Bab 1 Perjodohan Keluarga
PRANG...!
“Apa?” pekik Alana dengan terkejut hingga sebuah gelas yang ada dalam genggamannya terlepas dan membuat keributan yang otomatis menghentikan pekerjaan Mita, Ibunya, yang sedang menyusun kue-kue dalam wadah.
“Lana....” tegur Mita dengan lembut walau ia melihat wajah Alana yang memerah menahan amarah dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu... Apa maksud, Ibu? Kenapa Ibu mengambil keputusan itu secara sepihak tanpa berbicara dengan Lana lebih dulu, Bu?” sela Alana yang kini berurai air mata.
Dengan menghela napas perlahan, Mita berjalan mendekat pada Alana dan membimbingnya untuk duduk.
“Lana, maafkan Ibu jika Ibu terpaksa memutuskan hal itu tanpa persetujuan Lana lebih dulu. Tetapi, Lana pasti paham kenapa Ibu meminta hal ini pada Lana. Ibu lakukan ini demi Lana dan juga Arka. Arka butuh seorang Ibu, Sayang. Dan kau yang paling pantas dan bisa untuk menjaganya,” papar Mita seraya mengelus pipi Alana yang basah oleh air mata.
“Tapi, tidak dengan menikahi Mas Rangga, Bu. Lana akan bekerja keras untuk menjaga Arka, tanpa perlu menikahi Mas Rangga, Bu,” elak Alana masih bersikeras dengan pendiriannya.
“Sayang, mengertilah, Nak. Arka masih terlalu kecil, dia juga masih butuh Rangga di sisinya. Arka baru berumur tiga tahun, Lana....”
“Mbak Elvira juga baru setahun meninggal, Ibu! Bagaimana mungkin Lana harus menikahi suaminya? Mas Rangga juga pasti akan menolak perjodohan ini, Bu. Sejak dulu dia nggak suka sama Alana,” sela Alana memotong ucapan Ibunya walau masih dengan nada lembut.
“Yang benar saja, Lana. Bagaimana mungkin kamu bisa menjaga Arka tanpa ikatan resmi dengan Rangga? Apa kata orang nantinya? Itu tetap saja nggak pantes! Kamu itu perempuan dewasa dan dia laki-laki dewasa yang bahkan pernah beristri....”
“Ya, dan istrinya adalah kakak Alana sendiri, Bu. Apalagi Mbak Elvira belum genap setahun meninggal, Bu. Bagaimana mungkin Lana harus menikahi kakak ipar Lana sendiri, Bu....” ulang Lana dengan terbata-bata.
“Lana, ini semua demi Arka. Arka sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, Nak. Dan kaulah Ibu yang selama ini selalu menjaganya, pikirkanlah baik-baik, Lana. Ibu yakin kamu pasti mengerti,” ucap Bu Mita seraya menggenggam erat tangan Alana.
“Ibu, permisi, keluarga besan sudah datang, Bu,” ucap Mbok Sumi yang menghentikan perdebatan kecil antara Alana dan Ibunya.
“Ya, sudah, siapkan minumannya ya, Mbok. Biar saya ke depan untuk menyambut mereka,” ucap Bu Mita bangkit dari duduknya dan beralih kepada Alana, “Cuci muka dan merias dirilah sebelum Ibu memanggilmu ke depan,” pungkas Bu Mita sebelum akhirnya meninggalkan dapur untuk menuju ruang tamu.
Namun bukannya bersiap, Alana malah beringsut memeluk Mbok Sumi yang terpaku menatapnya yang sedang menangis.
“Ya Allah, Gusti. Sabar ya, Nduk. Sabar cah ayu....” hibur Mbok Sumi seraya mengelus kepala Alana yang terbungkus oleh hijab.
“Bagaimana mungkin Lana harus menikah dengan kakak ipar Lana sendiri, Mbok? Lana nggak bisa, Mbok? Lana nggak bisa....” gugu Alana dalam isaknya.
Belum sempat Mbok Sumi menjawab segala keluh kesah Alana, wanita bertubuh gemuk itu dikejutkan oleh suara panggilan Bu Mita disusul oleh derap langkah kaki anak kecil yang berlarian ke dalam rumah.
“NANA....NANAAAAA....” pekik suara anak kecil laki-laki, melengking membelah suasana hening dalam rumah dan membuyarkan segala sentimental Alana dan Mbok Sumi.
“Arka?” tegur Alana saat melihat Arka yang berlarian dengan wajah berbinar-binar dan sangat senang.
“NANAAAAAA....!” pekik Arka dengan histeria dan perasaan yang terlihat sangat bahagia.
Bahkan Arka melompat tanpa ragu-ragu ke dalam pelukan Alana dan membuat Alana yang masih duduk itu terhuyung ke belakang dan membuat Alana memekik tertahan.
“Holleeee.... Ketemu Nana! Main sama Nana!” pekik anak laki-laki kecil itu kegirangan dalam pangkuan Alana.
“Arka, nanti kalau jatuh gimana? Nggak boleh lari-larian seperti itu ya,” tegur Alana dengan mimik wajah berpura-pura marah pada Arka. Namun, membuat anak kecil itu malah terkekeh senang.
“Ayo, main, Nana! Alka mau main sama Nana! Ayo....!” pekik Arka yang serta merta turun dari pangkuan Alana dan menarik-narik tangan Alana untuk bermain bersamanya.
“Iya deh, iya,” sahut Alana menuruti permintaan Arka yang terus menarik-narik tangan Alana.
Alana mengikuti Arka yang berjalan tergesa-gesa menuju ruang baca, yang lalu menunjuk salah satu buku bacaan yang bersampul tebal.
“Oh, mau baca buku dongeng lagi?” ucap Alana seraya meraih buku itu dari rak buku dan lalu duduk di sofa bersama Arka yang terlihat sangat antusias.
“Apa ini?” tanya Arka seraya menunjuk sebuah gambar kepiting raksasa dalam sampul buku itu.
“Ini adalah kepiting raksasa, dia monster merah raksasa yang suka mencapit anak-anak yang nakal,” sahut Alana menjelaskan seraya menggerakkan jari-jarinya membentuk capit dan mencubit kecil tangan Arka serta menggelitiknya hingga membuat Arka terkekeh geli.
“Monstel melah laksasa,” ucap Arka dengan menyisakan tawa gelinya dan membuat Arka berlarian untuk menghindari kejaran Alana yang berpura-pura menjadi kepiting raksasa itu.
Dengan tawa gelinya, Arka yang berusaha menjauh dan bersembunyi, menabrak sepasang kaki jenjang yang tiba-tiba muncul di tengah pintu dan membuat tubuh kecil Arka terjatuh ke lantai.
“ARKA...!” pekik Alana terkejut bukan main saat melihat Arka terjatuh dan memekik kesakitan.
Alana yang berlarian untuk menolong Arka, bertepatan sepasang tangan kekar meraih tubuh kecil Arka yang ada dalam rengkuhan Alana. Akibatnya tangan laki-laki itu pun memeluk punggung Alana.
Untuk sesaat keduanya hanya saling menatap bingung satu sama lain, sampai suatu ketika terdengar tangisan Arka di tengah keduanya dan membuyarkan lamunan mereka.
“Mas Rangga? Oh, Arka! Arka....!” pekik Alana saat ia menyadari sesuatu dan menjauh dari dekapan tangan Rangga.
Rangga berdeham untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka dan bergegas beralih pada Arka yang menangis dalam pelukan Alana.
“Sudah, sudah, jangan nangis, ya. Tadi pasti kaget ya tiba-tiba menabrak Papa ya?” hibur Alana seraya mengelus punggung Arka yang rebah dalam pelukannya.
“Memangnya kenapa sih? Kenapa dari tadi aku dengerin kayaknya Arka jerit-jerit gitu?” tanya Rangga yang akhirnya membuka suara.
“Itu, nggak, Mas. Sebenarnya tadi mau baca buku dongeng, terus kita main kejar-kejaran aja,” sahut Alana yang masih memeluk Arka yang mulai tenang tanpa berani menatap wajah Rangga yang masih berdiri di depan pintu.
“Arka, yuk sini sama Papa. Kalau Arka sudah ngantuk, sini bobo sama Papa, nggak usah lari-larian gitu,” ajak Rangga pada Arka.
Melihat Arka tak bergeming, membuat Rangga mengulangi ucapannya seraya mengulurkan tangannya pada Arka yang kini menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
“Ndak mau, Alka mau bobo sama Nana!” elak Arka dengan wajah cemberut yang langsung membuat Rangga menatap dengan marah.
“Arka! Sekali lagi Papa panggil, Arka nggak mau nurut....” ancam Rangga seraya mengacungkan jari telunjuk pada Arka yang sontak membuat anak kecil itu semakin mengeraskan suara tangisnya.
“Mas, cukup, Mas. Arka masih terlalu kecil untuk ....”
“Alana, dia anakku. Aku tak mau jika dia menjadi anak pembangkang,” sela Rangga dengan mencoba meraih tubuh kecil Arka yang mengeratkan pelukannya pada Alana.
“Mas, hentikan, setidaknya tunggu dia lebih tenang,” elak Alana menjauh dari jangkauan Rangga.
“Siapa kau? Apa hakmu melarangku untuk mengambil Arka?”
“AKU BIBINYA DAN SEKALIGUS IBUNYA! AKU AKAN SELALU MENJADI IBUNYA!” pekik Alana dengan kesal dan membuat Rangga membeliak tercenung untuk sesaat sebelum akhirnya Mama Rossa datang dengan tawa bahagia.
“Wah, akhirnya Alana setuju menikah denganmu, Rangga? Mama senang kau berhasil meyakinkan Alana. Baguslah kalau begitu. Tadi, Mama, Papa dan Bu Mita, juga keluarga besar Bu Mita sudah sepakat bahwa Minggu depan adalah hari pernikahan kalian,” tegas Mama Rossa dengan senyum mengembang di wajahnya yang masih terlihat cantik di usianya yang telah tak muda lagi.
Alana tersentak tak percaya, “Apa? Minggu depan?”