Bunyi tembakan terdengar memekakkan telinga. Karin menutup telinga Bayu, juga memeluk Bayu untuk tidak melihat bagaimana pria bertubuh besar itu menembaki kepala maligon hingga meledak, dan darah kehijauan muncrat kemana-mana.
Si wanita berteriak memaki berkali-kali.
Si kurus yang terbaring mendorong tubuh maligon yang sudah tidak bergerak itu dengan ekspresi marah dan jijik. Ia menyentuh bahunya yang robek dan berdarah. Ia juga memaki berkali-kali.
"Lu... lu nggak papa, Don?" tanya si wanita dengan ekspresi ngeri.
"Gue... gue... sakit..." rintih Si kurus. "Selamatin gue..."
Reyga dan Karin menonton ketiga orang itu dalam diam. Sementara Pria bertubuh besar dan si wanita saling bertukar pandang.
"Lu udah kena infeksi, Don..." kata si wanita, mundur selangkah dengan sorot mata ngeri. "Beb, adek lu udah kena infeksi."
Si pria bertubuh besar tidak merespon, dia hanya diam memandang si kurus yang gelagapan karena tuduhan si wanita.
"Lu ngomong apa, Nan?! Gue... Gue nggak kenapa-kenapa... Gue cuman butuh..." Si kurus gelagapan, berusaha menutup lukanya namun malah merintih kesakitan.
Si pria bertubuh besar menggerakkan sebelah tangannya. Ia menodongkan mulut pistol ke kepala si kurus.
"Ru...Rudy... lu...lu mau ngapain?" si kurus terbata-bata ngeri memandang mulut pistol yang kini berada sejurus dengan kepalanya.
"Nasib lu s**l banget, Dony..." si wanita berkata dengan nada sedih, namun ekspresi wajahnya terlihat tidak begitu serius. "Beb, kita nggak bisa apa-apa lagi." Ia menggaet sebelah lengan si pria bertubuh besar.
"Gue... gue adik lo, Rud! Lu mau bunuh gue?!" teriak Dony - si kurus, ketakutan.
"Gue nggak bunuh lu, Don..." si pria bertubuh besar itu akhirnya membuka suara. "Gua nyelamatin elu, karena elu adik gue. Gue nggak mau lu berubah jadi makhluk kanibal itu."
"Tapi, Rud! Gue... Gue mungkin masih bisa sem..."
DOR!
Karin memekik dan Bayu memeluk erat tubuhnya, sementara Reyga memalingkan wajahnya dengan ekspresi tidak terima.
Sementara si kurus sudah tidak bergerak, kepalanya pecah, darah merah segar muncrat kemana-mana, bahkan mengenai pakaian mereka semua yang berada di sana. Reyga menyesalkan dirinya karena tanpa sengaja melihat pasang mata Dony yang membelalak. Ia akan bermimpi buruk selama berhari-hari karena pemandangan mengerikan itu.
"Duh," ujar si wanita. "Adik tersayang elu akhirnya harus mati kayak gini, Beb." ia segera menarik tas di bahu Dony, mengambil barang-barang si kurus.
Ekspresi wajah Pria yang bertubuh besar yang dipanggil Rudy itu tampak datar. Tiba-tiba saja ia berlutut di sebelah tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa itu, menutupkan kedua mata si adik yang membelalak.
"Maaf ya, Beb," si wanita menunjukkan wajah bersimpati kepada Rudy.
Reyga dan Karin tentu merasa bersimpati, namun mereka juga tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan pria ini, yang dengan seenaknya menembak tanpa memberikan kesempatan sama sekali. Bahkan kepada adiknya sendiri.
Rudy kembali berdiri, lalu ia menolehkan wajah ke arah Reyga, Karin dan Bayu.
Mereka bertiga menelan ludah mendapatkan sorot tajam Rudy.
"Jadi, kalian yang nyalain genset?" tanya Rudy.
Bibir Reyga bergetar ketika menjawab. "I... Iya."
"Terus, kalian mau kemana?"
Belum sempat Reyga berkata-kata, Karin sudah lebih dulu mengambil alih.
"Kami mau ke Tanjung Priok."
Reyga melirik Karin. Ia tidak percaya Karin akan menjawab pertanyaan para preman ini. Mungkin Rudy bukan maligon, tapi orang ini terlihat sama berbahayanya dengan para maligon.
"Katanya kita bakal diselamatkan di sana."
Rudy tertawa mendengar jawaban Karin. "Kalian bohong ya? Gue nggak suka anak pembohong." ia memutar-mutar pistolnya di jari telunjuk.
"Nggak, kami nggak bohong." Kata Karin tegas. Ia menoleh pada Reyga.
Reyga tidak ingin terlibat lebih jauh, namun mereka sudah terperangkap. Ia tidak melihat adanya kemungkinan bisa kabur dari pria mengerikan yang bersenjata ini. Orang ini bisa membunuh adiknya sendiri, apalagi bocah-bocah seperti mereka.
Reyga menarik nafas sebelum mulai berkata-kata. "Kami mendengar pengumuman dari radio," ujarnya.
"Radio?" ulang Si wanita.
"Dengerin dulu, Nanda sayang," sela Rudy yang tampaknya sangat tertarik dengan informasi Reyga. "Bener juga ya, nggak kepikiran kalau radio masih bisa terhubung. Terus apa katanya?"
"Katanya Jakarta akan diledakkan. Seminggu dari pengumuman yang ada di radio, dan kemungkinan besok itu adalah seminggu yang dimaksud."
"Wah, gila ya! Jadi mereka nggak ada yang turun buat nyelamatin kita?" Wanita yang dipanggil Nanda memaki-maki lagi, Karin sampai harus menutupi pasang telinga Bayu rapat-rapat.
"Jadi mereka akan memberikan bantuan di Tanjung Priok." kata Reyga.
"Kenapa harus ke sana?" Rudy menggosok hidungnya. "Kenapa nggak ke Depok atau Tangeran? Kita bisa ke Bandung kan?"
"Ke Bandung aja, males banget ke Tanjung Priok!" seru Nanda.
"Tapi pengumumannya seperti itu," Reyga tampak ngotot. Ia juga tidak yakin ke Depok dan Tangeran akan menjadi pilihan yang bagus.
"Oke-oke, anggap aja yang kalian dengan itu benar," Rudy kelihatannya tidak terlalu mau banyak berpikir. "Lalu apa rencana kalian? Kalian lihat kan? Ada kanibal kayak itu diluar."
Reyga menelan ludah. "Kami berencana naik motor ke sana. Kami bertiga."
Reyga berdoa semoga Rudy akan melepaskan mereka, atau tidak peduli dengan apa pun yang akan mereka lakukan. Akan lebih baik Rudy dan Nanda pergi sendiri untuk menyelamatkan diri. Mereka tidak akan membutuhkan bantuan keduanya, pastinya.
Rudy kini terkekeh. "Ya ampun... bocah-bocah ini hebat ya?" ia menunjuk-nunjuk kepala Reyga dengan mulut pistolnya. "Apa yang ada di dalam tas kalian?"
"Cuma perbekalan," jawab Karin, ia tidak bisa menahan pelototannya pada Rudy.
"Hmm, hmm, kalian tahu berapa lama ke Tanjung Priok, hah?"
"Tahu," jawab Karin segera, namun Reyga berharap Karin untuk tutup mulut saja. Ia merasa mereka akan mendapat masalah yang lebih besar. "Mungkin setengah jam naik motor."
Rudy tertawa lagi, diiringi Nanda.
"Gue suka semangat bocah jaman sekarang," komentar Rudy. "Karena elu udah nyelamatin kita yang terjebak di apartemen, kita bakal bantuin elu."
"Nggak, terima kasih," kata Karin segera.
Lalu Nanda mendadak menjambak rambut Karin, membuat Karin merintih kesakitan. Bayu memanggil Karin, histeris melihat kakak perempuannya diperlakukan kasar oleh Nanda.
"Yang sopan sama orang tua!" Nanda mendorong kasar kepala Karin. "Nggak guna banget padahal udah disekolahin ama nyokap-bokap lu!"
"Liat donk, Nanda pengen banget bantuin kalian," Rudy malah terkekeh. "Lagian juga lebih aman naik mobil. Gue dengan senang hati bakalan nyetir sampai ke sana. Dan kalian bertiga bisa ikut sama kita."
Reyga tahu jika tawaran Rudy dan Nanda bukanlah tawaran yang tulus.
"Yuk, pilih mobil, Beb!" seru Nanda kegirangan. "Eh, sebelum ke sana temenin gue ke mall ya!"
"Oke, beb." kata Rudy. "Tapi aku pengen Dony dikuburkan."
Nanda membelalak. "Lu serius?"
"Gue nggak mungkin ninggalin dia di sini jadi makanan para kanibal. Meski adik gue busuk banget tingkahnya, dia tetap kepengen dikuburin."
Nanda memutar pasang bola matanya. "Sekarepmu lah!" serunya. "Gue pilihin mobil buat kita, lu urus aja adik lu!"
"Lu mau sendirian ke jalan?" tanya Rudy.
Seketika wajah Nanda menunjukkan raut ngeri. "Kagak lah!" bentaknya jengkel.
Rudy menggelengkan kepalanya. Ia beralih pada Reyga dan Karin. "Siapa nama lu, bocah?" sorot matanya berhenti pada Reyga.
"Re...Reyga..." jawab Reyga terbata-bata.
"Dan lu?"
"Karin. Dan ini adik saya, Bayu."
Rudy terkekeh. "Lu anak Jaksel bukan sih? Formal bener, kaku kayak kanebo." ledeknya. "Seperti yang gue bilang, sebagai rasa terima kasih gue, gue bakal antarin kalian berdua ke Tanjung Priok. Gue orangnya ingat hutang budi, apalagi masalah nyawa. Tapi kalau sampe di sana ternyata gak ada apa-apa, lu bedua tetep gue turunin di sana."
Reyga sangat ingin menolak tawaran Rudy. Mereka tidak butuh para preman ini untuk mengantarkan mereka ke sana.
"Gue mau nyari mobil sama pacar gue," lanjut Rudy. "Dan lu berdua, gali tanah buat nguburin adik gue."
"Hah?" Reyga terperanjat kaget.
Rudy langsung menodongkan mulut pistolnya ke kepala Reyga. "Lu keberatan?" tanyanya dengan nada mengancam. "Gue udah berbaik hati. Lu tinggal gali tanah. Kalau bukan karena adik gue, lu berdua yang digigit si kanibal tadi!" bentaknya. "Sekarang gali! Awas kalau lu kabur. Gue bakal nemuin lu berdua. Dan timah peluru gue bakal nembus tengkorak elu berdua!"
Reyga dan Karin hanya bisa membungkam mulut mendengar ancaman Rudy.
"Sini lu!" tiba-tiba Rudy menarik lengan Bayu dengan kasar.
"Bayu!" panggil Karin kaget.
"Kakak..." isak Bayu ketakutan.
"Adik lu ikut gue," kata Rudy, terkekeh. "Lakuin apa yang gue suruh!" bentaknya sebelum berbalik pergi sambil menyeret Bayu yang terisak-isak.
"Lu ngapain sih bawa-bawa bocah berisik?!" seru Nanda yang mengikuti Rudy. "Diam dong! Berisik, tahu! Ntar si kanibal nongol lu mau dimakan, hah?!"
Bentakan Nanda berhasil membuat Bayu terdiam walau masih menangis tanpa suara.
Bahu kurus Karin tampak turun, ia memandang pasrah pada Bayu yang dibawa pergi. Reyga yang tidak punya pilihan lain, masuk kembali ke halaman apartemen. Ia memilih sepetak halaman berumput yang kemungkinan cukup bagus untuk digali. Ia melempar sembarang ranselnya, mengabaikan keongan Fista yang minta dikeluarkan. Ia segera memasuki gudang di sebelah genset.
Karin membantu mengeluarkan Fista dari dalam ransel, sementara Reyga telah kembali dengan membawa dua sekop.
"Kamu beneran bakalan menggali?" tanya Karin.
"Mau bagaimana lagi? Preman tadi sudah bawa Bayu buat ancaman." kata Reyga, melempar satu sekop kecil ke depan Karin. "Kalau nggak kuat, kamu diam aja disitu." perintahnya.
Reyga berusaha menyekop gumpalan tanah, namun ternyata pekerjaan itu sungguh sulit. Ia perlu mengeluarkan tenaga sebanyak-banyaknya untuk menyekop lebih banyak tanah.
Karin terduduk dengan Fista di pangkuannya, memandang Reyga yang sudah mulai menggali.
"Harusnya kita nggak keluar..." kata Karin. "Mending mati meledak daripada berurusan dengan Preman."
Reyga menghembuskan nafas dengan keras. Ia merasa terganggu dengan rengekan Karin. Ia juga sama menyesalnya, tapi mau bagaimana lagi? Ia merasa ngeri dengan Bayu yang dibawa oleh Rudy. Rudy bisa menembaki saudara kandungnya sendiri, apalagi menembaki orang lain?
"Kata Bapakku, Rudy itu baru aja keluar dari penjara. Dia pernah membunuh orang."
Gerakan Reyga terhenti sesaat.
"Sementara pacar dia itu pencopet. Dony, yang mati itu, tinggal di apartemen sudah cukup lama. Suka mabuk-mabukan dan katanya ngobat."
"Nggak penting amat dengerin ocehan kamu!" bentak Reyga jengkel. "Mending diam deh daripada bikin pusing!"
Karin segera berdiri, lalu mengambil sekop. Reyga mengamati gerakan Karin.
"Duduk aja," perintah Reyga.
"Nggak, kalau berdua pasti lebih cepat." kata Karin yang sudah menyekop tanah.
Fista duduk diam mengamati kedua remaja itu menggali tanah, sementara matahari bersinar sangat terik, mengundang lebih banyak peluh.
***
Pada akhirnya sebagian besar Reyga yang harus menggali tanah. Karin terduduk lemas, berteduh dari terik sinar matahari. Anak perempuan itu juga perlu meminum obatnya.
Sementara Reyga terus menggali. Peluhnya membasahi kaosnya. Namun ia tidak ingin berhenti, entah stamina darimana ia bisa melakukan hal ini. Mungkin dia memang berbakat menggali.
Setelah merasa cukup dalam, Reyga memanjat naik dari lubang. Nafasnya ngos-ngosan. Karin segera berdiri, lalu memberikan botol air mineral pada Reyga. Reyga menerimanya, meminum isi botol sampai nyaris habis.
"Mereka kok belum datang?" tanya Reyga, memandang gerbang depan.
"Semoga Bayu baik-baik aja," kata Karin lemah.
"Bantu aku," kata Reyga kemudian sambil berjalan mendekati mayat pria bernama Dony itu. Karin mengikutinya dari belakang. Mereka berdua segera menyeret mayat itu untuk dimasukkan ke dalam lubang. Reyga menarik kaki kanan, sementara Karin menarik kaki satunya. Dengan susah payah mereka berhasil menyeret mayat itu ke dekat lubang. Bagian terakhir adalah memasukkan mayat ke dalamnya, Reyga dan Karin yang sudah kehabisan energi memutuskan untuk mendorong tubuh itu ke dalam. Lalu tubuh itu jatuh ke dalam dengan bunyi tidak mengenakkan antara tulang-tulang mayat dengan permukaan tanah di bawahnya.
Reyga dan Karin sama-sama terduduk kelelahan di pinggir mulut lubang.
"Ga," panggil Karin, yang baru kali ini memanggil nama Reyga. "Kalau aku tergigit... kamu bakal bunuh aku kan?"
Reyga terlihat kaget mendengar pertanyaan Karin yang tak terduga.
"Aku nggak mau tubuh aku jadi mayat hidup kayak mereka," kata Karin dengan ekspresi jijik.
"Nggak tahu," kata Reyga. "Bisa aja kan kamu nggak berubah walau sudah digigit?"
Ya, seperti dirinya. Batin Reyga di dalam hati.