Di sebuah rumah minimalis tepatnya di kamar bercat cream dengan beberapa poster bola yang tampak tertempel di kamarnya itu tampak Angga sedang duduk di tepi ranjang dengan sprei biru tua itu sembari menimang-nimang ponselnya. Pandangannya terlihat lurus ke depan seperti sedang ada sesuatu yang menganggu pikirannya saat ini. “Kenapa aku jadi kepikiran sama temannya Ara itu ya? Kenapa coba dia jadi bad mood begitu? Aku jadi khawatir.” ia mengetuk-ngetuk casing ponselnya yang berbahan hardcase, “Apa aku coba telpon aja ya?” Setelah berpikir sejenak akhirnya Angga memutuskan untuk menghubungi Vela, menanyainya langsung, mungkin lebih baik. Ia mendial nomor Vela lalu menempelkan ponselnya ke telinganya, sekian menit kemudian panggilannya tidak dijawab. “Loh, kok ngga diangkat sih. Apa dia sud

