#Mohon jangan di baca dulu, karena bab ini masih dalam tahap revisi dan saya akan memperbaikinya dengan cepat# Bunyi tembakan di balik pintu besar itu terdengar sangat nyaring. Sesekali bahkan mereka bisa mendengar jeritan dan bunyi ledakan yang sangat keras dari arah yang sama. Takut terjadi apa-apa pada tuannya, Hetshin bergerak maju untuk melindungi Vastar Al Rasyid dari ancaman yang mungkin akan mereka dapatkan. Berbeda dengan Hetshin, Dere malah tersenyum. Entah senyuman itu mengartikan apa, tapi wajah dengan sepasang mata tanpa cahaya kehidupan itu memberikan sesuatu yang berkebalikan dari sebuah ekspresi kesenangan. “Apa yang kau tertawakan?” “Aku hanya sedang menertawakan kematian kalian.” “...” “Karena ayah dari anakku sudah tiba.” Vastar Al Rasyid menyipitkan sepasang m

