Hari Kedua (2/4)

1844 Words
Menyalakan genset pasti akan membuat keributan. Namun entah bagaimana, mungkin karena mereka adalah manusia, yang memang memiliki kemampuan bertahan hidup alamiah, Reyga merasa ini adalah rencana yang cukup bagus. Mereka harus menyalakan semua lampu di lorong agar mereka dapat melewatinya. Karin mungkin memiliki keterbatasan, namun perempuan itu memiliki pemikiran positif dan tahu kapan dia harus bertindak. Ia sudah siap dengan ransel, serta Bayu yang kini berdiri merapat di samping tubuhnya. Reyga juga sama siapnya dengan Karin. Ia juga sudah mengisi ranselnya dengan barang-barang yang mungkin dibutuhkan. "Tunggu aku di sini," kata Reyga pada keduanya yang berdiri mengantar kepergiannya keluar dari apartemen. Reyga keluar dengan gerakan cepat, ia setengah berlari menuju pintu balkon, sesaat ia yakin melihat ada gerakan di ujung lorong yang gelap di belakangnya. Namun ia mengabaikannya saja. Dengan berbekal s*****a stik golf, ia cukup percaya diri. Reyga juga mendapatkan ide untuk memudahkannya dalam menuruni balkon. Ia menggunakan selimut untuk membantunya berpegangan pada pagar balkon dengan cara mengaitkan selimut pada sela-sela pagar balkon, sehingga ia dapat meluncur turun dengan mudah. Dan begitu seterusnya, hingga akhirnya ia telah menginjakkan kaki di tanah berumput. Reyga segera berlari mendekati genset, mengecek kondisi genset itu. Ia sudah pernah mempelajari cara menyalakan genset. Karena kelasnya berada di pojok bangunan, dan paling dekat dengan genset, maka kelasnya secara tidak langsung menjadi petugas menyalakan genset. Genset tampak dalam kondisi yang cukup baik, hanya saja solarnya menipis. Dia tidak akan punya waktu banyak, dan tentu saja dia tidak akan berlama-lama di dalam apartemen ini. Setelah menyala, suara ribut genset memenuhi udara yang sunyi. Reyga segera berlari menuju pintu belakang gedung. Pelan-pelan ia mendorong pintu, ia terdiam sesaat memperhatikan lorong di depannya yang kosong dan gelap. Reyga memasuki lorong, ia mencari ruangan panel listrik berdasarkan arahan Karin. Reyga menemukan pintu namun mendadak mundur ketika aroma busuk menusuk hidungnya. Ia nyaris muntah dan segera membanting pintu hingga tertutup. Ruangan itu dipenuhi mayat. Untunglah ruangan itu gelap sehingga ia tidak perlu melihat bentuk mayat di dalamnya, yang pastinya sudah tidak lagi utuh. Reyga beralih pada pintu lainnya di lorong, ia membuka pintunya dengan pelan. Ia bernafas lega karena ruangan itu adalah ruangan yang ia cari. Ia segera memasukinya dan segera menghampiri kotak panel listrik. Ia mengamati sesaat panel listrik untuk mempelajarinya. Ia segera memindahkan handle listrik pada arah genset untuk menghubungkan arus listrik genset. Seketika sumber cahaya di dalam ruangan menyala, dan pastinya seluruh lampu di dalam gedung juga sudah menyala. Pemandangan ketika lampu menyala ternyata tidak cukup baik. Reyga bergidik melihat darah kering menempel di atas keramik lantai. Ia juga mendengar erangan marah para maligon. Apartemen terdengar gaduh, dan dinding-dinding bergetar. Reyga segera membuka kotak panel listrik, mempelajari sesaat MCB yang ada di dalamnya. Kemungkinan setiap MCB mewakili listrik pada setiap tingkat. Reyga mencoba mematikan MCB pada sisi terakhir, dan lampu di tempatnya padam. Ia memilih MCB yang benar. Dan suara-suara erangan para maligon di lantai mereda. Reyga meninggalkan ruangan, ia berlari keluar dari pintu belakang. Ia kembali melakukan aksinya menaiki balkon yang tentu membuang-buang energinya serta waktunya. Tapi mau bagaimana lagi, Karin dan Bayu tentu tidak akan turun sama sekali jika tanpa dirinya. Reyga berhasil kembali ke balkon lantai lima, dengan kelelahan tentu saja. Ia menggeser pintu balkon, mendapati lorong yang terang benderang. Namun terdengar suara rintihan memenuhi lorong. Karin rupanya sudah membuka pintu apartemennya, mengintip dari sana seperti mencari-cari pemilik suara rintihan itu. Karin terpaksa masuk kembali ketika Reyga datang. Reyga menyempatkan diri untuk meminum air mineral. "Itu suara Bapakku," bisik Karin, melirik Bayu yang mungkin tidak mendengar kata-katanya kepada Reyga. "Ayo, kita keluar sekarang," Reyga segera memberi perintah. Seketika wajah Karin dan Bayu berubah pucat. Mungkin keraguan kembali memenuhi kepala mereka berdua. Tentu saja mereka berdua akan ragu dan takut keluar dari tempat aman mereka. Tapi melihat Reyga telah membuka pintu lebar-lebar, keduanya tahu bahwa mereka tidak bisa mundur lagi. Suara rintihan itu semakin dekat ketika mereka menyusuri lorong. Reyga berjalan dengan hati-hati di depan, meski jantungnya berpacu, berdebar-debar. Ia mengeratkan pegangan tongkat golf, siap menghantam apa saja yang datang menerkamnya. Karin dan Bayu berjalan di belakangnya. Karin dengan tongkat pramukanya yang dicat merah-putih, dan Bayu dengan pistol airnya, yang katanya sudah diisi dengan cairan cabai. Langkah Reyga terhenti ketika melihat satu maligon meringkuk menghadap ke dinding, merintih dan meraung, mencakar-cakar dinding. Suaranya terdengar memilukan. Orang yang tidak tahu pasti mengira makhluk itu sedang kesakitan, tapi melihat warna kulitnya yang keabu-abuan, sudah pastilah orang itu sudah berubah menjadi maligon. "Bapak?" Bayu mendadak berucap. Karin segera menutup mulut Bayu. "Dia bukan Bapak lagi, Yu." bisik Karin, yang nada suaranya terdengar sedih. "Kita lewat lift," Reyga mendadak memutuskan. "Kata kamu lewat tangga darurat?" tanya Karin. "Maligon itu berada di dekat pintu darurat, kamu mau negur dia agar mau bergeser?" Karin segera menutup mulutnya. Reyga memandang dua pintu lift, ia memang memutuskan pilihannya secara tegas, namun di dalam hati ia berdoa agar keputusannya tepat. Lagi pula dengan menaiki lift, mereka bisa meringkas waktu perjalanan mereka menuruni lantai apartemen. Solar genset tidak akan cukup untuk waktu yang lama. Reyga menekan tombol lift yang bertuliskan UMUM. Namun ketika lift membuka, ada dua maligon yang juga terlihat meraung-raung karena lampu lift yang bersinar terang. Mereka bertiga reflek mundur, masing-masing mengacungkan s*****a. Namun kedua maligon itu tidak menyerang mereka. Reyga segera berpindah pada lift yang bertuliskan PETUGAS. Mereka bertiga bernafas lega ketika lift itu membuka dan isinya kosong. Mereka bertiga segera memasuki lift, Reyga memilih tombol lantai dasar. "Siapkan sentar," perintah Reyga tegang. Mereka akan berhenti tepat di lantai dasar yang sudah pasti dipenuhi maligon. Memegang sentar dan s*****a berbarengan tentu tidak efektif, namun sebelum mereka sempat berpikir lebih jauh, pintu lift sudah membuka di lantai dasar yang gelap. Sinar sentar menerangi wajah-wajah keabu-abuan yang menolehkan wajah ke arah lift. Sentar di tangan Bayu terlepas diiringi pekikan Bayu. Seketika saja gerombolan maligon itu maju menerkam mereka di lift. Sebagian menjauhi cahaya namun beberapa tampak nekat mendekati lift. Reyga berusaha memukul mundur para maligon itu dengan tongkat golfnya. Sementara Karin, tanpa diperintah menekan tombol sembarang untuk menutup lift. Pintu menutup dengan salah satu tangan maligon masih berusaha menarik baju Reyga. Dan tangan itu terputus ketika lift berusaha naik dengan sedikit tersendat. Karin merosot jatuh, lalu memeluk Bayu yang terlihat ketakutan sampai tak mampu bicara. Reyga menarik nafas, kesal dan lelah. Jika terus begini mereka tidak akan bisa keluar melalui lantai dasar. Melihat perilaku dari maligon itu, tentu ada maligon yang tidak takut mendekati cahaya. Ia memandang hampa pada potongan tangan maligon yang keabu-abuan dengan sisa pakaian robek-robek kotor yang menempel. Reyga sedang berusaha berpikir sementara lift kembali naik ke lantai atas, lalu membuka. Seketika Ia terkejut dan sudah mengangkat tongkat golf pada maligon yang berdiri menghadap lift. Beruntung maligon itu sama sekali tidak bergerak. Reyga menurunkan tongkatnya, tangannya gemetar. Ia memberi isyarat pada Karin dan Bayu yang duduk di pojok lift untuk tidak bersuara. Lalu ia menekan tombol lantai dua. Pintu lift menutup, lalu bergerak turun. Mereka bertiga sama-sama menarik nafas lega. "Ki... kita harus bagaimana?" tanya Karin yang terdengar pasrah. Reyga tidak segera menjawab. Ia masih berpikir ketika pintu lift membuka di lantai dua. "Ayo, keluar dari lift," kata Reyga tiba-tiba. Karin segera mengajak Bayu untuk berdiri. Mereka bertiga keluar dari lift, membiarkan lift menutup di belakang mereka. Lampu lorong menyala terang, kemudian mendadak redup dan terang kembali, menandakan arus listrik terganggu. "Ayo," ajak Reyga setelah memastikan ruangan di lantai satu aman dari keberadaan maligon. Karin dan Bayu mengikuti Reyga yang berjalan cepat-cepat menuju balkon. Reyga menggeser pintu balkon, lalu memandang ke bawah. "Kita turun dari sini," kata Reyga. "Hah?" Karin dan Bayu terperangah. Bayu segera memeluk lengan Karin, pasang matanya sudah memerah menahan tangis. "Bisa kok," Reyga mencoba menyemangati mereka berdua. Ia kembali memasuki lorong, lalu mencoba membuka pintu-pintu kamar. Ia menemukan satu kamar tidak terkunci. Ia membukanya lalu mengintip ke dalam. Isi kamar itu sangat berantakan, pastinya pemiliknya tergesa-gesa ketika meninggalkan kamar. Reyga segera mengambil selimut lalu membawanya keluar. Karin dan Bayu masih berada di balkon, wajah mereka berdua pucat dan tak mampu berkata-kata. Reyga mengabaikan ekspresi pasrah mereka berdua. Ia segera mengikatkan ujung selimut pada pagar. "Nah, coba turun." kata Reyga. Karin dan Bayu memandang Reyga dengan tatapan tegang. "Karin, kamu duluan. Lalu, Bayu. Aku yang terakhir. Tenang aja, aku pegang dengan baik selimutnya." Karin tampaknya tidak punya argumen untuk menolak perintah Reyga. Reyga segera membantunya menaiki pagar, lalu mencontohkan untuk memegang selimut dengan erat. "Selimutnya tebal, pegang erat-erat. Nanti langsung loncat turun kalau udah dekat di bawah." Karin hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Anak perempuan itu pelan-pelan turun, kedua tangannya gemetar memegangi selimut. Tak berapa lama akhirnya Karin sampai di atas permukaan tanah. "Lanjut kamu, Bayu." Wajah bundar Bayu sudah merah padam. Namun Bayu tidak merengek atau berkata apa pun. "Pegang yang erat selimutnya ya? Tenang aja, kakak kamu ada di bawah kok." Bayu mengangguk pasrah, dengan dibantu Reyga, Bayu berhasil menggantung di udara dengan selimut dalam pelukannya. Reyga perlu menyemangati Bayu karena Bayu sama sekali tidak menggerakkan tangannya untuk menuruni selimut. Cukup lama membuat Bayu untuk bergerak, hingga akhirnya ia terjatuh, namun Karin sudah siap menangkap Bayu. Bayu terjatuh dalam pelukan Karin. Reyga menarik nafas lega. Ia segera menuruni balkon dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. "Fis?" Reyga teringat pada kucing hitamnya. Suara keongan Fista berasal dari dalam ranselnya. Ia mengangguk lega. Kucingnya tidak akan mati di dalam ransel karena ia sudah merobek sedikit ranselnya untuk lubang udara Fista. Reyga memberi isyarat pada Karin dan Bayu untuk meninggalkan halaman gedung, tepat ketika suara genset berhenti. Lampu-lampu di dalam apartemen langsung padam. Beruntung mereka sudah berhasil keluar dari apartemen. Namun langkah mereka bertiga mendadak terhenti. Sudah ada tiga orang yang berdiri menghalangi di depan gerbang. Orang-orang itu pastilah masih manusia karena mereka berpakaian normal, tidak compang-camping dan kulit mereka tampak sehat disinari cahaya matahari. Satu orang bertubuh sangat besar mengenakan baju pantai bergambar pohon kelapa dan matahari terbenam menodongkan mulut pistol ke arah Reyga, tersenyum menyeringai. Sementara kedua temannya berdiri di sisinya. Yang satu adalah wanita berpakaian sangat ketat dengan jaket jins, dan rambu dicat merah, satunya adalah pria bertubuh tinggi dan kurus ceking. "Orang tua kalian pada kemana, anak-anak?" tanya pria yang paling besar. "Siapa yang mengajarkan kalian menyalakan genset, hah?" "Gue kenal yang cewek," ujar si Wanita, terdengar malas-malasan berbicara. "Lo tinggal di lantai lima kan? Bapak lo yang ganteng itu." ia terkikik dan mendapat sorotan tajam dari si lelaki besar. "Sori, beb. Bapaknya yang berdasi, kayaknya berduit." kata si wanita buru-buru. "Tembak aja, Rud." kata si kurus dengan suaranya yang melengking. "Jangan-jangan mereka kena infeksi!" "Kami nggak kena infeksi!" seru Karin segera, terdengar bergetar dan juga melengking sumbang. "Terus? Elo bertiga mau kemana?" tanya si wanita. "Jawab atau gue tembak," ancam si lelaki bertubuh besar. Dan Reyga melihat sosok samar-samar bergerak dari g**g di sebelah swalayan di seberang jalan. Berlari dengan sangat cepat ke arah mereka. Ia belum sempat berkata apa pun ketika Karin dan Bayu memekik ngeri, dan tahu-tahu sudah meloncati atap-atap mobil yang terbengkalai di jalanan, kemudian menerkam salah satu dari ketiga orang dewasa di depan mereka yang masih belum menyadari kemunculannya. Yang kurus menjerit nyaring ketika tubuhnya terjatuh ke tanah, lalu si maligon menggigit bahunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD