Aku pernah mencintai tapi tak berhasil memiliki
Aku pernah mempercayai tapi dikhianati
Aku juga pernah memberi kesempayan tapi akhirnya tak satu hati
Luka itu mungkin masih ada, tapi tak mau kubawa mati
Cukup masa laluku yang selesai
- Kelvin -
***
"Pak Kelvin sepertinya orang baik ya, Dion," seloroh Sena di sela kegiatannya mengunyah camilan.
Pria di sampingnya hanya mesem sembari meneliti raut muka Sena yang menurutnya bersemu-semu kemerahan. "Tumben ngebahas kakakku. Ada angin apa nih? Naksir ya?" tukasnya menebak.
"Cuma kagum saja. Kelihatannya di luar datar kayak aspal jalanan. Kadang ngeselin kalau sudah nyuruh-nyuruh. Tapi, di sisi lain, beliau sepertinya penyayang."
"Ya gitulah." Dion mencomot camilan kentang Pringless di pangkuannya. Mengunyahnya sampai menimbulkan bunyi kriuk-kriuk. Pria itu tetap fokus menonton film.
Hari ini mereka sedang menikmati libur akhir pekan. Bila sedang tak ada kegiatan penting, Dion pasti akan merusuh di rumah Sena. Bahkan pagi buta setelah salat subuh biasanya ia sudah gedor-gedor pintu kamar gadis itu. Memaksa Sena untuk menemaninya jogging. Kalau Sena sedang tidak mood, mau tak mau Mila -adik Sena- yang jadi sasarannya. Lalu setelahnya ia tak akan langsung pulang. Memilih mandi dan ganti baju juga di rumah sederhana Sena. Jangan heran kalau banyak baju Dion sengaja ditinggal di sini. Nenek saja tak pernah protes, malah senang serasa punya cucu laki-laki.
"Aku mendadak penasaran."
"Soal?"
"Kenapa sih di kantor kita nggak boleh ada hubungan spesial antar sesama karyawan? Kan itu hak kita-kita. Masa iya jatuh cinta dilarang. Kayaknya kurang masuk akal gitu," ujar Sena heran. Selama ini ia tak pernah peduli dengan peraturan tersebut, tapi entah kenapa sekarang ia malah jadi ingin tahu.
"Sebetulnya bukan berlaku untuk semua karyawan. Terkhusus itu buat atasan atau pemimpin perusahaan. Kami nggak boleh terlibat hubungan dengan karyawan."
"Oh... trus kenapa bilangnya semua karyawan nggak boleh ada skandal? Kayak drama Korea saja kesannya."
Dion terkekeh. "Itu mah melebih-lebihkan aja kali. Dari mulut ke mulut kan jatohnya pasti bakal beda cerita. Intinya sih gitu."
"Berarti para karyawan cuma bisa mengagumi atasannya saja ya?"
"Kamu beneran naksir kakakku? Mau kucomblangin kah?" seloroh Dion tanpa tedeng aling-aling.
"Sembarangan kamu. Aku cuma nanya. Lagian, misalkan aku suka pun, nggak mau dicomblangin sama kamu. Ribet urusannya. Mending usaha sendiri."
"Yakin bisa? Kakakku tuh susah loh orangnya. Hatinya terlalu keras buat ngerasain jatuh cinta."
"Masa sih?"
Dion mengangguk. "Mau denger satu cerita?"
"Tentang kakakkmu? Pak Kelvin?"
"Mau denger nggak?"
Ganti Sena yang mengangguk kilat. Dan seketika wajah Dion berubah rautnya menjadi lebih serius. Pria itu mengisahkan sesuatu. Masa lalu yang membuatnya iba pada nasib Kelvin. Awal mula sebuah peraturan ditegaskan. Juga akhir dari kisah cinta yang kandas dengan cukup tragis. Menurut orang mungkin semua sudah dikubur dan dilupakan begitu saja. Bagi Dion, kenangan pahit itu pastilah masih melekat kuat dalam ingatan Kelvin.
Delapan tahun lalu. Pertunangan Kelvin baru saja dilangsungkan sepekan lalu. Namun siapa sangka, hari pernikahan yang tinggal dua bulan lagi justru malah menjadi bencana bagi perasaannya.
Seorang gadis tergesa berjalan cepat masuk ke mobil, sembari menutupi wajahnya dengan scraft. Kaca mata hitam melekat menutup dua mata sendunya. Topi berwarna marun juga melingkupi kepalanya. Gadis yang biasanya tampil anggun nan jelita itu kini tengah menjadi sorotan para wartawan. Videonya telah tersebar ke mana-mana sejak beberapa jam lalu. Ia adalah Imelda Syavana, seorang mantan artis yang citranya begitu baik di mata publik. Banyak film ia bintangi sukses dan menjadi buah bibir khalayak ramai. Sosok perempuan masa kini yang selalu menggembor-gemborkan akan pentingnya kemandirian serta kesetiaan dalam menjaling hubungan. Ia bahkan rela berhenti dari dunia akting demi memuali hidup baru dengan pasangannya. Sudah hampir setahun ini Imelda memutuskan ikut bekerja di perusahaan Kelvin. Menanggalkan segala hingar bingar dunia keartisannya dan fokus pada kesibukannya sekarang. Akan tetapi namanya tetap dikenal banyak penggemar.
Bukan hanya kecantikannya yang mendatangkan banyak penggemar. Ia senang berbagi dengan sesama, terlebih bila berurusan dengan anak-anak terlantar. Ia baik dan punya prinsip. Semua orang menyebutnya perempuan beruntung. Cantik, baik hati, punya popularitas mengagumkan, dan ditambah ia adalah calon istri dari seorang pengusaha kaya raya, yang mungkin namanya selalu menjadi dambaan setiap perempuan di muka bumi. Apa lagi yang kurang dari hidupnya? Bukan kah semua terlalu indah untuk seorang manusia?
Tapi siapa sangka, semua berubah dalam sekejap. Setelah videonya mulai beredar di internet. Menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Adegan panas yang jelas bukan dengan calon suaminya sendiri, melainkan seorang pria yang ternyata adalah kakak tirinya.
Gadis itu berhasil membunuh citranya sendiri. Bukan hanya penggemar yang menghujatnya kini, bahkan keluarganya pun tak sudi menerimanya masuk ke dalam rumah mereka. Dulu ia dipuji habis-habisan. Kini ia dicaci mati-matian. Imelda terpuruk dengan mata sembab di pojok kursi mobil. Wajahnya tertunduk menyesali segala perbuatannya. Dan nasi sudah jadi bubur, apa yang ia tanam itu pula yang harus ia tuai.
"Di mana Kak Anton sekarang?" tanyanya pada sang manajer yang juga merupakan sahabat baiknya.
"Anton masih belum bisa dihubungi, Mel. Kamu jangan pikirin dia dulu. Pikirkan diri kamu sendiri juga."
"Aku khawatir dia kenapa-kenapa. Kamu tahu kan dia gampang stres."
"Mel, ini bukan saatnya kamu mencemaskan orang lain. Karirmu diambang kehancuran tau! Berapa kali udah kubilang, jangan main api! Kamu malah sengaja terjun ke api itu!" Santi tak tahan lagi. Ia berusaha bersabar menghadapi kegilaan dan kenekatan temannya selama ini. Bahkan ia tak habis pikir, seolah Imelda rela mempertaruhkan segalanya demi pria yang terlarang untuknya.
"Aku cinta sama kak Anton, San. Aku nggak bisa hidup tanpa dia."
"Kamu gila, Mel. Semua udah serumit ini dan kamu masih mikirin cinta-cintaanmu yang nggak masuk akal itu?! Logikamu ke mana?! Selama ini kamu koar-koar bilang ke semua penggemar untuk setia sama pasangan. Kamu sendiri gimana?!"
Hening. Imelda tak kuasa menahan tangisnya. Ia teringat dengan tunangan yang begitu menyayanginya. Dan ia juga yang mematahkan hatinya.
"Aku mau ketemu Kelvin sekarang..." lirihnya putus asa.
"Buat apa? Mempermalukan dirimu sendiri?"
"Aku perlu bicara sama dia. Tolong antar aku ke tempatnya."
Santi tak bisa berkata-kata lagi. Antara marah campur tak tega, ia pun hanya bisa mengintruksi supir untuk menuju rumah pribadi Kelvin.
Di luar dugaan mereka, Kelvin justru menyambut Imelda dengan sebuah pelukan dan raut muka yang begitu tenang. Tidak ada kemarahan tersirat sedikit pun. Sinta heran, entah terbuat dari apa hati pria ini. Belum pernah sekali pun ia mendapati Kelvin marah atau bahkan memaki-maki sahabatnya. Bila bertengkar pun, Kelvin tak pernah membentak atau menaikkan nada bicara pada Imelda. Ia merasa Imelda sudah menyia-nyiakan pria sebaik Kelvin.
Tak mau mengganggu keduanya, Sinta memilih untuk menunggu di ruang tamu. Sementara Kelvin dan Imelda bicara di samping kolam renang.
"Nggak pa-pa. Semua baik-baik saja. Aku sudah suruh orang untuk bantu take down semua video itu. Pihak media juga sudah dihubungi sama timku untuk berhenti menyebarkan berita nggak benar tentang kamu."
"Semua itu benar, Kelvin..." Imelda tertunduk malu. Ia tak lagi bisa berkilah dan terus membohongi pria di sampingnya ini. Selama ini ia bertahan hanya demi permintaan orang tuanya, juga demi nama baiknya. Namun, sekarang ia sadar kalau ia terlalu tamak. Mengorbankan perasaan orang lain hanya demi kepentingan diri sendiri. Rasa bersalah itu sangat menyesakkan dadanya.
Kelvin menghela napas pendek. Ada keputusasaan di matanya. "Lalu, apa mau kamu sekarang?"
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku minta maaf. Aku mengaku salah. Kamu memang sangat sibuk dan jarang punya waktu buatku. Tapi, nggak seharusnya aku selingkuh dan bersikap bodoh begini." Suara gadis itu terdengar bergetar. Kelopak matanya masih memerah akibat tangis yang belum kunjung reda. Masih ada sisa lelehan air mata di pipinya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu? Kita bisa saja selesaikan semua baik-baik. Aku bantu bersihkan nama burukmu. Kita mulai semua dari awal lagi. Aku akan sediakan banyak waktu luang kalau memang itu kendala utama hubungan kita selama ini."
Imelda menggeleng perlahan. "Perasaanku udah berubah, Kelvin. Aku udah nggak ada rasa apa-apa lagi sama kamu. Aku jatuh cinta sama dia..."
"Mel, dia kakakmu."
"Kakak tiri."
Kelvin mengurut kening. Frustrasi, tak habis pikir dengan jalan pikiran Imelda yang sekarang. Gadis yang biasanya pintar dan teliti dalam bertindak, sekali ini malah terjun ke jurang ketidakmasukakalan dengan ulahnya sendiri. Agaknya Imelda telah dibutakan oleh cintanya.
"Orang tuamu sudah menghubungiku. Mereka minta maaf baik-baik. Aku terima. Dan mereka bilang, kamu akan diterima lagi kalau aku memaafkanmu."
"Mereka mengusirku."
"Aku akan tetap menikahi kamu."
Imelda menggeleng. "Jangan bertindak bodoh sepertiku, Kelvin. Kamu boleh sayang sama aku, tapi jangan menggila sepertiku. Aku nggak layak lagi sama kamu. Namaku udah jelek di mana-mana. Kamu punya nama besar yang harus tetap dijaga. Aku tetap pada pendirianku. Kita selesai sampai di sini. Aku benar-benar minta maaf..."
"Mel, kamu masih perempuan yang baik di mataku. Kamu masih seorang Imelda yang rendah hati dan tulus."
Bola mata keduanya bertabrakan dalam satu pandang. Masih ada sisa cinta di mata Kelvin, tapi Imelda menilainya dengan sebuah rasa kasihan semata. Ia tak lagi bisa mengorbankan perasaan Kelvin. Sudah cukup baginya menderita akibat kebohongan yang ia simpan sendiri. Bila terjatuh, cukup ia saja yang jatuh dan terluka. Ia tak akan membawa Kelvin dalam masalahnya.
Dion menghela napas sejenak. Meneguk air mineral di gelas untuk melegakan dahaga. Sementara Sena masih terpaku menelaah cerita yang dikisahkan sahabatnya barusan. Ada perasaan sedih menggelayuti batinnya, sebuah rasa yang ia sendiri bingung memahaminya. Entah itu simpati semata, atau justru ada maksud lain.
"Jadi, Pak Kelvin dan Imelda gimana akhirnya?"
"Putus."
"Putus? Gimana sama Imelda? Orang sebaik pak Kelvin ditolak mentah-mentah? Apa nggak salah?"
"Imel sebetulnya perempuan yang baik. Terbukti kan, bahkan waktu dia terperosok, dia nggak mau kakakku ikutan jatuh. Imel paham betul dunia mereka gimana. Media dan jejak digital itu ngeri. Untung aja dulu masih bisa ditanggulangi. Coba kalau kesebarnya sekarang, di era digital makin membabi buta, lebih berabe urusannya."
"Maksudnya?"
"Sen, kakakku orang penting. Punya kolega-kolega yang nggak kalah penting juga. Kalau ada skandal jelek menyangkut dia, yang ada bisa kebawa ke perusahaan. Itu bakalan makin runyam."
Sena mulai paham. Ia hanya bisa menarik napas sedih. Masa lalu Kelvin menurutnya seperti di sinetron saja. Pelik dan menyakitkan.
"Kamu tahu detail banget ya soal mereka."
"Dari cerita si Santi. Dulu sempat jadi pacarku. Kan dia tempat curhatnya Imelda."
"Kabar Imelda sekarang gimana?"
Dion mengangkat dua bahunya. "Nggak tahu. Terakhir yang aku dengar, kakak tiri yang dia cintai meninggal karena kecelakaan. Habis itu Imel ngilang entah ke mana. Santi juga udah nggak bisa dihubungin lagi, katanya pulang kampung sih."
"Kok aku kayak nggak pernah dengar beritanya ya?"
"Kamu kan kudet parah."
"Iya sih. Aku paling nggak suka baca berita gosip artis. Mending nonton kartun. Apalagi kayaknya waktu itu hapeku masih yang jadul deh. Belum mampu beli android kayak sekarang. Nonton televisi juga hampir nggak pernah, kecuali nonton Marsya and the Bear atau Doraemon."
"Lagian itu berita dah lama banget. Kalau bukan karena koneksi kuat dari kakakku, mungkin sampai sekarang nama buruk Imelda masih dikenal ke mana-mana. Kakakku pakai segala cara buat nutup kasus sampai ke akar-akarnya. Makanya akan susah nemuin berita itu lagi sekarang."
"Sesayang itu ya pak Kelvin sama tunangannya."
"Udah masa lalu."
"Tetap saja bikin sakit hati pasti kalau ingat."
"Mau taruhan nggak?"
"Kenapa mendadak malah ngajak taruhan sih? Orang lagi pembahasan serius juga," keluh Sena setengah kesal.
"Kamu naksir kakakku kan?"
"Nggak!" kata Sena dengan ekspresi muka agak memerah. Walau bibirnya menolak untuk mengaku, sayangnya apa yang tersirat di wajahnya menunjukkan sebaliknya.
Dion hanya geleng kepala sambil berdecak mengejek. "Kalau kamu bisa luluhin hatinya kakakku, hebat kamu."
"Buat apa? Nggak boleh ada hubungan atasan dan karyawan kan?!"
"Siapa tahu bisa merubah semuanya kan? Peraturan itu juga bukan peraturan tertulis sih sebetulnya. Cuma buat jaga-jaga aja supaya nggak ada skandal di kantor."
Sena terdiam sesaat. Menimbang-nimbang sesuatu dalam jiwanya yang bingung. Apa benar ia hanya kagum dan kasihan saja? Apa benar ia tak punya perasaan lain di hatinya untuk Kelvin?
Baginya, terlalu cepat untuk mengakui kalau ada sesuatu mengetuk batinnya. Sena sendiri masih meragu. Mana mungkin jatuh cinta bisa secepat itu? Begitu pikirnya.
Padahal semua tahu, ketika Yang Kuasa berkehendak, mana mungkin ada yang sanggup melawan.
Cubitan kecil di pipi Sena menyadarkan lamunannya. Dion membangunkan angan gadis itu dari sebuah polemik hati.
"Aku nggak keberatan kalau kamu jadi kakak iparku," candanya. "Lumayan bisa digangguin terus juga kan," lanjutnya sembarangan.
"Apaan sih?! Aku nggak naksir pak Kelvin tau!"
"Masa? Kok nanya-nanya? Kok kepo? Sen, aku kenal kamu udah bukan sehari dua hari. Bukan masalah kalau cuma nebak kayak ginian mah."
"Sok tau kamu!"
"Memang tau kok."
"Tau apa?!"
"Kamu naksir kakakku."
"Nggak! Nggak! Nggak!" teriak Sena makin kesal bukan main. Ia berdiri dan meninggalkan Dion sendirian. Berlalu masuk kamar sambil mendumel tak karuan.
"Kenapa mbak Sena?" tanya Mila yang baru datang.
"Biasalah, tanda-tanda awal kasmaran memang gitu."
"Hah? Mbak Sena kasmaran sama siapa, Mas?"
"Nanti juga kamu tau sendiri."
"Berita bagus dong! Semoga mbakku nggak lama lagi jadi istri orang! Yang ganteng, kaya, mapan, setia, baik sama keluarga, penyayang, nggak pelit, dan mirip oppa-oppa Korea kalau bisa."
"Doamu niat amat. Itu doa buat mbakmu apa buat diri sendiri?" cibir Dion.
"Buat mbak Sena lah. Kalau buatku mah nggak usah jauh-jauh."
"Udah ada?"
"Sebetulnya ada, Mas. Sayang, orangnya nggak peka-peka."
"Kalau nggak peka dikasih tau biar peka."
"Nggak ah, gensi kalau cewek ngaku duluan. Ntar dikira murahan, gampangan, lebey, gitu-gitulah."
"Peduli amat sama omongan orang. Pentingin perasaan sendiri."
"Itu namanya egois, Mas. Hidup berdampingan juga perlu dengerin omongan orang sesekali."
"Egois itu kalau maunya menang sendiri, Mila. Nggak ada hubungannya sama omongan orang ke kita."
Selagi keduanya asik berdebat tak jelas, di kamar Sena rebahan memeluk guling sambil menerawang langit-langit kamar. Sudah kesekian kalinya wajah Kelvin membayang di mana-mana. Mengingat Kelvin jantungnya selalu berdetak lebih kuat dari biasanya.
"Kok ada ya orang kayak pak Kelvin tapi masih nggak beruntung dalam urusan cinta? Kok bisa gitu? Nggak tega jadinya..." gumamnya tanpa sadar. "Bentar! Kenapa aku mikirin dia terus sih?! Nggak nggak nggak! Nggak boleh suka! Fokus, Sena, fokus! Jangan suka sama orang yang levelnya terlalu tinggi! Nanti kamu malah jatuh kalau ketinggian nggak bisa menggapai!" ocehnya pada diri sendiri.
Di saat sama, Kelvin sedang minum teh di sebelah kolam renang. Baru saja akan menggigit roti panggang, yang ada malah bibirnya sendiri tergigit.
"Lagi-lagi perasaanku nggak enak. Ada apa ya?"
&==ISB==&