Hari Kedua (1/4)

1594 Words
Reyga terbangun pada dini hari yang suhu udaranya cukup dingin. Ia sekarang berada di dalam kamar mandi, memandang pantulan lengannya di cermin dengan ngeri. Bekas gigitan Maligon itu masih berbekas di lengannya, tertutupi daging tebal keabu-abuan. Selain itu ada hal baru lainnya. Pembuluh darah di bawah kulitnya terlihat menebal dan menghitam. Kelihatan sangat mengerikan. Ketukan di pintu membuat Reyga buru-buru mengenakan kaosnya. Ia membuka pintu dan si bocah gembul, Bayu, berdiri dengan menggeliat tidak tahan. "Pengen pipis, Kak!" seru Bayu yang membuat Reyga buru-buru keluar dari kamar mandi. Reyga beranjak mendekati jendela, mengamati keadaan di luar. Ia bisa melihat manusia, yang bukan lagi manusia tentu saja, berjalan tertatih-tatih meninggalkan jalanan, menuju ke sudut-sudut gelap. Reyga mendengar suara radio, ia melangkah mendekati pintu kamar tidur yang terbuka. Karin terlihat sedang mendengarkan isi radio itu dengan seksama, mengabaikan Reyga yang dengan seenaknya masuk ke dalam, lalu menarik kursi untuk duduk. Setelah siaran selesai, suara berisik statis radio memenuhi kamar. Karin mematikan radio. "Udah percaya kan?" tanya Reyga, sedikit dengan nada sinis. Karin mengangguk. "Tapi siarannya aneh nggak sih?" "Apanya?" tanya Reyga. "Penyiarnya bilang Jakarta akan menjadi siaga satu setelah seminggu. Seminggu dari kapan?" Reyga merasa jantungnya jatuh mencelos ke dasar. Ya, benar saja karena setiap siaran yang ia dengar sejak pertama kali selalu menyebutkan kata 'seminggu'. "Jadi... siaran itu... dari rekaman?" tanya Reyga terbata-bata. "Mungkin," Karin mengedikkan bahunya. Reyga duduk lemas di kursi. "Bisa aja satu minggu yang disebut itu dari hari pertama kali ketika virus menyebar di sini..." Tebak Karin. "Satu minggu... Itu artinya besok Jakarta akan diledakkan. Ya kan?" Karin terdengar lebih seperti menyimpulkan daripada bertanya. Reyga tidak menanggapi. Ia merasa ngeri membayangkan bom besar akan meledakkan Jakarta begitu saja. Jadi pada akhirnya mereka tidak bisa kemana-mana kah? Bom seperti apa? Apakah Bom nuklir? Kira-kira Pemerintah akan menyetujui menggunakan bom semacam itu di Indonesia? Melihat kondisi, tentu saja hal itu bisa disetujui. "Masih ada satu hari kan? Kita bisa ke sana," kata Karin yang kini berdiri, mendekati Reyga, lalu menarik sebuah buku, membuka-buka lembarnya. "Nih," ia menunjukkan halaman di dalamnya. Ternyata buku itu adalah buku Atlas. Bukannya melihat halaman yang ditunjuk oleh Karin, Reyga malah terkagum-kagum karena di jaman seperti ini ketika ponsel sudah memiliki segala macam aplikasi, bahkan aplikasi peta yang lengkap dan detail, Karin masih memiliki buku atlas. Karin mengambil penggaris, lalu mengukur jarak pada halaman yang menggambarkan peta Jakarta. "9 cm," kata Karin. "Skalanya 1 : 150.000. Itu artinya... hmm... sekitar 13,5 km dari Pondok Indah ke Pelabuhan Tanjung Priok." "Hah?" Reyga melongo karena Karin dengan cepat menghitung jarak berdasarkan peta. "Itu dengan perhitungan jarak lurus," Karin mengedikkan bahu, meninggalkan ketertinggalan Reyga yang memasang wajah melongo. "Yang aku tahu, manusia bisa berjalan 1,5 km dengan waktu sekitar 15 hingga 20 menit. Kalau dihitung-hitung..." anak perempuan berambut sebahu itu mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk, memandang langit-langit kamarnya. "Kecepatan manusia berjalan yang kuingat sekitar 4 sampai 5 km/jam. Jadi... jika kita ingin mencapai 13,5 km ke Tanjung Priok ini, kita bisa sampai sekitar 4 hingga 5 jam." Reyga masih melongo memandang Karin. Entah dia melongo karena kecepatan menghitung Karin atau ide gila berjalan kaki menuju Tanjung Priok. Kedua-duanya kedengaran... Parah. Ya kan? Reyga berpikir apakah ia perlu mengapresiasi kecepatan menghitung Karin atau langsung mengomentari mengenai rencana Karin. "Jadi kamu berencana berjalan kaki ke sana?" tanya Reyga, memutuskan untuk mengomentari ide gila berjalan ke sana. "Menurutku sih bisa," Karin mengedikkan bahu. "Hei, kamu memang hebat menghitung dengan rumus dan penggaris. Tapi jalan ke sana nggak selalu lurus." komentar Reyga. "Ya, anggap aja sekitar 6 jam lah..." kata Karin. "Kalau naik sepeda bisa lebih cepat," usul Reyga. "Aku dan Bayu nggak bisa naik sepeda." kata Karin. "Naik motor aja, kamu bisa kan mengendarai motor?" "Hmm, kalau naik motor... berisik gak sih?" Reyga teringat dengan maligon yang muncul di siang bolong. Menurutnya akan lebih baik mereka melintasi Jakarta dengan tanpa suara. "Kan kita jalan di siang hari? Penyiar di kanal radio bilang kalau maligon nggak bisa muncul di siang hari. Kalau pakai motor, bisa lebih cepat. Dengan kecepatan 60 km/jam, kita bisa sampai sekitar 20 sampai 30 menit loh. Kita nggak bakal kejebak macet." kata Karin. "Pasti di luar sana banyak motor menganggur." Reyga masih merasa ragu. Mungkin setengah jam di jalan tidak akan terlalu membuat keributan. Dan kalau pun akan ada maligon yang menyerang, mereka kan menggunakan motor, maligon sepertinya tidak cukup cepat untuk mengejar mereka. "Kayaknya di jalan sana ada motor, kemungkinan kuncinya masih menempel di motornya." lanjut Karin. "Oke," Reyga akhirnya menyanggupi. "Kita bisa naik motor. Kita bertiga." Namun Karin malah kembali duduk di atas ranjangnya. "Tapi masalah besarnya adalah, bagaimana kita bisa turun dari sini. Kalau kamu sih bisa turun dari balkon..." "Mungkin kalian juga bisa," kata Reyga. "Nggak... aku dan Bayu takut ketinggian," Karin menghela nafas. Oke, Reyga mulai merasa kesal karena tidak hanya sakit-sakitan, tidak bisa mengendarai sepeda, kini Karin juga takut ketinggian?! Yang benar saja kan?! "Kamu bercanda kan?" Reyga memaksakan diri untuk tertawa, namun senyumnya langsung luntur melihat wajah datar Karin, yang artinya perempuan ini sungguh serius. "Kita terjebak di sini," kata Karin kemudian. "Di hari pertama kekacauan, Ayah pergi keluar untuk mengecek. Tapi Ayah malah..." Reyga terdiam. "Kamu pernah lihat ada maligon di lorong lantai ini?" tanya Karin, merendahkan suaranya ketika mendengar suara Bayu yang terdengar di luar kamar, mungkin sedang memainkan pesawat terbangnya lagi. "Maligon itu ayahku." bisik Karin. "Oh," Reyga tidak tahu harus berkomentar bagaimana. Bersimpati karena ayah Karin sudah meninggal atau merasa ngeri karena ayah Karin telah berubah menjadi Maligon. "Kamu dengar nggak malam tadi apartemen ini ramai sekali?" tanya Karin kemudian. Reyga menggelengkan kepala. "Kamu tidur kayak orang mati sih," ledek Karin dengan wajah datar. Memang benar. Sehabis makan, Reyga langsung tidur nyenyak sampai-sampai tidak mendengarkan apa pun. Tahu-tahu saja ia terbangun karena luka di lengannya yang terasa panas. "Kayaknya para maligon itu kepengen keluar, tapi nggak bisa. Makanya mereka melolong dan teriak-teriak sambil mendorong pintu. Apartemen ini memang baru dibangun, dan baru dihuni sejak dua tahun lalu. Keluargaku termasuk orang pertama yang tinggal di sini. Satu lantai ada enam kamar apartemen. Tapi ukuran di dalamnya nggak luas-luas amat. Ada dua lift, satu lift untuk penghuni apartemen, satu lagi lift untuk karyawan dan pemilik apartemen." Karin tanpa sadar menjelaskan seluk-beluk apartemen. Reyga diam mendengarkan karena merasa penjelasan Karin pastilah sangat penting. "Pintu-pintu, kayak pintu balkon dan pintu masuk depan terbuat dari kaca laminasi, dan dibuka dengan digeser. Makanya para maligon itu nggak bisa keluar. Kacanya masih kuat menahan mereka meski mereka udah berusaha merobohkan pintu." Reyga menarik nafas. "Aku sudah lihat kok," ujarnya. "Di lantai dasar, banyak maligon." Karin menunjukkan wajah tegang. "Apa ada akses masuk selain pintu depan?" tanya Reyga. "Mungkin pintu belakang," jawab Karin segera. "Tapi kan setiap lorong pasti ada maligon?" "Di apartemen ini ada genset nggak?" Karin segera menganggukkan kepala. "Di luar, di sebelah apartemen." "Dan kamu tahu nggak dimana tombol panel listrik gedung?" Karin mengerutkan dahi, ia mengangguk lagi. "Ada di lantai dasar. Dari meja resepsionis, ada tiga lorong, lorong di sebelah lift, akan ada ruangan tempat listrik. Dan di sana juga dekat dengan pintu belakang. Kalau dari pintu belakang lebih dekat dengan ruang panel listrik." "Terus? Tangga darurat ada nggak?" "Ada lah, nggak mungkin apartemen kayak gini nggak menerapkan standar sarana evakuasi?" "Tangganya ke lantai dasar? Tepatnya dimana?" "Hmm, tangga darurat menuju lantai dasar. Katamu kan di sana ada banyak maligon," jawab Karin tegang. Reyga mengangguk-angguk mengerti. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Karin, tampak penasaran melihat dahi Reyga yang berkerut, tampaknya sedang memikirkan sesuatu yang fantastis. "Kamu emang hebat soal hitung-hitungan, tapi saat ini kita butuh rencana," ujar Reyga serius. "Aku bakal turun ke bawah untuk menyalakan genset. Nanti seluruh lampu akan menyala, dan itu akan membuat para maligon histeris pastinya. Tapi nanti aku bakalan mematikan lampu di lantai dasar aja. Jadi maligon yang ada di lorong pastinya akan mencari tempat bersembunyi." "Terus gimana kita lewat kalau semua maligon kumpul di lantai dasar?" tanya Karin dengan wajah ngeri. "Gampang, nanti aku ke panel listrik, terus nyalain lampu lantai dasar, mereka pasti panik kan? Jadi kalian harus lari ke lorong." "Tunggu," Karin mendorong sebelah tangannya ke udara. "Jadi maksud kamu... aku dan Bayu bakalan turun sendirian? Lewat tangga darurat? Nggak mau! Ngeri tahu!" "Eh, kamu penakut amat... Kalian kan turun berdua. Nggak sendirian! Dan kalau lampu udah kunyalain, maligon pasti bakal sembunyi. Aku pastiin jalan kamu ke bawah nanti bakalan aman," jelas Reyga. Namun Karin tetap menggelengkan kepala. "Aku nggak mau. Gimana kalau di tengah jalan aku nggak bisa nyelamatin Bayu? Aku nggak mau mati dimakan maligon, tahu!" Reyga tidak menyangka ia akan kerepotan berhadapan dengan Karin. "Kalau begitu kamu nggak akan bisa keluar dari sini!" "Ya nggak masalah. Mending mati meledak daripada dimakan maligon!" Reyga menarik nafas. Ada benarnya sih, dia juga pastinya tidak akan mau mati dengan maligon menggigitinya sampai kulitnya robek dan ususnya terburai keluar. Ia bergidik sendiri ketika memikirkannya. "Ya udah," kata Reyga akhirnya. "Kita nanti barengan turun ke bawah." dia menyerah berdebat dengan Karin. Wajah Karin terlihat mencerah. "Kamu yakin?" tanyanya, kini terlihat bersemangat. Reyga merasakan wajahnya memanas. Apakah Karin begitu mempercayainya? Dia jadi sedikit kegeeran, namun percaya dirinya juga semakin meningkat gara-gara ini. Reyga mengangguk. "Iya, aku akan turun bareng kalian. Tapi aku nggak bisa menjamin keselamatan kalian berdua ya." "Nggak masalah, asal ada kamu pasti kita bisa." Reyga berdehem, ia semakin kikuk sementara wajah Karin terlihat datar-datar saja. "Terus bagaimana dengan lantai dasar?" tanya Karin kemudian. "Kan rencananya menyalakan lampu lantai dasar untuk menyingkirkan Maligon di sana." "Kita lihat situasi terlebih dahulu," jawab Reyga. "Aku punya banyak opsi. Yang jelas, kalian berdua jangan terlalu manja. Bikin repot tau!" "Idih! Siapa yang manja?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD