Bab 3 Kedatangan Mama Rossa

1206 Words
‘Apa ini alasannya Mas Rangga membuat surat perjanjian itu? Ternyata dia udah punya pacar. Tapi...tapi... Kenapa dia nggak nikah aja sama pacarnya? Kenapa dia malah mau nikahin aku? Kalau cuma alasan demi Arka doang, harusnya pacarnya juga tahu ‘kan kalau Mas Rangga itu duda anak satu? Kalau memang perempuan itu beneran serius dan cinta sama Mas Rangga dia pasti terima status Mas Rangga!’ Entah telah berapa lama Alana berjalan hilir mudik dengan perasaan tak karuan. ‘Daripada mereka harus berbuat zina di belakangku seperti ini? Selain dosa besar, seharusnya Mas Rangga juga mikirin masa depan Arka. Dia butuh perempuan, Arka pun butuh seorang Ibu? Kenapa mereka nggak nikah aja kalau memang begitu? Kenapa harus menerima perjodohan dan menikahi aku begini?’ Alana mulai menangis, ‘Toh, dulu dia menikah dengan kakak juga bukan karena perjodohan keluarga. Itu karena mereka pacaran dan saling cinta. Lalu sekarang, kenapa dia mau nikah sama aku kalau dia punya pasangan tidurnya?’ ‘Ya Allah... Astagfirullah.... Ini bahkan malam pertama pernikahan kami. Walau bagaimanapun semua orang berpikir kami akan tidur bersama. Setidaknya, dia di rumah walau kami tidur terpisah. Bagaimana kalau orang tua kami tahu apa yang terjadi dengan malam ini?’ desah Alana seraya mengusap air matanya. Ia menghapus air mata yang kembali meleleh di pipinya saat melihat rangkaian doa dari teman-teman baiknya saat mengomentari foto pernikahannya pagi itu di sebuah media sosial. Apalagi beberapa teman di antara mereka yang sangat tahu persis apa yang terjadi sebenarnya sangat mendukung dan akan selalu membantu Alana dengan segala permasalahan yang ada. “Mbak Nisa...Mas Ibram.... Terima kasih atas doa-doanya, doa yang terbaik juga untuk kalian semua,” ucap Alana seraya mengetik dalam ponselnya. ‘Sudahlah, toh kami hanya menikah di atas kertas. Dia adalah suami kakakku, kakak iparku. Dan aku hanyalah istri pengganti, bukan istri yang sebenarnya. Jadi, terserah Mas Rangga ingin berbuat apa di luar sana. Yang jelas aku akan menyelesaikan tugasku sebagai istri pengganti dan pengasuh Arka. Ya, benar,’ pikir Alana seraya berjalan menuju kamar tamu yang telah ia pilih dan berusaha memejamkan matanya. Namun, sesaat kemudian, Alana terbangun dan terlonjak dari tidurnya, ‘Benar juga! Seharusnya di dalam surat perjanjian itu ada tanggal selesainya, ‘kan? Seperti kontrak kerja! Benar. Besok pagi aku harus mengajukan hal ini sama Mas Rangga. Setidaknya aku tahu kapan pernikahan palsu ini akan berakhir. Setidaknya dua atau tiga tahun Arka udah cukup mengerti walau belum sepenuhnya,’ pikir Alana dengan tekad bulatnya. Alana duduk di tepian ranjang dengan wajah berbinar, ‘Mungkin sebaiknya aku kirim WA aja. Dan aku akan tulis sendiri dalam surat itu sebagai tambahan. Tulis tangan juga cukup, biar Mas Rangga nggak perlu repot-repot mengetik lagi,’ pikir Alana seraya mulai mengetik dalam ponselnya. ‘Paling dia akan membalasnya besok siang, atau mungkin nggak sama sekali sampai dia balik ke rumah. Tapi, nggak apa-apa, setidaknya biar aku bisa tidur dengan tenang malam ini,’ pikir Alana seraya menekan tanda kirim di dalam ponselnya. Dengan perasaan lega, Alana kembali merebahkan tubuhnya di atas pembaringan setelah melepas hijab rumahan yang ia pakai. Namun tanpa disangka-sangka, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar terbuka dengan kasar di susul dengan suara deru mobil memasuki garasi rumah. ‘Loh? Apa Mas Rangga udah pulang? Bukannya dia malam ini nggak pulang?’ pikir Alana seraya kembali mengenakan hijabnya dengan tergesa-gesa dan bergegas keluar kamar. Bertepatan Rangga telah membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. “Mas? Assalamualaikum... Mas udah pulang?” tegur Alana dengan kebingungan. “Cepat masuk kamar dan jangan banyak tanya,” perintah Rangga tanpa mengabaikan salam Alana. Melihat ada kemarahan di wajah dan sikap Rangga, Alana kembali memasuki kamar tamu yang ada di belakangnya tanpa bicara lagi, dan hal itu membuat Rangga menghela napas dengan berat. “Ngapain kamu ke situ? Kubilang cepat masuk kamar!” tegur Rangga dengan tegas dan membuat Alana memutar tubuhnya dengan wajah kebingungan. “Ini...kamarku... Masuk ke kamar ini ‘kan, Mas? Bukannya tadi, Mas bilang aku boleh milih kamar yang lain ....” “Kamar utama. Kamar di atas sana!” pekik Rangga menunjuk ke kamarnya dengan tegas. Namun demikian, hal itu membuat Alana semakin kebingungan hingga terdengar deru mobil yang berhenti di luar rumah. “Ah, sialan! Cepat sini!” pekik Rangga segera menggandeng tangan Alana dengan tergesa-gesa menaiki tangga rumah dan memasuki kamar utama miliknya. Dengan napas terengah Alana menahan sakit di kakinya karena terantuk anak tangga yang ia lewati. Alana menggigit bibirnya menahan rasa ngilu di kakinya sampai akhirnya mereka berdua memasuki kamar. “Pura-puralah kau tidur di sini. Karena Mama dan Papa malam ini menginap di rumah, Mama bilang Arka terus menangis meminta pulang. Aku tahu, ini pasti akal-akalan Mama untuk tahu apa yang kita lakukan malam ini. Dan aku nggak mau siapa pun tahu apa yang terjadi, termasuk tentang surat perjanjian itu,” papar Rangga dengan tegas. “Oh, ya. Di mana surat perjanjian itu?” sambungnya sambil menatap Alana yang masih mengatur napasnya yang terengah-engah. “Di...Di laci meja kerja,” jawab Alana dengan gugup, bertepatan terdengar suara Mama Rossa memanggil-manggil nama Rangga seraya mengetuk-ngetuk pintu rumah. “Udah sana, cepat tidur,” perintah Rangga seraya menutup pintu kamar bahkan sebelum Alana membuka mulut untuk menjawab. Sepeninggal Rangga, Alana duduk di tepian ranjang itu dengan gugup dan canggung. Ia menatap ke sekeliling kamar itu yang terasa sedikit lebih lebar namun tak banyak hiasan atau ornamen di dalamnya. Hanya ada meja kerja di ujung kamar dan sepasang kursi serta sofa panjang di sisi lain. ‘Ini bukan kamar yang dulu ditempati Mbak Elvira selama Mbak Elvi masih hidup. Aku ingat benget, dulu kamar Mbak Elvi penuh dengan foto-foto dirinya dan Mas Rangga, juga ada lemari pakaian dan lemari pajangan,’ pikir Alana yang akhirnya teralih saat ia menaikkan kakinya untuk merebahkan diri di ranjang ia merasakan ngilu yang luar biasa di kakinya. ‘Ya Allah, sakit banget! Kayaknya tadi kesandung tangga, ya?’ pikir Alana membuka sebagian besar roknya ke atas hingga memperlihatkan betis kakinya yang kuning langsat dan mulus untuk memeriksa luka lebam merah di atas pergelangan kakinya, bertepatan Rangga membuka pintu kamar dan melihat semua itu. Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain dalam diam hingga sesaat kemudian Alana menyadari ke mana tatap mata Rangga beralih dan membuang muka dengan cepat. “Oh, ya Allah! Maaf, Mas. Ada apa, Mas ke mari?” tanya Alana dengan suara gugup seraya merapikan roknya untuk menutupi kedua kakinya dengan sempurna. “Nggak. Cepat tidur. Mama mau naik ke kamar sebelah,” sahut Rangga tanpa melihat ke arah Alana yang kini telah beringsut menjauh hingga menempel di dinding kamar. Dan tanpa menjawab lagi, Alana bergegas mendekam di balik selimut tebal yang ada di atas pembaringan. Sementara Rangga menutup pintu dari luar tanpa berkata apa pun. Dan benar saja, baru saja Alana merebahkan dirinya membelakangi pintu kamar ia mendengar suara pintu kamar kembali di buka diikuti oleh suara Rangga yang memprotes. “Nah, ‘kan? Mama lihat sendiri dia sudah tidur sejak tadi. Dia kecapek’an, Ma,” ucap Rangga dengan menghela napas pasrah. “Ya, seperti yang kamu bilang, kayaknya Alana memang terlalu capek ngelayanin kamu, wajar sih ini malam pertama pengantin. Lihat aja, saking capeknya dia bahkan sampai lupa membuka kerudungnya sebelum tidur,” sahut Mama Rossa dengan senyum mengembang di bibirnya yang lalu meninggalkan kamar itu, “Kamu pikir kamu bisa membohongi, Mama?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD