Di ruang makan yang mewah, terlihat sebuah keluarga sedang menyelesaikan makan malamnya. Dengan hidangan yang sangat lengkap dan lezat, tapi terlihat yang sedang memakan tidak merasakan kenikmatan makanannya. Mereka adalah keluarga Hendra Bastian. Keluarga ini tidak biasanya bisa berkumpul makan malam bersama , biasanya Vian Bastian tidak makan malam di rumah keluarga besarnya ini. Dia lebih senang tinggal di apartemen pribadinya sendiri, sejak papanya menikah dengan Tante Meri, orang yang Vian tahu bahma dia menikahi ayahnya hanya karta hartanya.
"Sayang, kenapa dari tadi pulang kuliah cemberut terus kata simbok? apa ada yang mengganggumu? ayolah makan yang banyak. Biar imunmu terjaga." terdengar suara Tuan Hendra Bastian merayu anak perempuan kesayangannya Sarah.
"Iya pa, Sarah cuma lagi sebel" jawab Sarah.
"Sarah, Kamu kalo sebel jangan dibawa ke meja makan, buang tu sebelnya ke laut, atau makannya di laut aja heehe." sahut Vian menggoda adik semata wayangnya.
"ihh Kak Vian, sebel dech... udah gak sayang ma adek semata wayang yang cantik ini yach? baru saja datang ke rumah jutek amat sih?" rengek Sarah Manja.
"Enggak adekku Sayang, ntar cerita ma Kakak, siapa yang berani mengganggu Adek kesayangan Kakak ini akan berhadapan dengan Kakak." ucap Vian.
"Bener ya kak, Kak Vian bantuin Sarah ya." dengan muka manja Sarah merajuk ke kakaknya.
"Udah udah selesaikan makan dulu, jangan banyak bicara di meja makan. Papa lagi capek hari ini. Papa mau istirahat dulu. Oya Vian, besok Kamu jangan lupa tinjau Hotel Hercules, apa persiapannya udah beres!" ucapnya pada Vian lalu berjalan meninggalkan meja makan.
"Iya pa, Vian sudah siapin semua filenya untuk besok." sahut Vian penuh percaya diri.
Sebenarnya Pak Hendra Bastian sangat sayang kepada kedua anaknya itu. Tapi karena kesibukannya mengurus perusahaan induk dia menjadi sangat sibuk untuk meluangkan waktu bersama. Sejak Ibu Vian meninggal karena sakitnya, Dia lebih sering mengurung diri dikamar setelah pulang dari kantor. Dia juga menyetujui menikahi Meri sahabat istrinya dahulu, karena ada surat permintaan dari almarhum istrinya sebelum meninggal. Ini yang masih dijadikan rahasia dari Vian dan Sarah. Walaupun Vian sangat kecewa dengan pernikahan ayahnya dan tante Meri yang begitu cepat, Ayahnya tetap merahasiakan alasannya. Dia berharap Meri bisa menjadi sosok pengganti Ibunya, tapi ternyata bertolak belakang, karena setelah di beri pengurusan kantor cabang konveksi, Meri lebih sibuk di kantornya dan bepergian keluar negri dengan alasan mengembangkan bisnisnya.
"Kak... tidur sini yach..." pinta Sarah pada Vian.
Semenjak Ayah Vian menikah lagi dengan tante Meri, Vian bertekat tidak mau tinggal di rumah keluarga besarnya. Vian udah membeli sebuah apartemen untuknya tinggal.
"Gak mau... " jawab Vian cepat.
"Ayolah kak, Mama Meri kan sedang ke Swiss kak, jadi kakak tidak akan ketemu sama Mama malam ini." sambil mengedipkan matanya.
"Acara apa dia ke Swiss? kenapa Papa tidak ikut?" selidik Vian.
"Katanya Mama ada tawaran bagus di sana, untuk mengembangkan bisnis konveksinya selama dua minggu ini Kak, Kakak mau oleh oleh apa? biar nanti Sarah suruh Mama belikan untuk Kakak.".
"Tidak usah!! Kakak bisa beli sendiri, sejak menikah dengan Tante Meri sepertinya Papa selalu di tinggal tinggal terus ma Dia, hanya awal awal dulu saja yang sering di rumah. Huh dasar !!."
"Sssttt Kak, jangan keras keras! nanti Papa denger lho, jangan sampe ada keributan lagi. Dulu kan Mama Meri membantu keluarga kita kan kak, sejak mama meninggal. Dan kenapa sih, Kakak masih menyebutnya Tante, kan Dia udah menikah sama Papa, jadi Mama kita kan Kak? lagian Mama meri baik kog kak, Sarah selalu di kasih barang bagus bagus ma Mama Meri, apalagi kalo keluar negri." cerita Sarah sambil senyum melihat barang barang mewah yang yang dia pakai.
"Kamu tu ya, kalo udah dikasih barang bagus aja udah klepek klepek, Kamu dulu masih kecil Sarah, gak Tau Mama dulu seperti apa, gak sebanding dengan Dia!!"
"Hemmm... yaudah deh nggak usah ribut lagi Kak, pokoknya kakak tidur sini ya malam ini, please.... bantu Sarah, Kakak is the best dech, yang paling bisa diandalkan pokoknya." rengek Sarah kepada Vian.
"Emang ada apa sebenarnya?." Selidik Vian.
"Kak... kakak masih inget Dani kan?"
"Dani Sahputra? memang kenapa Dia?" ucap Vian Santai.
"Dani itu kan satu kampus sama Sarah kak, lha Dani itu kan benernya juga masih ada rasa sama Sarah, tapi Dia itu sekarang di tempelin cewek genit kak. Kemana mana mana selalu nempel ma Dani, jadi Dani gak pernah ada waktu ma Sarah, padahal ya kak,,,, cewek itu katanya cuma manfaatin Dani. Kan Dani dari orang kaya sedang Dia itu cuma beruntung aja masuk dari jalur beasiswa di kampus,, sengaja tu biar bisa deket sama orang orang kaya kak." Sarah bercerita dengan sinisnya.
"Hemm emang ada cewek kaya gitu? bikin muak aja. Sama ma tante Meri tu," sahut Vian kesal.
"Duch Kakak, dibilang jangan keras keras, kalo di depan Papa bilang Mama Kak, jangan tante, nanti Papa sedih lho."
"Habis Dia itu kaya ular, pinter banget dramanya. Siapa yang tau Dia di Luar Negeri seneng seneng sendiri kan, apa dikira Kakak gak tau arus keuangannya," sahut Vian dengan senyum tipisnya.
"Kak... kalo Kita tau, terus Kita bisa apa Kak, Kakak tau sendiri kan kalo Papa tu cinta ma Mama Meri, jadi pasti belain Mama Meri kak, udah ganti topik lanjutin tadi kak. Bantuin Sarah buat jauhin cewek itu dari Dani ya Kak, Sarah mau tunjukin kalo dia itu cewek yang nggak bener, biar Dani balik lagi sama Sarah, ya Kak?"
"Emang Rencanamu apa Sarah?"
"Sarah kan punya kak Vian, yang saaaangggat Tampan. Siapa sih yang gak terpesona sama Kakak, Kakak bantu Sarah yach. Kakak pura pura aja deketin dia, hancurin Dia sekalian kek, tunjukin kalo Dia tu cewek yang nggak bener, biar Dani muak sama itu cewek.Ya kak, please," mohon Sarah kembali sambil mendekapkan kedua tangannya.
"Emang dia level kakak? Kakak paling males urusan ma cewek kaya gitu."
"Duch kak, kan cuma pura pura aja, nanti langsung Kakak buang ke laut aja juga gak papa, ihhh amit amit juga kalo sampe Dia beneran deket ma kakak. Siapa aja kog dideketin ma muka sok polosnya, bahkan ya Kak... Pak dosen aja sampe termehek mehek sama Dia. Jadi Dia sering dapet nilai bagus dari dosennya itu kak.. huffttt dasar, nyebelin kan Kak?" Sarah melebih lebihkan cerinya tentang Elsa karena dia Cemburu melihat kedekatannya ma Dani.
"Enek Kakak dengernya, bayangin orangnya aja kaya gitu, udah nggak nafsu apalagi deketin Sarah."
"Buat Dia pergi jauh jauh dech kak, biar nggak ganggu Sarah ma Dani lagi. Ya kak, Kakak tau kan Sarah cuma cinta Dani dari dulu..... " rengek Sarah dengan air mata buayanya...yang tampak sedih.
"Iya iya Kakak bantu, jangan nangis lagi. Tapi Kakak sibuk meeting minggu ini. Kakak akan menyuruh Roy aja ya ngerjain tu cewek biar gak macem macem lagi."
"Asyik....makasih ya kak, Kak Vian emang paling TOP dech." ucap Sarah dengan muka bahagianya.
"Iya... sana tidur udah malam. Kakak juga mau tidur di kamar atas malam ini. Besuk setelah roy ngantar Kakak meeting ke hotel, biar Dia ke kampus kamu."
"Siap Kak, Mbok Dar... beresin mejanya ya, Sarah dan Kak Vian sudah selesai makan, mau ke kamar. " pinta Sarah ke Mbok Darmi kepala asisten rumah tangganya.
"Baik Non... akan Mbok bereskan."
Hari sudah berganti malam, Bintang yang indah terlihat dari jendela kamar Vian yang terletak di lantai dua. Malam itu Vian tidur di rumah keluarganya karena Mama tirinya Meri sedang ke Luar Negeri. Sebelum terlelap muncul bayangan gadis yang telah memijatnya tadi. Tanpa sadar bibirnya melebar membentuk sebuah senyuman. Baru kali ini Dia dipijat oleh seorang gadis dan Vian sangat menikmatinya.
Sedang di sebuah rumah kecil yang sangat berbeda dari rumah keluarga Bastian, ada seseorang gadis yang tidak bisa tidur memikirkan kecerobohannya tadi sore. Dia bingung dan menyesal bagaimana bisa berbuat bodoh seperti tadi, sampai sampai mengakibatkan gajinya dipotong untuk mengganti laptop yang telah rusak akibat kecerobohannya.
Dia juga teringat pengalaman pertamanya memijat seorang laki laki yang gagah dan kuat, walaupun Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah laki laki itu. Ia juga membayangkan bagaimana nanti dia harus bekerja memijat khusus Pria itu, di Apartemennya demi tanggungan karena telah merusak barang miliknya.
"Oh Tuhan... bagaimana nanti." desis Elsa yang kelelahan.
Selain bekerja di sebuah Cafe , Elsa juga bekerja di tempat terapis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan juga untuk membayar biaya rumah sakit tempat Mamanya di rawat. Kadang kala, Dia juga memberikan uang untuk Suster Dewi yang membantu merawat intensif, agar Mamanya tidak terabaikan. Elsa sering kali datang ke Rumah Sakit di sela sela kesibukannya kuliah, dan Dia juga menyempatkan diri memberi pijatan relaksasi kepada Mamanya yang di dapat dari ilmu terapis Pak Tommy.
"Sa, Kamu harus kuat, semangat Elsa. Semua demi mimpimu dan juga Mama. Aku pasti bisa segera melewatinya. Maafkan Elsa ya Ma, hari ini tidak bisa nemenin Mama di Rumah Sakit karena kecerobohan Elsa, besok Elsa janji akan ke rumah sakit " .
Batin elsa mencoba memberi semangat untuk dirinya sendiri dan kemudian tertidur karena badannya merasakan capek di sekujur tubuhnya.
**