Kini giliran Kift dan Nana yang berada di meja kasir dan ingin memesan. Saat tiba di kasir, Nana menelan ludah pelan. Ia memang terbiasa membeli sendiri, jadi refleks langsung menyebutkan pesanannya.
“Satu chocolate chip whipped cream dengan cookies dan croissant butter,” katanya dengan suara pelan namun jelas.
Barista mengangguk, mencatat pesanan, lalu tersenyum ramah. “Baik, totalnya—“
Sebelum Nana sempat merogoh tasnya untuk mengambil dompet, suara Kift terdengar di sebelahnya.
“Tambah satu lagi minuman yang sama tapi last sugar, tapi makanannya almond croissant,” ucapnya santai.
Barista kembali mencatat, kemudian menyebutkan total harga untuk keduanya. Nana menoleh dengan bingung, baru sadar Kift bukan hanya memesan untuk dirinya sendiri, tapi juga membayarkan pesanannya.
“Eh, aku bisa bayar sendiri,” ucapnya cepat, tangannya sudah hampir menarik ritsleting dompet.
Kift hanya mengangkat bahu dan menempelkan kartunya ke mesin pembayaran sebelum Nana sempat berbuat apa-apa. “Udah kubilang, aku traktir.”
Nana terdiam, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia tidak suka berutang budi pada orang yang baru dikenalnya, tapi pria ini terlihat tidak ambil pusing.
“Silakan tunggu di meja sebelah sana, Kak,” kata barista sambil menyerahkan struk pesanan.
Kift mengambilnya, lalu melirik Nana dengan senyum kecil. “Ayo.”
Nana akhirnya hanya bisa mengikuti, masih berusaha memahami pria ini dan niat di balik sikapnya yang tiba-tiba muncul dan membayarkan pesanannya begitu saja.
Nana mengikuti Kift ke meja yang mereka incar sebelumnya, duduk dengan sedikit canggung. Matanya masih sesekali melirik pria di depannya, yang tampak santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Kift bersandar di kursinya, menatap ke luar jendela. "Kamu sering ke sini?" tanyanya, seolah mengalihkan perhatian dari masalah traktiran tadi.
Nana mengangguk pelan. "Kadang. Kalau lagi ingin aja."
Kift mengangguk mengerti. "Aku juga, cuma mampir sekalian nunggu meeting."
Nana terdiam, masih memikirkan kejadian di kasir. Ia bukan tipe orang yang suka menerima traktiran dari orang asing, apalagi pria yang baru ia kenal beberapa menit lalu. "Tapi tadi..."
Kift mengangkat alis, menatapnya dengan tenang. "Apa?"
Nana menarik napas, mencoba merangkai kata agar tidak terdengar terlalu kaku. "Maksudku... soal traktiran tadi. Aku benar-benar bisa bayar sendiri."
Kift tersenyum tipis. "Aku tahu."
Nana menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut, tapi pria itu hanya mengangkat bahu ringan. "Aku cuma ingin traktir. Nggak ada maksud apa-apa."
Jawaban sederhana itu membuat Nana terdiam. Entah kenapa, pria ini membuatnya bingung. Ia tidak menunjukkan kesan mengharapkan sesuatu kembali, juga tidak terlihat mencoba menarik perhatiannya. Ia hanya… melakukannya.
Kift menyesap sedikit air mineral yang ia ambil dari tasnya, lalu menatap Nana lagi. "Kamu tipe yang nggak suka ditraktir, ya?"
Nana ragu-ragu sebelum akhirnya mengangguk. "Aku nggak biasa aja."
Kift tersenyum samar. "Kalau begitu, anggap saja ini pengalaman baru."
Nana tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu, masih mencoba memahami caranya berpikir. Sementara itu, pesanan mereka akhirnya dipanggil.
“Atas nama Kiftian.” Kift bangkit lebih dulu. "Aku ambil," katanya sebelum Nana sempat bergerak.
“Kift.” Gumam Nana. Namanya seperti di buku agenda yang tadi pagi ia temukan. Tak lama Kift kembali sembari membawa nampan.
Kift meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan tenang, lalu mendorong salah satu gelas ke arah Nana. “Silakan, ini pesananmu,” ucapnya santai.
Nana mengambil minumannya dengan sedikit ragu. “Terima kasih,” katanya pelan.
Kift meminum minumannya sebelum memperkenalkan diri. “Aku Kift. Dosen baru di Uniba. Pagi tadi aku mengajar di Fakultas Hukum.”
Nana yang awalnya tampak santai langsung menegakkan duduknya. “Oh, bapak dosen?” tanyanya, suaranya sedikit terkejut.
Kift mengangguk, tersenyum tipis. “Ya, saya baru mulai mengajar di Uniba. Hari ini kelas pertama saya di Fakultas Hukum. Tapi tenang saja, saya bukan dosen killer,” katanya, suaranya terdengar bercanda.
Nana langsung merapikan sikapnya dan mengganti cara bicaranya. “Saya Nana, Pak. Mahasiswi FKIP, Uniba,” ucapnya lebih formal.
Kift menatapnya sebentar, lalu terkekeh kecil. “Baru tadi kita ngobrol santai, sekarang sudah berubah jadi kaku begini?” godanya. “Santai saja, saya belum mengajar di FKIP, jadi tidak perlu takut.”
Nana tersipu, tapi tetap menjaga sikapnya. “Tetap saja, Pak, saya harus sopan.”
Kift mengangkat alis dengan ekspresi main-main. “Baiklah, baiklah. Saya terima panggilan ‘Pak’ ini dengan penuh kebanggaan,” ujarnya sambil menyesap kopinya lagi.
Nana tersenyum kecil, merasa sedikit lebih rileks. Ia mengamati pria di depannya sejenak, lalu berkata pelan, “Tapi… rasanya saya pernah melihat Bapak sebelumnya.”
Kift menyandarkan punggungnya ke kursi dan tersenyum penuh arti. “Mungkin. Saya pernah keliling kampus, tapi tidak sering… atau mungkin kita pernah satu lift?” katanya, masih dengan nada bercanda.
Nana mengernyit, merasa ada sesuatu yang aneh, tapi tidak terlalu memikirkannya. “Mungkin, Pak,” jawabnya, sementara Kift hanya tersenyum, menikmati reaksi mahasiswi di depannya.
Nana menggigit sedotan minumannya pelan, lalu terdiam. Ingatan tentang agenda hitam itu kembali memenuhi pikirannya.
Pagi tadi, saat ia menemukannya di parkiran, rasa penasaran sempat membuatnya membuka halaman pertama. Di sana, tertulis nama yang kini duduk di depannya—Kift.
Saat itu, ia tidak terlalu memikirkan siapa pemiliknya, hanya merasa harus mengembalikannya. Karena terburu-buru ke kelas, ia akhirnya menyerahkan agenda itu kepada Sesi, kakak tingkatnya.
Dan sekarang, duduk di hadapan Kift, Nana baru menyadari sesuatu. "Pak Kift," panggilnya tiba-tiba.
Kift mengangkat alis, meminum minumannya. "Hm?" Kift menyesap minumannya perlahan. Biasanya, ia selalu memesan kopi, tetapi kali ini entah kenapa ia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda—minuman yang sama seperti Nana.
Begitu cairan manis dan dingin itu menyentuh lidahnya, alisnya sedikit terangkat. Rasanya tidak seburuk yang ia kira. Manis, creamy, dan ada sedikit tekstur dari remahan cookies yang membuatnya unik. Ini jelas berbeda dari kopi yang biasa ia minum, tapi… tidak buruk.
Nana menatapnya ragu. "Agenda hitam Bapak… sudah kembali, kan?"
Kift menaruh gelasnya dan tersenyum kecil. "Oh, jadi kamu yang menemukannya?" Kata Kift pura- pura tidak tau.
Nana mengangguk pelan. "Saya temukan di parkiran, terus saya kasih ke Kak Sesi."
Kift tertawa kecil, mengusap tengkuknya. "Jadi begitu jalannya. Tadi pagi tiba-tiba Sesi datang ke kelas dan menyerahkan agenda itu ke saya. Saya sampai bingung dari mana dia dapat."
Nana tersenyum kecil. "Untung saja enggak hilang, Pak."
Kift mengangguk. "Iya, kalau sampai hilang, saya pusing. Banyak catatan penting di situ." Lalu, sambil menatap Nana dengan tatapan penuh arti, ia menambahkan, "Tapi… kamu sempat membukanya, ya?"
Nana langsung merasa bersalah. "Cuma halaman pertama, Pak! Soalnya saya mau tahu siapa pemiliknya."
Kift menahan tawa melihat ekspresi gugup Nana. "Santai aja. Saya enggak akan marah kok. Malah, terima kasih sudah menemukannya."
Nana menghela napas lega, sementara Kift tersenyum, menikmati tingkah mahasiswi di depannya yang tampak malu-malu setelah ketahuan mengintip agenda miliknya.