Bab 6 Gara-gara Mimpi

1113 Words
Alana terbangun dengan tersentak kaget, jantungnya berpacu cukup kencang seperti seseorang yang habis berlari. Ia menghela napas dengan berat seraya melihat ke sekelilingnya dan ia menemukan kamar yang sepi. ‘Astagfirullohaladzim... Apa aku ketiduran?’ gumam Alana seraya mencoba bangkit dari tidurnya bertepatan Mama Rossa datang memasuki kamar seraya membawa air putih hangat di atas nampan. “Alana? Kau sudah bangun?” tanya Mama Rossa bergegas duduk di sisi ranjang setelah meletakkan nampan itu di sisi tempat tidur. “Syukur deh, demammu juga sudah turun,” imbuh wanita itu seraya menyentuh kening Alana yang sedikit berkeringat. “Demam? Apa yang terjadi, Ma?” tanya Alana dengan suara lemah. Mama Rossa tersenyum seraya meletakkan nampan itu di atas meja yang ada di samping tempat tidur. “Kamu lupa? Tadi pagi kamu pingsan?” sahut Mama Rossa dengan wajah keheranan, “Suamimu teriaknya udah kayak apaan tahu. Seharian dia kerjaannya nungguin kamu aja, nggak mau ke mana-mana. Ini juga kalau Mama nggak usir dia makan di bawah, dia nggak akan makan,” papar Mama Rossa dengan wajah serius, namun lagi-lagi membuat Alana mengernyit heran. ‘Mas Rangga jagain aku?’ pikirnya dengan menahan bingung. “Kenapa bingung? Kata dokter, kamu stres dan kelelahan. Ya, mungkin karena acara pernikahan yang mendadak dan serba terburu-buru. Makanya, kamu jadi begini,” papar Mama Rossa dengan senyum prihatin. “Maafkan Mama, mungkin secara nggak langsung Mama dan keluarga Mama sudah membuat Alana tertekan ....” Alana menggelengkan kepalanya tipis-tipis. “Nggak, Ma. Alana mungkin memang kecapekan dan kurang tidur aja,” sela Alana dengan suara lemah seraya membalas genggaman tangan Mama Rossa padanya seolah ingin menenangkan mertuanya itu. Mama Rossa menghela napas dengan lega dan mengangguk, “Ya sudah, ini sudah waktunya makan malam. Biar Rangga yang membawakannya untukmu.” “Di mana Arka, Ma?” tanya Alana seketika teringat Arka dan membuat Mama Rossa menghentikan langkahnya. “Ada sama Kakeknya, dia juga seharian nangisin kamu, apalagi ngelihat ada dokter datang. Tapi, sekarang dia sudah tenang karena lagi makan es krim tuh,” papar Mama Rossa terkekeh kecil dan melenggang meninggalkan kamar. ‘Ini sudah malam? Lama banget aku pingsan? Ternyata aku pingsan, tapi tadi rasanya kayak beneran. Astagfirullah.... Apa sih yang kupkirin? Walaupun mas Rangga sekarang jadi suamiku, itu cuma status semata, nggak mungkin dia suka sama aku,’ desah Alana dalam hati seraya mengusap pipinya yang terasa panas. ‘Tapi kenapa aku malah mimpi kayak gitu? Sumpah malu-maluin banget, ya Allah,’ keluh Alana menghela napas dengan pasrah seraya menggeleng tipis-tipis seolah ingin membuang sebuah gambar yang terpampang di benaknya. Sampai ia harus memegangi keningnya agar bayangan itu menghilang dari sana. Namun nyatanya semakin ia berusaha menghilangkan gambaran itu, gambaran mimpi itu semakin jelas, apalagi kini sosok Rangga nyata berdiri di hadapannya. “Makan dulu,” ucap Rangga dengan tiba-tiba hingga mengejutkan Alana yang tersentak dari duduknya. Walau sempat mengernyit heran, namun laki-laki berbadan tinggi, tegap itu kini duduk di tepian ranjang dengan nampan di pangkuannya. Dan membuat Alana membeku dalam diam. Terlintas kembali mimpinya beberapa saat yang lalu bagaimana bibir sensual Rangga itu menyentuh pipi dan bibirnya dengan lembut dan bahkan dengan nakal ia menarik-narik bibir Alana dengan giginya seolah ingin memainkan bibir pucat Alana. “Kamu bisa ‘kan makan sendiri?” lanjut Rangga seraya menatap Alana dengan tatapan dalam dan tajam. Alana mengangguk tanpa menjawab dan berusaha menghindari menatap wajah Rangga lebih lama lagi. Hingga Rangga meletakkan nampan itu di atas pangkuan Alana. “Terima kasih, Mas,” ucap Alana seraya mengambil sendok yang berada di atas nampan beralaskan tisu makan. Rangga hanya menggumam pendek sebagai jawabannya, namun ia tak segera beranjak pergi meninggalkan Alana. Untuk sesaat Alana menatap Rangga dan seolah memahami maksud Alana, Rangga mengangkat alisnya. “Mama memintaku mengawasimu makan. Kalau aku tinggalin kamu sendirian, kamu pasti nggak akan buru-buru makan,” ucap Rangga seolah menjawab pertanyaan yang tersirat di wajah Alana yang kini memerah. Dengan tangan gemetar Alana menyendok bubur itu dan mulai memakannya. Namun, karena Rangga masih tak lekang menatapnya sedemikian rupa membuat Alana semakin dalam menundukkan wajahnya. ‘Kenapa Mas Rangga ngeliatin terus sih? Ya, walaupun disuruh ngawasin tapi kan ....’ Keluhan Alana dalam hati langsung buyar seketika saat tiba-tiba ia melihat tangan Rangga terulur meraih rambut panjangnya yang menjuntai karena gerakannya menunduk dan hal itu membuat Alana tersentak kaget hingga tersedak. Dan ia pun baru menyadari bahwa ia tak memakai kerudungnya karena kini rambut lurusnya yang panjang dan hitam legam itu ada dalam genggaman tangan Rangga. “Mana ikat rambutnya? Tadi hampir masuk ke buburmu,” ucap Rangga dengan wajah aneh dan mengerutkan keningnya. “Maaf, Mas. Aku nggak tahu kalau kerudungku dibuka....” “Ya, gimana nggak dibuka? Mama borehin minyak ke perutmu ke...ke... badanmu gimana? Tadi, dokter juga bilang sebaiknya dibuka aja,” sela Rangga seraya membuang muka. “Dokter? Apa dokternya laki-laki?” kejar Alana panik seraya merapikan rambut panjangnya untuk digelung. “Nggaklah, ya kali dokter laki-laki, gini-gini aku juga tahu!” sahut Rangga dengan ketus dan membuat Alana membeku diam seraya menggenggam kerudung yang telah ia temukan. Untuk sesaat mereka saling menatap mata dalam diam, hingga Alana segera merapikan rambutnya dan memakai kerudung instannya di hadapan Rangga. Semua tak lekang dari tatapan Rangga yang kini semakin tajam menatapnya. Hal itu membuat jantung Alana berdetak kencang bukan main, apalagi kembali terlintas kembali bayangan mimpinya beberapa saat lalu. Alana semakin terlihat tak nyaman dan canggung di hadapan Rangga. “Walau gimana pun aku ini suamimu, Lana. Suka atau nggak,” ucap Rangga dengan mendekatkan wajahnya pada wajah pucat Alana. “Mak...sud, Mas?” gugu Alana tak mengerti dan menatap Rangga dengan heran. “Apakah wanita berkerudung tetap pakai kerudung walau di rumah saat bersama suaminya?” imbuh Rangga dengan suara mendesis tajam. “Ah, ya. Kau benar-benar menganggapku orang lain ya? Itulah kenapa kau selalu rikuh dan risi kalau ada aku?” desak Rangga pada Alana yang mulai membuka mulut untuk menjawab, namun seketika terdiam saat Rangga terus mencecarnya. “Ya, mungkin emang aku bukan laki-laki yang pantas untuk perempuan yang selalu suci sepertimu,” desis Rangga makin tajam, lebih-lebih tatap matanya yang sangat tajam menusuk relung hati Alana. “Apa maksud, Mas Rangga?” gugu Alana tak kuasa lagi berkaca-kaca dan hendak menangis dan membuat Rangga menyunggingkan senyum miring di wajahnya yang tampan. “Kamu yang paling tahu apa yang aku maksud. Jadi, nggak usah pura-pura nangis. Basi, tahu nggak!” pungkas Rangga mendesis tajam dan menjauhkan wajahnya dari wajah Alana yang pucat pasi menahan amarah dan syok. Sebulir air mata menetes membasahi pipi Alana saat menatap Rangga yang meninggalkannya dengan senyum getir dan penuh kepahitan di wajahnya. ‘Apa maksud Mas Rangga sebenarnya? Apa salahku sampai dia benci banget sama aku? Ya Allah, apa salahku, Mas?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD