Malam telah larut tatkala Alana menatap canggung pada Rangga yang sedang mengunci pintu kamar. Dan Rangga yang menyadari arti tatapan Alana itu menghentikan langkahnya menuju sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya yang kini terisi oleh Alana.
“Kenapa? Apa kau mau tiba-tiba Mama atau Papa datang membuka pintu seperti tadi pagi dan ngelihat kita tidur terpisah?” ucap Rangga yang melontarkan pertanyaan yang tak perlu dijawab oleh Alana.
“Aku nggak mau nambah-nambah masalah dengerin omelan Mama dan teguran Papa. Cuma karena hal sepele selalu jadi panjang,” imbuhnya seraya membuka selimut yang tertata rapi di atas sofa.
Namun demikian, Alana menguatkan hatinya untuk menjawab walau pada akhirnya semua akan berakhir dengan ucapan ketus Rangga.
“Sebenarnya, kalau Mas mau tidur di kasur juga nggak apa-apa,” sahut Alana dengan suara lemah dan canggung.
Rangga menyunggingkan senyuman miring di wajahnya yang berjambang tipis, “Terus kamu tidur di sofa, gitu? Walau bagaimanapun aku ini laki-laki yang punya perasaan. Setidaknya perempuan sakit harus tidur di tempat yang lebih nyaman,” sahut Rangga seraya membaringkan dirinya di atas sofa yang telah lengkap dengan bantal dan selimut.
“Aku bisa tidur dengan Arka di kamar Arka....”
“Arka tidur di kamar orang tuaku. Sudah, cukup. Tidur sana. Aku mau kerja pagi,” sela Rangga seraya merebahkan dirinya membelakangi Alana yang masih duduk bersandarkan kepala ranjang dan membuat Alana menghela napas panjang.
Tanpa banyak bicara, Alana pun mematikan lampu meja yang ada di sisi ranjang dan perlahan merebahkan dirinya dengan tak enak hati karena melihat kaki Rangga yang panjang menekuk akibat panjang sofa yang tak mencukupi untuk kaki jenjangnya. Dan itu terlihat tak nyaman di mata Alana.
Alana memegangi kerudung yang telah ia lepaskan dari kepalanya dan mendekapnya dalam pelukannya.
‘Kalau memang Mas Rangga benci banget sama aku, kenapa aku harus mimpi seperti itu? Lihat aja, dia semakin hari semakin nunjukin rasa bencinya terus. Ya Allah, mikir aja aku nggak berani, kenapa bisa sampai mimpi gitu sih? Astagfirullah....’
Alana membalikkan badannya memunggungi Rangga, setelah ia menghela napas panjang. Ia menutupi dirinya dengan selimut hingga hampir menutupi lehernya yang kini terbuka tanpa kerudung yang selalu menutupinya.
‘Dulu bahkan selama menikah dengan almarhum Mbak El, aku hampir nggak pernah bicara sama dia. Mas Rangga tinggi gede begitu, sama Mbak Elvi sebenarnya cocok. Mbak Elvi bisa ngimbangin tingginya Mas Rangga. Kalau sama aku, rasanya aku kelelep, mana orangnya jutek banget begitu. Hiiih...serem... Bisa-bisanya Mbak El dulu cinta mati sama dia, heran deh. Sekarang malah aku tiba-tiba jadi istrinya,’ keluh Alana dalam hati hingga lagi-lagi tanpa ia sadari ia kembali menghela napas berat.
‘Seingatku dulu, dia masih bisa senyum walau kami hampir nggak pernah bicara. Boro-boro bicara, nyapa juga enggak. Dan dia juga lebih aneh lagi, bisa-bisanya dia mau nikahin aku? Walau demi Arka juga, tapi tetep aja kalau dipikir-pikir pernikahan ini tuh nggak masuk akal,’ gumam Alana seraya kembali merentangkan kakinya dan menatap langit-langit kamar.
‘Mau curhat juga sama siapa? Temen-temen udah pada kerja di luar kota semua. Dan, lagi pula pernikahan ini terlalu mendadak, bahkan para tetangga sempat bergosip jangan-jangan aku hamil duluan dengan Mas Rangga! Astagfirullah....’ Lagi-lagi Alana menghela napas panjang dan kali ini hampir melontarkan gumaman istigfar dari bibirnya yang mungil.
‘Padahal....’
“Bisa diem nggak?” tegur Rangga dengan suara berat. Alana tersentak dari tidurnya dan membekap mulutnya tak percaya.
‘Apa Mas Rangga bisa denger pikiran aku?’ pikir Alana dengan kebingungan, namun demikian ia memberanikan diri untuk bertanya.
“A... Ada apa, Mas? Aku diem kok,” sahut Alana terbata-bata dan takut-takut.
“Kamu pikir dari tadi kamu ngapain? Tidur berisik, hah huh hah huh aja dari tadi, gosrak gosrek aja, bisa diem nggak?” omel Rangga yang kini duduk di sofa, “Ngapain sih? Udah, tidur,” imbuhnya dengan nada menegur.
“Iya, maaf, Mas,” sahut Alana menjawab sekedarnya seraya merapatkan selimutnya hingga hampir menutupi kepalanya dan kembali membelakangi Rangga.
‘Astagfirullah bikin kaget aja sih, aku pikir Mas Rangga beneran bisa dengerin isi kepalaku, sumpah kaget banget aku,’ gumam Alana dalam hati sembari memegangi d**anya yang berdegup kencang.
‘Dia tidur di situ aja udah bikin aku deg-degan, ini lagi, haduuuuh... Please deh, Lana, lebih masuk akal dikit sih jadi orang... Astagfirullah... Ya kali Mas Rangga bisa dengerin isi hati orang. Serem banget bayanginnya, Ya Allah. Cukup. Waktunya tidur, jangan mikir yang macem-macem lagi sebelum tuh orang datengin aku mastiin....’
Namun demikian, benar saja dengan apa yang sedang Alana pikirkan saat itu benar-benar terjadi. Terdengar langkah kaki Rangga berjalan mendekat ke arahnya. Apalagi merasakan embusan napas kasar Rangga yang tak terasa menyapu pundaknya.
Mati-matian Alana menahan diri untuk tak menggigil menahan takutnya dengan menggigit bibir bawah bagian dalam untuk beberapa saat, hingga hawa panas dari tubuh Rangga menjauh dari sisinya.
‘Astagfirullahaldzim... Jantungku rasanya mau berhenti! Serem banget sih, ya Allah... Dia ngapain sih? Astagfirullah... Semoga dia nggak deket-deket lagi ke sini,’ doa Alana dalam hati seraya membuka mata lebar-lebar dan menajamkan telinganya untuk mendengarkan pergerakan dari Rangga.
Untuk beberapa lama ia menunggu, akhirnya ia bisa mendengar suara pergerakan Rangga berganti dengan dengkur halus dan beberapa lama kemudian menjadi dengkur yang cukup keras di telinga Alana.
‘Astagfirullah... Sekarang siapa yang lebih berisik coba?’ pekik Alana dalam hati seraya membenamkan wajahnya di dalam bantal.
Pagi itu Alana terlihat lebih segar dari sebelumnya, sebab pada akhirnya ia bisa tertidur kembali karena reaksi obat yang ia minum sebelumnya, walaupun harus melalui rasa takut karena Rangga. Dan ia sangat lega saat ia mendengar Rangga telah berangkat ke kantor bersama Papanya.
Dan kini Mama Rossa sedang memperkenalkan wanita paruh baya yang kini berdiri dengan sopan dan ramah sebagai asisten rumah tangga yang baru.
“Lana, ini namanya Mbok Darmi. Mulai hari ini Mbok Darmi yang akan menemani kamu menjaga rumah ini. Jadi, kamu nggak usah khawatir. Tadi, Mbok Darmi juga sudah bertemu Rangga dan Papanya,” papar Mama Rossa memperkenalkan keduanya yang langsung saling bersalaman dengan senyum ramah.
Setelah mereka saling berbicara akhirnya asisten rumah tangga itu pun pergi meninggalkan Alana dan Mama Rossa menuju dapur.
“Jadi, hari ini Mama sama Papa akan kembali ke rumah, karena Papa harus check up kesehatan ke rumah sakit lusa nanti,” ujar Mama Rossa yang membuat Alana sontak membeliak terkejut.
“Papa sedang sakit, Ma? Papa sakit apa, Ma?” tanya Alana segera meletakkan baju-baju Arka yang sedang ia rapikan dalam pangkuannya, sementara Arka masih terlelap di kasurnya yang empuk.
“Ya, namanya orang tua ada saja penyakitnya, tapi ini hanya cek rutin aja, nggak ada yang khusus,” sahut Mama Rossa dengan senyum di wajahnya.
“Oh, alhamdulilah kalau memang gitu, Ma. Lana lega dengernya,” ucap Alana dengan senyum lega yang langsung berubah menjadi agak suram saat tiba-tiba Mama Rossa menggenggam tangan Alana.
Dengan tatapan tajam, Mama Rossa pun berkata, “Alana, dengerin Mama,” ucap Mama Rossa dengan wajah serius yang membuat Alana waswas.
“Semua akan Mama berikan padamu, asalkan dengan satu syarat, dalam waktu dekat kau harus mengandung anak Rangga. Jika dalam waktu satu tahun ini kau belum juga hamil apalagi melahirkan, maka kalian harus bercerai!”