Aku bukan perempuan sempurna
Aku mungkin juga bukan idaman setiap manusia
Satu yang kutau, hatiku sangat layak untuk menyempurnakan setengah hati yang lain
Karena aku percaya, perasaanku begitu berharga ketika sudah jatuh cinta..
- Sena -
***
Senin pagi terasa berbeda dari biasanya, bagi Sena. Entah apa yang membuatnya mendadak sesemangat itu untuk kembali bekerja setelah libur akhir pekan. Biasanya ia paling malas saat menemui hari Senin. Rasanya jiwa ingin rebahan dan santai-santai saja masih akan menariknya untuk enggan mulai bekerja lagi.
Berulang kali ia melongok ke arah pintu ruangan Kelvin. Tanpa sadar mencari-cari sosok kehadiran pria itu dengan seksama. Namun sayang, yang dinantikan belum kunjung menampakkan diri. Tunggu, kenapa Sena menjadi seprotektif ini pada pria itu? Apa yang sudah terjadi dengannya?
Gadis itu mengutak-atik komputer dengan lemas. Seolah asupan semangatnya sedang ada di titik paling rawan. Mengerjakan tabel-tabel data saja terasa berat sekali. Padahal biasanya ia selalu gerak cepat kalau sudah di hadapan komputer.
"Sena," panggil seseorang dengan suara beratnya. Mirip sekali dengan suara-suara aktor Korea yang umurnya di atas 35 tahun tapi tampang serasa masih 20an tahun.
Benar saja. Ini adalah suara yang sedang Sena nanti-nantikan sejak tadi. Dan tentunya, nalarnya tak menyadari akan perasaannya yang mulai terbuka pada seseorang.
"Ya, Pak?" responnya sangat cepat, bahkan langsung berdiri dan berlari mendekat.
Kelvin di ambang pintu ruangannya agak terheran dengan sikap sigap Sena yang berbeda. Biasanya bila ia yang memanggil, gadis itu hanya akan berjalan santai dan baru menjawab panggilannya ketika tepat berada di hadapannya. Mungkin hanya perubahan sesaat, begitu pikir Kelvin tak mau ambil pusing.
"Sudah kamu kerjakan data-data untuk closingan akhir bulan ini?"
Sena menimbang gundah. Agaknya ia lupa kalau dua hari lagi adalah tanggal akhir bulan. Dan ia harusnya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Terlebih seminggu lalu supervisor yang biasa mengingatkan para adminnya tengah cuti, mungkin sampai sepekan ke depan. Alhasil, hanya tampang cemas bercampur was-was yang bisa ia tunjukkan. Bibirnya kelu untuk menjawab kalau ia belum mengerjakan sama sekali.
"Kenapa diam?"
"Maaf, Pak. Saya baru kerjakan sebagian. Akan saya kejar sisanya hari ini," ujarnya setengah berbohong. Khawatir jika ia jujur belum sama sekali menggarap, bisa kena kata-kata pedas dari Kelvin malah nanti.
"Baru sebagian? Atau belum sama sekali?" Pertanyaan Kelvin membuat nyali Sena makin longsor.
Gadis itu hanya bisa garuk kepala. Ia tak pandai berbohong dengan benar.
"Saya mau lihat yang sebagian kamu kerjakan. Sabtu kemarin admin lain sudah pada mengumpulkan ke saya lewat email. Hanya kamu yang belum."
Lagi-lagi Sena membeku menahan malu. Gara-gara terfokus sesuatu, ia sampai melupakan hal penting begini. Usut punya usut, sejak kemarin Sena sibuk menelusuri segala informasi mengenai Kelvin. Dari mulai profil biodatanya, sedikit silsilah keluarganya, sampai seluk beluk kasus mantan tunangannya yang gagal. Itu pun hanya sedikit ia dapat.
"Maaf, Pak. Saya akan selesaikan hari ini juga," ucapnya penuh sesal.
"Yasudah, segera selesaikan. Saya tunggu sampai besok pagi. Laporan dari kamu sudah harus ada di kotak masuk email saya. Paham?"
Sena hanya mengangguk. Kelvin berlalu masuk ke dalam ruangan. Meninggalkan gadis yang termenung dalam kemelut bingung. Sena tak menyangka kalau Kelvin tak marah sedikit pun padanya.
Seseorang menepuk pundak Sena dari belakang. "Ngapain kamu melamun di depan ruangan kakakku?" seloroh Dion menyapa.
"Cuma diingatkan sama laporan akhir bulan. Kok kamu nggak ingatin aku sih?!" keluh Sena kesal.
"Lhoh, biasanya kan malah kamu yang ingatin aku. Gimana sih?" balik Dion yang menyerang. Memang faktanya demikian.
"Hah? Iya juga ya?" Sena makin pusing. "Taulah. Aku mau kerjain dulu," lanjutnya kemudian kembali ke kubikel tempat kerjanya.
Mau tak mau Sena pun berusaha menyelesaikan semua. Bahkan sampai jam makan siang pun ia tak ikut istirahat. Teman-temannya asik menikmati santapan sementara ia merana seorang diri bertemankan pekerjaan yang mengejar-ngejar minta lekas diselesaikan.
Bukannya peduli dengan perut lapar dirinya sendiri, ia malah penasaran apakah Kelvin sudah makan siang atau belum? Gadis itu berdiri, pegal bukan main di sekitar pundak dan punggungnya sangking kelamaan duduk. Ia memutuskan untuk membuat teh dulu di pantry.
Area pantry bersebelahan dengan ruangan admin. Cukup tertutup dan aman untuk sekadar duduk-duduk sejenak sembari menikmati kopi atau teh dikala penat menyerang. Betapa terkejutnya Sena setelah membuka pintu, dilihatnya sosok pria tampan sedang meneguk secangkir minuman. Dari aromanya jelas itu semacam kopi s**u. Pria itu menoleh ke arah pintu yang terbuka. Sena hanya bisa melayangkan senyum tipis dan berniat berbalik lagi meninggalkan ruangan.
"Mau buat kopi? Masuk saja," tukas Kelvin.
"Mau buat teh, Pak."
Kelvin mengangguk dan mempersilahkan. Sena pun urung untuk berlalu. Ia langsung menjalankan aksinya meracik teh hijau tanpa gula kesukaannya.
"Pak Kelvin nggak makan siang?" tanyanya basa-basi.
"Nggak. Saya jarang makan siang. Paling hanya sarapan dan makan malam, kalau sempat."
"Jangan gitu, Pak. Nggak baik buat kesehatan. Kasihan lambungnya. Adik saya beberapa bulan lalu sampai harus masuk rumah sakit loh, gara-gara terlalu sibuk sama tugas kuliah sampai mengabaikan makan."
"Ya, tergantung juga. Kalau memang nggak kuat ya nggak akan kuat."
"Biasanya terlalu memaksakan diri untuk kuat juga kurang baik, Pak."
Kelvin tak membalas lagi, hanya memandangi Sena sambil mengangguk-anggukan kepala. Sena sadar ia mungkin sok-sokan bicara, ia pun minta maaf bila bersikap lancang.
"Kamu sendiri kenapa nggak ikut makan siang yang lain?"
"Kan harus selesaikan kerjaan saya, Pak."
"Saya memang minta kamu segera selesaikan. Tapi, bukan berarti kamu sampai nggak makan siang."
"Nggak apa, Pak. Sekali saja kok."
Kelvin geleng kepala. Ia duduk di kursi sambil menatap layar ponselnya. Sena sudah selesai dengan teh hijaunya sejak tadi sebetulnya, tapi entah kenapa ia senang berlama-lama di sini.
"Pak Kelvin, boleh tanya?"
"Ya, silahkan."
"Ehm... saya dengar dari Dion, perusahaan yang di cabang sini kan bukan termasuk perusahaan besar Asmaradhana Grup ya, tapi kok Pak Kelvin memilih ke sini? Bukan kah seorang direktur utama sekelas Pak Kelvin biasanya ditempatkan di perusahaan-perusahaan pusat atau yang besar-besar ya? Maaf kalau pertanyaan saya terlalu berlebihan. Saya hanya penasaran."
"Nggak ada alasan khusus sih. Saya cuma pengen menikmati suasana yang beda saja. Lagian, di sini ada Dion juga. Jadi, seenggaknya saya ada teman."
"Oh gitu ya... saya kira betulan gosip-gosip beredar di kantor itu. Soal perusahaan ini mau dijual karena kurang menguntungkan. Padahal saya rasa keuntungan di sini sudah sangat cukup."
"Memangnya ada gosip seperti itu?"
Sena mengangguk. "Iya, Pak. Gara-gara kedatangan Pak Kelvin yang mendadak."
"Kalau mau dijual, bukan saya yang ngurusin. Ngapain saya repot jauh-jauh ke sini segala. Kan ada Dion."
"Iya juga ya, Pak. Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak. Mau lanjutin kerjaan."
Gadis itu permisi, hanya dibalas anggukan oleh Kelvin. Pria itu pun berdiri dan berniat membersihkan gelasnya di wastafel. Baru saja kran diputar, air malah menyembur ke mana-mana. Ia refleks kaget, tapi kemejanya sudah terlanjur sebagian basah.
"Astaghfirullah..." Sena putar balik dan meletakkan gelasnya sembarangan. Ia langsung mendekati Kelvin dan menarik tubuh pria itu agar bisa menjauh dari cipratan air.
Buru-buru Sena melirik ke segala sudut, mencari benda yang bisa ia gunakan untuk menutup tumpahan air dari kebocoran kran. Ia menemukan lap pembersih. Segera dengan sigap berusaha melilitkan ke bagian kran yang bocor. Walau itu artinya ia juga harus merelakan bajunya kena cipratan air. Setelah agak reda, dan air mengalir di bagian tertentu saja, Sena langsung menelepon petugas kebersihan di lantai bawah. Dan memberitahu kendala yang ada. Ia juga meminta tolong agar siapa saja yang bisa membantu membenarkan kran ikut datang.
Usai mengabari pihak kebersihan, Sena kembali fokus pada Kelvin. Pria itu masih sibuk mengusap baju basahnya dengan tisu seadanya.
"Bisa masuk angin nanti, Pak."
"Saya nggak bawa pakaian lagi."
"Ikut saya, Pak." Tanpa ba bi bu Sena menarik lengan atasannya dan mengajaknya masuk ke salah satu ruangan bertuliskan 'Ruangan Khusus.'
Mereka masuk. Kelvin agak heran dengan ruangan ini.
"Ini special roomnya Dion, Pak. Kalau dia malas pulang atau pas lembur biasanya tidur di sini. Ada banyak bajunya di lemari juga," jelas Sena sambil membuka lemari dan memilah-milah pakaian yang sekiranya pas. Kalau untuk ukuran, ia yakin Dion dan Kelvin tak jauh berbeda. Proporsi tubuh mereka hampir sama. Hanya saja Dion agak lebih berotot di bagian lengan. Kalau Kelvin sudah sangat pas sesuai tipikal idaman Sena tentunya.
Pikiran Sena jadi melantur ke mana-mana. 'Mikir apa aku ini? Kok segala ngepasin tipe idaman segala?!' gerutunya membatin.
Gadis itu mengambil salah satu atasan berwarna biru muda dengan list biru gelap di bagian tangan. Itu adalah salah satu kemeja favorit yang disukai Sena. Tapi Dion jarang memakainya karena kurang cocok dengan warnanya, katanya.
"Ini saja ya, Pak? Atau mau pilih sendiri?"
Kelvin tak menolak. Ia hanya menerima sodoran baju dari tangan Sena tanpa protes apapun.
"Kamu ngapain masih di sini?"
"Maksudnya?" Sena mendadak linglung.
"Kamu mau nontonin saya ganti baju?"
Pertanyaan ambigu Kelvin berhasil menghamburkan debaran jantung dalam d**a Sena. Pipi gadis itu memerah seketika. Ia pun lantas bergegas ke luar dan mempersilahkan bosnya berganti pakaian dengan tenang.
Di luar, Sena menepuk-nepuk pipinya sendiri. Berusaha membangunkan kesadaran yang mendadak diselimuti pikiran-pikiran serta khayalan semu nan menggetarkan. Tanpa ia bisa menolak, otaknya seolah memaksa untuk Sena membayangkan sesuatu. Betapa indah bila ia dapat menatap langsung tubuh toples pria di dalam sana.
"Aish! Sadar, Sena! Hidupmu bukan drama Korea!" tegurnya pada diri sendiri.
Beberapa saat berlalu. Kelvin telah selesai dan keluar. Sena menatapnya hampir tak berkedip. Kelvin semakin mempesona dengan pakaian yang sangat disukai Sena. Gadis itu mengacungkan dua jempol dengan gembira. "Pak Kelvin cakep banget pakai baju itu. Pas!" pujinya penuh semangat.
"Kamu yang beliin baju ini buat Dion kan? Apa dia nggak marah kalau saya pakai?"
"Kok Pak Kelvin tau?"
Tak ada jawaban lagi. Mungkin Sena tak tahu sesuatu. Beberapa menit lalu, ketika sedang berganti pakaian, Kelvin menemukan sepucuk kartu ucapan terlipat kecil di bagian saku depan kemeja. Jelas sekali ada nama Sena di situ.
"Itu saya kasih buat kado ulang tahun Dion kapan lalu, Pak. Tapi seingat saya sih cuma dipakai sekali doang. Katanya kurang sreg sama warnanya. Saya malah suka. Kelihatan lebih memancarkan aura sesuatuh gituh, Pak."
"Oh ya? Aura apa?"
"Entahlah, dilihatnya kayak adem dan keren gitu," balas Sena sekenanya. "Yasudah kalau gitu, saya balik lanjut kerjaan dulu ya, Pak. Di kotak obat dekat lemari putih ruangan Pak Kelvin ada tolak angin, kuatirnya Pak Kelvin nggak biasa basah-basahan kan."
Usai mengatakan demikian, Sena pun berlalu menuju kubikelnya. Kelvin tertunduk memandangi kemeja yang ia kenakan. Warna ini sangat ia ingat dalam memorinya, warna yang disukai juga oleh mantan tunangannya. Sejenak melamun, Kelvin kembali memandangi punggung Sena yang hampir tiba di tempat duduknya. Pria itu hanya bisa menghela napas pendek. Entah menyesali sesuatu, atau takut merasakan sesuatu lagi.
&==ISB==&