Pagi itu Alana sarapan bersama dengan canggung di hadapan Rangga dan kedua orang tuanya. Masih segar dalam ingatannya semalam bagaimana ibu mertuanya itu menyindirnya yang terlupa melepas hijab sebelum tidur hingga ia mendapat tatapan tajam dari Rangga.
“Apa tidurmu nyenyak, Sayang?” tanya Mama Rossa dengan senyum mengembang di wajahnya yang cantik kepada Alana yang sedang meneguk air putih di hadapannya dan pertanyaan itu sontak membuatnya terbatuk-batuk karena terkejut.
Sebab ia masih mengingat dengan jelas bagaimana susahnya ia untuk sekedar memejamkan mata karena ada Rangga di sisi ranjang yang sama dengannya. Walaupun ia berbaring di ujung ranjang terjauh, namun tetap saja gemetar tubuhnya yang ketakutan terasa oleh Rangga. Dan mau tak mau membuat Rangga harus berpindah tidur di sofa. Namun demikian Alana tetap saja tak bisa tidur dengan tenang.
“Aduh, pelan-pelan minumnya, Nak,” sambung Mama Rossa seraya menepuk tangan Rangga untuk membantu Alana, “Itu bantu istrimu, Rangga. Gimana sih kamu,” tegur Mama Rossa beralih pada Rangga yang dengan enggan mengelus punggung Alana dengan lembut.
Merasakan sentuhan mendadak itu membuat Alana semakin tersedak karenanya untuk beberapa saat, hingga ia mengangguk-anggukkan kepalanya kepada Rangga tanda ia baik-baik saja.
Alana berdeham tak nyaman, “Maafkan saya, saya...terlalu terburu-buru minum....” ucap Alana kepada kedua mertuanya dan beralih pada Rangga, “Terima kasih, Mas, saya udah nggak apa-apa,” imbuhnya dengan canggung pada Rangga yang menggumam perlahan seraya melahap lauk di piringnya.
Mama Rossa menyentuh wajah Alana yang terlihat kuyu seperti menahan kantuk dan lelahnya. Merasakan perlakuan lembut itu membuat Alana terdiam canggung untuk sesaat, apalagi Rangga pun menatap ke arahnya.
“Mulai hari ini, akan datang seorang asisten rumah tangga untuk membantumu di rumah ini, Lana. Mama nggak mau kamu kecapek’an mengurus rumah sebesar ini sendirian. Mama maunya kamu fokus aja mengurus Rangga....”
“Mengurus Rangga?” sela Rangga memotong ucapan Mamanya yang sontak melepaskan pandangan seriusnya pada Alana dan beralih pada Rangga.
“Ah, maksud Mama, Arka. Mengurus Arka, Mama salah ngomong,” sahut Mama Rossa yang diikuti oleh tawa renyahnya.
“Ya, tentu saja juga ngurusin kamu, Ngga. Kalian ‘kan suami istri, tentu aja saling mengurus satu sama lain,” sambung Papa Rizwan dengan wajah bercanda yang lalu di susul dengan tawa renyahnya, seolah semua yang ia bahas adalah hal yang cukup lucu. Namun berbanding terbalik dengan Rangga yang terlihat tak suka.
“Rangga udah terlalu tua untuk diurusin, Pa. Papa pikir Rangga masih bocah sampai harus diurusi pembantu,” sahut Rangga dengan mencebik acuh seraya kembali menyuapkan sesendok penuh makanan ke mulutnya.
Hal itu membuat Papa Rizwan menatapnya dengan tajam untuk sesaat, sebelum akhirnya laki-laki itu menghela napas panjang, “Ya, ya, kau memang terlalu tua untuk jadi laki-laki yang bisa disebut berguna....”
Ucapan Papa Rizwan terhenti seketika saat tangan istrinya menggenggam lengan laki-laki paruh itu dengan lembut dan menggelengkan kepalanya agar suaminya tak memulai perdebatan saat itu, bertepatan mereka mendengar suara jeritan Arka dari dalam kamar tamu yang terbuka.
“Oh, Arka! Dia pasti menangis kalau bangun tidur nggak ada orang di sampingnya. Maafkan saya, Ma, Pa, Mas, saya harus permisi....” ucap Alana segera meninggalkan meja makan bahkan sebelum semua menjawabnya.
Gadis itu tergesa-gesa menuju ke arah sumber suara yang berasal dari dalam kamar tamu yang berada tak jauh dari ruang tamu. Dan dengan bergegas Alana menggendong Arka yang terbangun dari tidurnya.
“Oh, Sayang... Cup cup...Sayang.... Ada apa? Udah, udah ya,” hibur Alana sambil memeluk Arka yang masih setengah mengantuk.
“Nana.... Nana....” gugu Arka di sela isak tangisnya seraya merapatkan pelukannya pada Alana.
“Arka mimpi buruk ,ya? Udah ya, ini ada Nana. Udah, ya....” bujuk Alana seraya mengelus-elus kepala dan punggung Arka yang masih menyisakan tangisnya walau kini mulai lebih tenang dari sebelumnya.
Dan benar saja, tak butuh waktu lama, Arka pun kembali terlelap dalam pelukan Alana. Namun demikian, Alana enggan meletakkan Arka kembali ke kasur. Karena walau bagaimanapun dengan menjaga Arka ia bisa terlepas dari suasana canggung perdebatan pagi itu.
‘Ini baru sehari, gimana hari-hari ke depannya nanti? Sampai kapan aku akan sanggup menghadapi semua ini?’ pikir Alana seraya menimang-nimang Arka yang bersandar pada pundaknya.
‘Oh, benar juga. Hari ini aku harus mencari waktu berdua dengan Mas Rangga untuk membicarakan masalah surat perjanjian itu. Semoga dia setuju jika aku mengajukan masa selesai perjanjian itu,’ pikir Alana dengan tekad bulatnya.
Namun untuk sesaat, tatkala ia menatap Arka yang mengerang dalam pelukannya membuatnya tersadar akan satu hal, jika ia berhasil bercerai dari Rangga, apakah Arka akan baik-baik saja dengan istri baru Rangga, yang notabene akan menjadi Ibu tiri Arka? Apakah perempuan itu bisa bersikap baik dan menyayangi Arka sebagaimana anaknya sendiri?
‘Enggak. Enggak mungkin! Mana ada perempuan yang mau dan rela dengan senang hati merawat anak peninggalan istri pertama suaminya? Mana ada....’ pikir Alana seraya menciumi wajah Arka yang rebah di pundaknya dengan penuh kasih sayang.
‘Perempuan semalam.... Siapa pun dia, sepertinya dia udah terbiasa tinggal di rumah ini sebelumnya . Apa mereka punya hubungan setelah Mbak Elvi meninggal? Atau bahkan sebelumnya? Astagfirullah... Ya Allah, maafkan aku, aku nggak bermaksud menuduh Mas Rangga macam-macam di luar sana. Tetapi, kenapa dia menerima perjodohan nggak masuk akal ini daripada menikahi pacarnya?’ Alana menghela nafas panjang.
‘Mungkin Mama Rossa dan Papa Rizwan menjodohkan dia sama aku karena berpikir Mas Rangga nggak punya pacar. Kalau aja dia mengaku mungkin pernikahan ini nggak akan pernah terjadi. Aku masih nggak habis pikir kenapa dia mau menikahiku jika hanya demi Arka?’
Tanpa sadar Alana menghela napas untuk ke sekian kalinya dengan wajah sendunya. Hingga semua lamunannya buyar seketika saat menyadari sosok Rangga berdiri di tengah pintu dan menatapnya dalam-dalam.
“Harusnya biarin aja dia bangun. Biar dia latihan bangun pagi. Kalau kamu terus manjain dia, dia nggak akan bisa mandiri saat sekolah nanti,” tegur Rangga pada Alana yang masih memeluk Arka.
“Dulu, Arka selalu bangun subuh, Mas. Itu kalau dia tidurnya lebih awal waktu. Mungkin semalam dia nggak nyenyak tidurnya,” jawab Alana dengan menimang Arka kembali saat ia mendengar Arka bergumam dalam tangisannya kembali.
“Suka-suka kamulah. Lagi pula sekarang ini, Arka adalah pekerjaan dan tanggung jawabmu, jadi, urus pekerjaanmu sebaik mungkin....”
“Mas Rangga nggak perlu ngingetin Lana buat ini, karena....” sela Alana dengan tegas namun tiba-tiba ia ragu-ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Karena apa?” desak Rangga yang kini melangkah memasuki kamar itu dan berdiri di hadapan Alana.
“Nggak, Mas. Maksudku.... Dulu Arka ‘kan sering dibawa ke rumah, jadi aku sedikit banyak paham tentang Arka,” jawab Alana menatap Rangga sepintas lalu.
‘Aku nggak mungkin bilang kalau dari sejak dulu Mbak Elvira hampir tak pernah mengurus Arka karena kesibukannya, aku yang selalu mengurus Arka bersama Ibu. Apalagi jika Mas Rangga harus keluar kota,’ pikir Alana dalam benaknya.
Rangga menyunggingkan senyum tipis di wajahnya yang tampan, “Ya, baguslah. Walau bagaimanapun kau harus sadar posisimu. Anggap aja kamu kerja di sini dan kamu itu hanya istri di atas kertas. Istri Pengganti, kau paham?”