Reyga memasang kembali sepatu ketsnya. Ia memandang gugup pada pintu dihadapannya. Sebenarnya ia belum benar-benar siap untuk keluar lagi dari apartemen ini, namun ia sudah terlanjur menyanggupinya.
Karin duduk di sebelahnya, baru saja selesai mencatat. Ia memberikan selembar kertas yang sudah ia tuliskan daftar barang yang ia butuhkan kepada Reyga.
Reyga menerima kertas itu, lalu membacanya sebentar.
"Aku jadi ingat Ibuku pas belanja bulanan," komentar Reyga pada daftar yang panjang itu.
"Kamu nemenin Ibu kamu belanja bulanan?" tanya Karin, entah apakah ia ingin tahu atau hanya sekadar berbasa-basi.
"Iya, biasanya aku nebengin Ibuku, mendinglah daripada jagain si Kembar yang rese'..." suara Reyga memelan. Ia memang sering mengeluhkan si kembar yang sudah menginjak taman kanak-kanak, tapi ia tidak menyangka jika semua hal itu akan menjadi kenangannya sekarang.
Karin berdeham, menyadari perubahan sikap Reyga. "Bukan aku ya yang maksa kamu keluar, kamu sendiri yang mau kan? Jadi aku tulis apa aja yang memang dibutuhkan. Kalau pun nggak kamu dapatkan di swalayan, yaudah, nggak apa-apa."
Reyga menarik nafas lalu mengembuskannya. Ia sedang mengumpulkan keberaniannya. Tidak ada waktu untuk mundur lagi. Melakukan sesuatu karena terpaksa ternyata berbanding tipis dengan bertindak sebagai heroik.
"Aku pergi deh," Namun gerakan Reyga terhenti, ia melihat stik golf yang digantungkan di dinding. "Apa ini?"
"Stik golf," jawab Karin, memandang heran pada Reyga. Si Anak perempuan tampaknya dapat menebak sorot mata Reyga. "Itu punya Bapakku. Tapi kayaknya udah nggak berguna. Ambil aja kalau menurut kamu bisa digunakan."
Reyga mengambil stik golf itu, lalu mengayunkannya. Ayunannya ringan namun tepat. Benda ini lebih menjanjikan untuk digunakan melindungi diri daripada palu yang berlengan pendek dan berat. Ia mengamati sesaat ujung stik golf yang terbuat dari logam. "Nggak apa-apa nih kupinjam?"
"Pinjam?" Karin tertawa meski dengan wajah yang pucat sekali, wajah datarnya sedikit mirip dengan mayat-mayat di luar sana. Seperti tidak ada niat hidup sama sekali. Entahlah.
"Pakai aja. Sebenarnya Bapak sering marah-marah kalau Bayu mainin stik-nya. Katanya mahal, belasan juta cuman stik buat mukulin bola kecil." Desis anak perempuan itu.
Reyga tersenyum kecil. "Masing-masing orang punya benda yang kepingin dikoleksi dong." katanya. "Kupinjam ya?"
Karin memutar bola matanya mendengar Reyga lagi-lagi meminta izin untuk meminjam benda itu.
Reyga mendekati pintu, lalu mengintip ke door viewer untuk memastikan kondisi di lorong depan pintu aman. Ia menoleh pada Karin, memberikan isyarat berupa anggukan.
Karin membuka pintu, dan Reyga segera berlari keluar dengan stik golf yang siap di tangannya. Ia berlari di lorong menuju pintu kaca balkon. Dan sialnya ia lupa cara membuka pintu kaca itu. Beberapa detik ia kelimpungan karena pintu tidak dapat terbuka ketika ia dorong. Tentu saja tidak bisa terbuka, pintu ini dibuka dengan digeser. Sambil memaki untuk dirinya sendiri, ia keluar dari lorong. Ia memastikan menutup pintu balkon dengan rapat.
Nafas Reyga ngos-ngosan, padahal ia hanya berlari dari pintu kamar ke balkon, dan jaraknya mungkin hanya beberapa meter.
Reyga memandang ke bawah. Fista ternyata masih setia menunggunya di bawah sana. Si kucing hitam terlihat duduk manis di sebelah sepedanya yang dibiarkan terbaring di atas tanah berumput di depan apartemen.
Reyga mengambil nafas banyak-banyak, bagaikan seorang penyelam yang siap untuk menenggelamkan diri ke dalam lautan. Tapi Reyga tidak akan menyelam, ia menuruni balkon. Dan anehnya, tubuhnya tidak sekaku sebelumnya, walau kepalanya masih berspekulasi setiap kali ia mengambil langkah berbahaya. Kamu bisa atau kamu tidak bisa. Dan kali ini ia harus memandang ke bawah.
Reyga berhasil menuruni balkon dengan waktu singkat. Parah, ia merasa dirinya keren sekali. Ia segera mengambil sepedanya, lalu menaikinya. Tidak lupa ia menunggu Fista memanjati bahunya untuk duduk di atas ranselnya. Lalu ia mengayuh sepeda meninggalkan halaman apartemen.
Reyga kembali ke swalayan di seberang apartemen, yang satu-satunya tempat paling berani ia masuki. Dan kali ini, jika maligon itu muncul lagi, ia pastikan akan menghancurkan kepala maligon itu dengan stik golf di tangannya ini. Lagi pula ia tidak punya waktu untuk mencari swalayan yang lebih aman lagi. Setelahnya ia memasukkan semua benda-benda yang didaftarkan oleh Karin.
"Apa ini?" hanya ada satu benda yang tidak diketahui Reyga setelah menghabiskan waktu mondar-mandir. "Astaga, dia menuliskan nama mereknya, mana aku tahu jika itu adalah pembalut," ia menggerutu, namun juga beruntung karena tidak sengaja melewati rak pembalut wanita, dan membaca nama yang sama persis dituliskan oleh Karin.
Reyga bergerak sangat cepat. Ia mengeluarkan belanjaannya, membiarkannya diletakkan di samping sepedanya yang diparkir di depan swalayan. Fista duduk di atas sepeda, si kucing melakukan tugasnya dengan baik, bak seorang satpam yang menjaga area sekitar.
Reyga berjalan memasuki apotik yang tidak jauh dari swalayan, ia sedikit berhati-hati ketika memasuki toko yang belum pernah ia masuki itu. Ia melihat uang berhamburan di lantai, lecek dan terlihat darah kering menempel di setiap lembarnya. Mungkin sebelumnya orang-orang berbondong-bondong ke rumah sakit dan apotik untuk membeli obat, yang mereka percayai mungkin dapat menyembuhkan diri dari efek paparan virus maligonus itu. Sayang sekali, di tempat ini, jakarta yang merupakan kota metropolitan, dimana uang adalah segalanya, kini setiap lembarnya sudah tidak berguna lagi.
Karena Reyga sama sekali tidak punya waktu banyak untuk membaca nama setiap obat yang terasa asing di kepalanya, ia memutuskan untuk mengambil kantong plastik besar, lalu memasukkan setiap obat ke dalam plastik. Ia sudah seperti perampok apotik saja.
Reyga selesai berbelanja, ia meletakkan tiga bungkus plastik besar di halaman apartemen, lalu menengadah ke atas.
Karin dan Bayu melongokkan kepala di jendela, keduanya sama-sama tersenyum, lalu menunjukkan kedua ibu jari mereka kepada Reyga.
Namun sekarang masalahnya adalah bagaimana Reyga bisa mengangkat tiga bungkus plastik besar ini naik ke atas.
Untunglah Karin berpikir cepat. Kakak beradik itu segera membuat semacam tali dari kain-kain yang disatukan. Perlu waktu cukup lama sampai mereka bisa menjulurkan kain sampai ke bawah lantai lima. Entah kain apa saja yang digunakan oleh keduanya karena kain itu terdiri dari berbagai macam warna.
Reyga mengikatkan satu bungkus plastik pada kain tersebut, lalu keduanya menariknya ke atas, hingga akhirnya mereka selesai membawa masuk ketiga bungkus plastik besar itu. Sekaran giliran Reyga yang harus memanjat lagi.
Reyga sudah cukup percaya diri. Ini ketiga kalinya ia akan berurusan dengan balkon lagi.
"Ayo, Fis." panggil Reyga, berjongkok untuk membantu Fista memasuki ranselnya. "Malam ini kita bakalan menginap di sini."
***
"Sempat banget kamu beli kompor listrik?" komentar Karin yang wajahnya sudah agak segar meski suaranya masih terdengar seperti orang pilek.
"Aku pingin makan telur rebus," kata Reyga jujur.
"Sebegitunya," dengus Karin geli dan heran.
Untunglah Karin mengambil bagian sebagai tukang masak, dan Reyga sudah tidak punya energi lagi untuk melakukan apa pun. Mereka bertiga berada di ruang tengah. Reyga duduk di lantai, bersandar pada sofa. Sementara Karin menyibukkan diri untuk membuat makan malam mereka, walau Reyga sudah tahu apa yang akan dimasak anak perempuan itu. Mie instan, pastinya.
Bayu tampak asik sendiri memainkan pesawat terbangnya yang diambilkan oleh Reyga di swalayan. Bayu juga mendapatkan cokelat favoritnya. Dan semua itu dituliskan oleh Karin, tentu saja si kakak perempuan sangat perhatian pada adik kecilnya itu.
Reyga mengelus-elus kepala Fista yang berbaring di pangkuannya, tampak sama lelahnya seperti Reyga.
"Siapa nama kucing kamu?" tanya Karin.
"Fista," jawab Reyga.
"Kamu bilang ada kanal radio yang menyala," kata Karin kemudian, melirik pada ponsel mereka bertiga yang sedang di-charge dengan power bank, tentu saja Reyga sempat membawa peralatan elektronik.
"Iya, tapi aku nggak tau kapan kanalnya menyala." Reyga mengambil ponselnya, menyalakan radio, mengotak-atiknya. Namun tidak ada siaran apa pun, ia segera mematikan radio karena terganggu dengan suara berisik statisnya.
Perut Reyga mendadak menggerung berisik. Fista yang mendengarnya sampai meloncat kaget, melototkan pasang mata birunya dengan jengkel sambil berjalan meninggalkan pangkuan Reyga.
Karin tertawa kecil mendengar perut Reyga yang berisik, sementara Reyga hanya mengusap-usap perutnya yang memalukan itu. Wajah Reyga sudah merah padam, tapi mau bagaimana lagi. Untung mereka berada di dalam situasi yang bisa dimaklumi. Sangat memalukan sekali membiarkan perutnya berbunyi senyaring ini di depan perempuan.
"Karin," panggil Reyga ragu-ragu.
"Mm?" Karin tampak serius memasakkan makan malam mereka.
"Siang hari kemarin, kalian berdua ngapain?"
"Kenapa?" tanya Karin.
"Nggak, cuman nanya." kata Reyga, berusaha untuk terlihat normal-normal saja.
"Aku di kamar. Nggak bisa bangun. Tapi kayaknya Bayu nungguin kamu muncul dari pagi sampai siang," jawab Karin akhirnya.
"Nungguin aku?" ulang Reyga gelagapan.
"Iya, tapi kamu nggak muncul sama sekali. Bayu kecewa banget. Jadi kami berdua ketiduran karena lelah dan kelaparan di kamar."
"Oh..." Reyga sedikit ragu mendengar jawaban Karin. "Kalian... mendengar keributan di sekitar sini?"
"Di luar lorong selalu ribut," jawab Karin untuk pertanyaan berikutnya. "Kenapa sih?"
"Oh... nggak, eh, buruan, mienya nanti bengkak loh!" Reyga segera mengalihkan perhatian.
Reyga terdiam memperhatikan Karin yang kini membagi makan malam mereka ke dalam tiga mangkuk, lalu mengupaskan telur rebus.
Entah apakah Reyga harus bernafas lega karena Karin dan Bayu tidak melihat apa yang terjadi siang hari kemarin. Dan seandainya mereka tahu, dan melihat dirinya yang digigit maligon, tidak mungkin kan keduanya menerimanya masuk ke dalam apartemen?
Tapi siang itu pastinya kedengaran ribut. Ia berteriak dan ia membuat klakson mobil berbunyi nyaring di siang hari yang sunyi. Reyga menampik pikiran cemasnya. Paling tidak ia berada di tempat yang cukup aman, bisa makan malam, dan punya teman baru.
Hari pertama Reyga setelah mendapatkan gigitan maligon akan segera berakhir. Dan sejauh ini... kelihatannya dia masih waras.