Bab 8 Perubahan Sikap Mama Rossa

1157 Words
Alana membeliak terkejut bukan main setelah mendengar ucapan mertuanya itu. Apalagi kini seolah ia melihat wajah lain dari ibu mertuanya yang selama ini selalu penuh senyum ramah dan bijaksana di matanya. Atau memang ini wajah aslinya, Alana pun tak tahu. “Ma...Apa... sebenarnya... Ada apa ini? Kenapa sekarang ada syarat-syarat seperti ini, Ma?” desak Alana dengan suara gemetar. Mama Rossa mendengus seolah menahan kesal, “Kamu nggak perlu tahu, yang jelas karena kamu sudah menjadi istri sah pilihan Rangga, maka jika kau ingin diakui di dalam keluarga Mahendra, kau harus bisa memberikan keturunan pada anakku,” jawab Mama Rossa dengan nada dingin walau tetap dengan suara lembutnya. “Kalau saja kakakmu nggak keburu meninggal mungkin sekarang dia sudah menjadi menantu yang diakui keluarga besar Mahendra. Ya, tapi mau gimana lagi, dia sakit-sakitan dan cepat meninggal,” imbuh Mama Rossa dengan mencebik acuh dan membuat Alana terperangah tak percaya. “Astagfirullah, Ma, kenapa Mama tiba-tiba seperti ini....” gugu Alana mulai berkaca-kaca. “Lagian sebenarnya sejak awal aku kurang setuju dengan pernikahan mereka, mereka menikah dan foya-foya karena permintaan kakakmu yang matre itu. Ya, sebenarnya agak lega juga kakakmu sudah meninggal. Tahu-tahu, sekarang malah Rangga maunya nikahin kamu!” imbuh Mama Rossa dengan menghela napas berat dan Alana membekap mulutnya tak percaya. Mama Rossa bersedekap dengan wajah tegas dan tajam, “Alasan demi Arka, demi Arka, apa sih bagusnya kamu? Makanya sekarang buktikan kalau kamu memang oke, lahirkan cucu laki-laki untukku, baru aku akan mengakuimu sebagai menantu!” Mama Rossa bangkit berdiri, “ Asal kamu tahu, bahkan sampai sekarang pun Mama masih belum mengakui Elvira sebagai menantuku, untung saja Arka mirip banget seperti Rangga, padahal tadinya Mama nggak yakin itu anak Rangga....” “Cukup, Ma. Astagfirullah, Mama....” sela Alana tak bisa lagi menahan emosi dalam dirinya. “Jangan membentak Mama, Alana,” hardik Mama Rossa dengan suara mendesis tajam yang sontak membuat Arka terbangun dan menangis karena terkejut. “Ma, Tolong hormati Mbak Elvi yang sudah almarhum, Ma. Jika memang Mama nggak suka sama saya, cukup lampiaskan sama saya aja, jangan ke Mbak Elvi yang udah meninggal,” ucap Alana dengan nada memohon seraya meraih Arka dalam pelukannya. Mama Rossa menghela napas dengan berat dan mendengus kesal, “Ya ampun, Rossa, hebat sekali kau bisa bertahan sampai hari ini dengan menantu yang seperti ini. Aku capek harus pura-pura menerimamu di depan Rangga dan suamiku,” keluhnya pada diri sendiri. “Seharusnya kalau memang Mama Rossa nggak setuju dengan pernikahan ini, kenapa tetap melanjutkannya? Kalau memang begitu Lana pilih bercerai aja dari Mas Rangga sekarang juga. Jadi, Mama nggak perlu nungguin satu tahun sampai Lana hamil....” Mama Rossa mencengkeram lengan Alana kuat-kuat dan menyela ucapan Alana. Alana memekik menahan sakit. “Nggak! Tunggu! Dengerin, Mama. Apa yang jadi omongan kita hari ini jangan sampai siapa pun tahu, apalagi Rangga. Kalau sampai dia tahu, awas kamu. Pokoknya ikuti saja perintahku dan jangan macam-macam!” ancam Mama Rossa dengan mendesis tajam dan pergi meninggalkan Alana yang masih sibuk menenangkan Arka yang masih menangis dalam pelukannya. Mama Rossa menghentikan langkahnya dan menghadap Alana kembali, “Ingat! Cucu laki-laki, selain laki-laki, kau boleh bercerai dengan Rangga dan pergi membawa anakmu sesukamu,” imbuh Mama Rossa dengan suara lembut namun tajam, sebelum akhirnya meninggalkan Alana yang terperangah tak percaya mendengar semua ucapan itu. “Astagfirullahaladzim... Ya Allah....” gumam Alana berkali-kali seraya menahan isaknya dan menciumi Arka yang mulai tenang walau masih menyisakan sedikit isaknya. ‘Kenapa Mama Rossa bisa berubah sedrastis itu? Astagfirullah... Ada apa ini sebenarnya? Bagaimana mungkin Mama Rossa bisa berubah dalam sekejap mata begitu? Apa memang ini sifatnya yang sebenarnya?’ pikir Alana sekali lagi menahan isaknya dengan terus beristigfar. ‘Aku baru sadar, selama ini aku memang nggak pernah tahu Mama Rossa seperti apa. Mbak El, juga jarang banget cerita tentang keluarga Mas Rangga. Selama ini pun beliau selalu tersenyum ramah dan lembut berbicara, tapi, nyatanya dengan suara lembutnya juga dia mencaci orang yang sudah meninggal dan mengancamku. Apa yang sebenarnya dia inginkan, astagfirullahaladzim....’ Alana tercenung diam untuk sesaat saat ia kembali mengingat rangkaian ucapan dari Mama Rossa, ‘Tunggu, tadi Mama bilang apa? Aku istri pilihan anaknya? Aku pilihan Mas Rangga?’ Alana jatuh terduduk di tepian kasur dengan gontai. Mendengar sebuah fakta yang tak mungkin bisa ia terima mengingat semua kenyataan yang ada, bagaimana Rangga selalu memperlakukannya dengan buruk hingga menganggapnya hanya sebagai istri pengganti semata. ‘Mas Rangga memilihku? Jadi, ini bukan perjodohan keluarga? Ini...ini...kenapa Mas Rangga menginginkan aku? Dia menikahiku tapi dia selalu menyiksa batinku. Apa memang itu yang dia inginkan? Kenapa? Apa salahku?’ Seribu pikiran berkecamuk dalam benak Alana setelah sebuah fakta terlontar begitu saja dari mulut ibu mertuanya. Dan lebih lagi, sebuah syarat yang sangat berat untuknya harus ia lakukan demi sesuatu yang bahkan tak ia inginkan sama sekali. Pengakuan sebagai menantu keluarga Mahendra. Alana kembali menidurkan Arka yang dengan gampang terlelap dalam pelukannya. Ia kembali menitikkan air mata saat ia teringat bahwa bayi laki-laki itu kini harus tumbuh tanpa kasih ibu kandungnya, apalagi saat ia teringat kembali tuduhan pedas Mama Rossa yang dengan tega mencurigai Arka bukan anak kandung Rangga. ‘Jika memang Arka bukan darah daging Mas Rangga, apakah sebenarnya Mas Rangga tahu hal ini, makanya dia menikahiku demi membalas dendam pada Mbak Elvi?’ pikir Alana mulai berargumen dalam hatinya. Alana mengecup lembut wajah mungil Arka, membelai pipi gembulnya yang putih kemerahan, serta rambutnya yang jabrik lurus persis seperti dirinya. Dan saat Alana membelai rambut lembut Arka itulah terbersit sebuah ide cemerlang dalam dirinya. ‘Astagfirullahaldzim... Nggak, nggak mungkin Mbak Elvi seperti itu. Aku benar-benar nggak terima atas tuduhan itu. Ya, benar! Aku harus membuat tes DNA untuk mereka. Dan dengan ini akan membuktikan semua kebenaran dari semua ini,’ pikir Alana dengan tekad bulat. Alana segera pergi ke dapur, mencari gunting untuk menggunting beberapa helai rambut Arka. Namun demikian, langkahnya terhenti saat sayup-sayup terdengar pembicaraan Mama Rossa dengan seseorang dari lorong dapur. “Kenapa kamu baru menghubungi Tante sekarang sih? Seharusnya kamu datang setidaknya sebulan yang lalu sebelum Rangga menikah, Sayang.” Alana tercenung mendengar suara Mama Rossa yang terdengar lain. “Tapi, tenang saja, Tante sudah memberikan syarat seperti yang kamu sarankan, dan dia langsung menyerah,” ucap Mama Rossa dengan tawa renyahnya, “Tinggal Mama yang akan urus Rangga untuk segera menceraikan dia. Tapi, pelan-pelan, ya, Sayang. Tasya pun harus sedikit sabar, ya. Tasya ‘kan tahu Rangga anaknya keras kepala. Jadi, setelah kita buat Alana rusak di mata Rangga, semua pasti beres. Rangga pasti akan kembali pada Tasya. Tante jamin itu!” Lagi-lagi terdengar tawa renyah suara Mama Rossa yang terdengar sangat bahagia di telinga Alana yang kini terlupa dengan tujuan utamanya ke dapur. Ia pun bergegas kembali ke kamar Arka untuk menenangkan dirinya untuk mengambil sebuah keputusan. ‘Jadi ini yang membuat Mama Rossa berubah pikiran dan tega berbuat seperti itu padaku? Baiklah. Mungkin pernikahan ini memang seharusnya tak pernah terjadi. Jadi, aku pun akan berbicara dengan Mas Rangga malam ini. Lebih cepat lebih baik!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD