istri terbodoh di dunia ini yang mau memohon-mohon pada wanita yang biasa disebut sebagai pelakor itu hanya untuk mempertahankan rumah tangganya.
Sally menatap kedua manik mata adik tirinya itu. Jika saja … jika saja kekasihnya bukanlah pria yang menikah dengan adik tirinya itu, maka ia selamanya tak ingin menjadi seorang pelakor.
“Aku nggak bisa, Len. Aku … cinta sama Mico, Mico pun cinta sama aku. Gimana kalau kamu yang pisah aja sama Mico? Kasih Mico ke aku. Biarin aku bahagia sama Mico.”
***