Bab 2 Surat Perjanjian

1098 Words
“Apa ini, Mas?” tanya Alana menatap sebuah map yang terbuka dengan lembaran kertas yang diketik. “Kamu nggak bisa baca atau gimana? Jelas-jelas itu judulnya gede banget, SURAT PERJANJIAN!” sahut Rangga dengan ketus. Untuk sesaat Alana hanya menatap Rangga seraya menghela napasnya tanpa berkata-kata, ia tak mau memperpanjang kelelahan sepanjang hari itu dengan perdebatan yang terjadi. Alana meraih selembar kertas itu untuk di bacanya, sesaat ia membeliak terkejut dengan apa yang sempat dibacanya, sebelum akhirnya Rangga merebut kembali kertas itu dari tangannya. “Sudah, tanda tangan aja. Toh, kita udah nikah,” sela Rangga seraya memberikan sebuah pulpen di atas meja, “Kamu nggak usah khawatir. Kita hanya menikah di atas kertas demi Arka. Status ini diperlukan karena Arka masih terlalu kecil untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi dan aku terlalu sibuk dengan semua hal yang bertele-tele,” ucap Rangga menatap tajam pada Alana yang lebih banyak menundukkan wajahnya. “Di situ tertulis, aku tetap akan menafkahimu dengan layak. Anggap aja kamu bekerja di sini menjaga Arka, nggak lebih. Jadi, kamu nggak perlu takut aku akan mengganggumu dari yang nggak semestinya.... Ah...aku nggak akan menyentuhmu! Seujung kuku pun, jika itu yang kamu takutkan!” tandas Rangga bangkit dari duduknya dengan gelisah saat Alana menatapnya dengan pandangan tak mengerti. “Sudahlah, aku mau ganti baju dan keluar rumah. Malam ini aku nggak akan pulang, jadi, kamu nggak usah nungguin aku, tidur aja di kamarmu sendiri, terserah kau pilih kamar yang mana pun yang kau suka, asal bukan kamarku. Aku juga bawa kunci sendiri. Dan masalah Arka, besok malam Mamaku janji akan membawa Arka kemari,” tandas Rangga sebelum akhirnya berjalan menaiki tangga lantai dua rumah itu. Lagi-lagi Alana menghela napas dengan berat seraya menatap kepergian laki-laki tampan yang baru beberapa jam lalu berubah status dari mantan kakak ipar menjadi suaminya. Alana kembali menatap lembaran kertas itu. Dan setelah memastikan semua yang tertulis itu sama persis dengan ucapan Rangga, ia pun membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. ‘Jika Mas Rangga benci banget sama aku, kenapa dia mau menerima perjodohan ini? Seharusnya dengan status dia dan pekerjaan dia yang udah mapan, pasti banyak perempuan cantik di luar sana yang mau jadi istrinya,’ pikir Alana seraya merapikan map itu ke dalam laci meja yang ada di kamar kerja itu. Alana menatap foto pernikahannya bersama Rangga yang baru terjadi beberapa jam yang lalu. Ia masih jelas mengingat bagaimana Rangga yang sering menatapnya diam-diam namun selalu membuang muka jika Alana membalas tatapannya. Ia masih mengingat dengan jelas senyum Rangga yang menghiasi wajahnya yang tampan itu membuat para perempuan yang kebanyakan tetangganya memandangnya dengan pandangan tergiur namun berbanding terbalik saat mereka menatapnya. Bahkan ia sempat mendengar percakapan di antara mereka yang sempat menuduh Alana yang bisa saja diam-diam mencintai kakak iparnya sendiri bahkan saat Elvira masih hidup. Dan kini keinginannya terkabul saat Elvira meninggal karena sakit yang ia derita dan membuat Elvira mewasiatkan Arka dan Rangga agar dijaganya. ‘Andaikan mereka ada di posisiku, apa mereka bisa menolaknya? Seharusnya sebagai sesama perempuan mereka bisa lebih mengerti, bukan menuduh yang bukan-bukan.' Alana hanya bisa menelan mentah-mentah semua tuduhan itu yang sengaja mereka perdengarkan di hadapan Alana. Dengan tegar dan tabah Alana hanya bisa memasang senyum tipis di wajahnya hingga pesta pernikahan itu selesai. Walaupun pernikahan itu tak semewah pernikahan Elvira sebelumnya, atas permintaan Alana. Namun demikian sepanjang acara itu terasa sangat sakral dan kental dengan nuansa haru serta bahagia di antara kedua keluarga. Lebih-lebih saat semua orang melihat Arka yang duduk di tengah pengantin terlihat sangat bahagia, mereka tak kuasa menahan air mata karenanya. Alana pun tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba meleleh di pipinya, apalagi saat tiba-tiba ia tanpa sengaja menemukan foto Elvira yang tersenyum menatap ke arah kamera di hadapannya. Bingkai foto itu tertelungkup di atas lemari pajangan. ‘Mbak Elvi, maafin Lana, Mbak. Lana tahu Mbak pasti marah sama Lana karena menerima pernikahan ini. Lana nggak berniat merebut cinta Mas Rangga dari Mbak. Sumpah, Mbak. Lana hanya ingin jagain Arka seperti yang Mbak minta waktu itu,’ ucap Lana dalam hati seraya mengelus foto Elvira. ‘Lana nggak akan bisa gantiin posisi Mbak Elvi dihati Mas Rangga, jadi, Lana mohon Mbak jangan marah pada Lana. Lana tahu, Mas Rangga pasti hanya cinta sama Mbak. Lana hanya menuruti permintaan Ibu, Lana nggak bisa menolaknya, Mbak,’ imbuh Lana seraya mengusap air matanya. “Ngapain kamu?” tegur Rangga dan membuat Alana tersentak kaget hingga menjatuhkan bingkai foto yang ada dalam genggamannya. “Oh, Mas Rangga! Anu, aku....” sahut Alana terbata-bata dan segera meraih bingkai foto yang retak itu untuk disembunyikan dari Rangga. Namun demikian, Rangga merebut bingkai itu dari tangan Alana. Untuk sesaat laki-laki tampan itu hanya terdiam sejenak menatap foto Elvira yang telah retak. “Maaf, Mas. Aku nggak sengaja....” gugu Alana dengan suara gemetar ketakutan. Untuk sesaat Rangga menatap Alana dengan tajam sebelum akhirnya ia membawa foto itu pergi dan keluar dengan membanting pintu. Suara gema pintu itu membuat Alana kembali tersentak kaget. “Astagfirullah....” pekik Alana dengan terkejut. Gadis itu berjalan menuju pintu depan untuk menguncinya, apalagi saat ia mendengar deru mobil Rangga yang menjauh dari garasi rumah yang dan terdengar suara pagar yang terkunci. ‘Ini seharusnya menjadi malam pertama kami. Makanya Mama Rossa membawa Arka untuk tinggal di rumahnya sampai besok. Padahal seharusnya biar aja Arka tetap di rumah, biar aku nggak sendirian di rumah sebesar ini,’ keluh Alana dalam hati seraya menatap seluruh penjuru rumah yang baginya cukup besar dan megah. Hingga langkahnya yang tergesa-gesa memasuki kamar tamu yang tak jauh dari rumah itu tiba-tiba terhenti seketika saat mendengar suara ketukan di pagar rumah. “Mas? Mas Rangga?” 'Siapa malam-malam begini? Ini udah jam sembilan lebih?' gumam Alana pada dirinya sendiri seraya kembali mengintip dari korden jendela yang ada di sisi pintu. ‘Perempuan? Siapa perempuan itu?’ pikir Alana dalam hati hendak membuka pintu rumah, namun tangannya terhenti seketika saat mendengar perempuan itu berbicara di telepon genggamnya. “Mas? Mas Rangga, di mana? Kok pagar rumahnya ke kunci? Kamu lupa kalau malam ini aku mau nginep di rumah?” Jantung Alana serasa berhenti berdetak dan kakinya terlalu gemetar untuk sekedar bergerak, ‘Astagfirullah haladzim... Siapa perempuan itu? Kenapa dia mau nginep di sini? Dan mendengar dari ucapannya sepertinya dia tak asing dengan rumah ini. Apakah dia sering menginap di sini? Apakah dia pacar Mas Rangga?’ Masih belum cukup rasa syok yang dialaminya, kini bahkan ia mendengar ucapan perempuan itu yang membuatnya jatuh terduduk dengan lemas. “Di hotel? Hotel mana? Kenapa harus di hotel sih? Nyebelin banget sih kamu, kenapa sekarang baru bilang! Ya, udah aku ke sana sekarang!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD