Bab 5 Alana Sakit

1115 Words
Rangga membalikkan tubuhnya yang hendak pergi, kembali menghadap Alana. “Oh, ya,” tambahnya seraya berdiri dengan canggung dan melangkahkan kakinya semakin mendekat pada Alana. “Tetapi, setidaknya berpura-puralah sedikit menjadi istri yang sebenarnya, yang baik pada suami, jika di hadapan Mama dan Papa. Jangan permalukan aku seperti semalam,” bisik Rangga dengan suara lembut namun menusuk. Hal itu mau tak mau membuat Alana mengangkat wajahnya untuk menatap Rangga dengan mengernyit heran. “Kamu nggak lepasin kerudungmu sebelum tidur, setidaknya biarkan mereka mikir kalau kita sudah melakukan malam pertama,” cecar Rangga dengan suara mendesis. “Mak...sud...Mas Rangga apa?” gugu Alana tak mengerti dan mau tak mau ia pun balas menatap wajah Rangga dengan mengernyit kebingungan. “Mama dan Papa tahu kalau kita belum melakukan apa pun semalam. Jadi, mereka ingin menginap lebih lama di sini sampai memastikan bahwa kita benar-benar saling menerima. Jadi, mulai malam ini kita harus tidur dalam satu kamar yang sama,” pungkas Rangga dengan tegas dan seolah menahan kesal. “Tapi...tapi....” gugu Alana semakin terlihat kebingungan. Rangga meraih kerudung panjang yang tergerai di pundak Alana. “Jangan menatapku seperti itu. Salah siapa semalam,” sindir Rangga yang mengentakkan kerudung itu dari tangannya sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar. Alana terduduk dengan lesu. Ia kembali menidurkan Arka yang kembali pulas dalam balutan mimpinya. Gadis cantik berkerudung itu menghela napasnya dengan pasrah. ‘Baru semenit yang lalu dia bilang aku hanya istri di atas kertas, hanya istri pengganti, tapi semenit kemudian, dia minta aku jadi istri yang sebenarnya di hadapan Mama dan Papa,’ keluh Alana dalam hati. ‘Ya Allah... Apa sih maunya? Gimana juga aku harus bersikap? Toh, pasti Mama dan Papa juga paham, bahwa pernikahan ini terjadi karena perjodohan, bukan atas dasar saling cinta. Lalu, kenapa harus dipaksakan untuk harus saling dekat satu sama lain dalam waktu sesingkat ini?’ desah Alana dalam hati seraya memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut dengan tiba-tiba. Alana menatap wajah pulas Arka dalam tidurnya, rasanya ia ingin sekali merebahkan dirinya di sisi Arka, karena ia tahu segala denyut yang berada di kepalanya sebagai akibat ia sepanjang malam hampir tak bisa memejamkan matanya karena mengetahui adanya Rangga yang tidur dalam satu kamar yang sama. ‘Gimana ini? Sampai berapa hari Mama dan Papa harus tinggal di sini? Baru semalam aja kepalaku pusing banget karena susah tidur,’ keluh Alana mulai gelisah. “Alana, kenapa kamu nggak balik ke meja makan? Nasimu sudah dingin,” tegur Mama Rossa memasuki kamar bertepatan wanita itu melihat Alana yang sedang memegangi kepalanya. “Iya, Ma. Ini Lana baru mau ke sana,” jawab Alana seraya bangkit dari duduknya. “Apa kau sakit?” tanya Mama Rossa beringsut memegang pundak Alana dengan tatapan khawatir. “Ti...tidak, Ma. Hanya... Mungkin hanya kecapek’an aja, Ma,” sahut Alana dengan senyum tipis di wajahnya yang cantik. “Ya sudah, sebaiknya kamu sekarang makan dan minum obat, mumpung Mama masih di sini, biar Mama yang menjaga Arka. Kamu jangan khawatirkan Arka,” perintah Mama Rossa kepada Alana dengan nada lembut. “Oh, iya, Lana. Tadi suamimu meminta untuk menyiapkan baju, dia mau ada meeting siang ini,” ucap Mama Rossa pada Alana yang hendak keluar kamar. Dengan mengangguk patuh, Alana segera berjalan menuju kamar tidur mereka yang ada di lantai dua. Sepintas lalu, ia melihat meja makan yang telah rapi, hanya sisa makanannya yang ditutup oleh tudung saji. ‘Sebaiknya aku menyiapkan keperluan Mas Rangga lebih dulu, agar aku bisa makan dengan tenang,’ pikir Alana seraya menapaki anak tangga dengan bergegas walau untuk sesaat ia merasakan tubuhnya mulai limbung. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya, Alana membuka pintu kamar dan langsung menuju kamar ganti yang ada di sisi kamar mandi. Bertepatan saat itu Rangga keluar kamar mandi dengan tergesa-gesa dan masih mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Sama-sama terkejut dengan pertemuan itu, membuat Alana sontak menjerit dan memutar tubuhnya untuk menghindari melihat Rangga yang masih dalam keadaan setengah telanjang. Akan tetapi, sebagai akibatnya membuat Alana limbung dan hampir terjatuh di lantai. “ALANA!” pekik Rangga menangkap tubuh Alana dan tanpa sadar mendekapnya. Alana yang berpikir ia akan jatuh, membuka mata dengan terkejut saat mendapati jaraknya dengan Rangga sangat dekat. Bahkan telapak tangannya kini tanpa sadar telah berada di d**a Rangga yang keras dan berotot. Untuk sesaat mereka saling memandang satu sama lain, seolah tersihir oleh sesuatu yang tak terlihat. Lebih-lebih wangi aroma sabun yang masih menguar dari tubuh Rangga seolah membekukan pancaindra mereka, hingga pintu terbuka dengan terburu-buru. “Ada apa? Ada apa dengan.... Ooooww....” Pekikan panik Papa Rizwan berubah drastis dengan rasa terkejut sekaligus senang dan malu saat melihat posisi Alana yang berada dalam dekapan Rangga yang setengah telanjang. Dan seolah mengetahui apa yang terjadi, Papa Rizwan segera menutup pintu. “Pa....” ucapan Rangga terputus saat Papa Rizwan kembali membuka pintu dengan tergesa-gesa dan mengambil kunci dari balik pintu. “Meetingnya batal!” ucap Papa Rizwan seraya mengunci pintu kamar dengan terburu-buru. Menyadari posisi mereka yang salah, Rangga segera mendorong tubuh Alana dengan kasar, bahkan membuatnya sempoyongan hampir terjatuh. Seolah laki-laki itu begitu jijik dengan Alana. “Kenapa kau ke mari? Bukannya kamu sedang di kamar Arka?” tegur Rangga menjauh seraya membuka pintu lemari dengan kasar. “Aku mau siapin baju buat, Mas. Katanya Mas mau ada meeting,” sahut Alana dengan suara lemah dan berjalan terhuyung menuju tepian ranjang. Rangga menatap Alana dari balik kaca lemari, “Urus aja dirimu sendiri, kamu nggak perlu ngurus aku. Toh, aku juga udah terbiasa mengurus segala sesuatunya sendirian,” ucap Rangga seraya mengambil beberapa baju dan bergegas menuju kamar ganti. Alana hanya diam menatap Rangga yang menghilang di balik kamar ganti. Wanita cantik itu duduk bertelekan tepian ranjang, ia merasakan kepalanya bukan hanya berdenyut-denyut namun juga berputar. Suara Rangga yang berbicara dari dalam kamar itu pun lambat laun tak terdengar di telinga Alana. Hanya terdengar seperti dengungan suara lebah yang hilang muncul dan timbul tenggelam. Hingga suara itu terdengar sangat dekat di hadapan Alana. “Kamu denger nggak sih?” tegur Rangga yang tiba-tiba ada di hadapan Alana yang tersentak dari duduknya yang terkulai. “Kenapa, Mas?” gugu Alana menatap bingung dan membeliak terkejut pada Rangga. Rangga yang hendak membuka mulutnya untuk marah, berubah sesaat ketika menatap wajah pucat Alana. Laki-laki tampan itu menguyup wajahnya dengan gusar dan menghela napas dengan kasar. “Papa benar-benar kelewatan. Kubilang, kau berusahalah memanggil Papa atau Mama. Kalau nggak telepon Mama. Aku harus meeting ketemu klien penting sekarang. Cepetan!” perintah Rangga dengan menahan gusar. Dengan menahan getaran di tubuhnya, Alana berusaha bangkit berjalan mendekat ke arah pintu dan berusaha mengetuk-ngetuk pintu kamar. Namun belum sempat Alana membuka suara untuk memanggil mertuanya, tiba-tiba gelap menyergapnya dan membuat tubuhnya limbung. Alana jatuh terkulai di lantai. “ALANA...!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD