Fajar menyingsing di jendela ruang tunggu rumah sakit, mewarnai wajah Ibu dengan cahaya abu-abu yang lelah. Ibu masih memeluk Dara, suaranya kini hanya isakan tertahan. Adnan berdiri di sudut, menunggu dalam diam. Tepat pukul 07.00 pagi, saat perawat sibuk berganti shift, ponsel Dara bergetar keras di saku jasnya. Itu adalah nomor kantor Jakarta. Dara ragu sejenak. Ini mungkin momen yang ditakdirkan untuk menguji batasnya. Ia menjauh sedikit dari Ibu dan menjawabnya. "Halo, Bu Sonya." Suara Bu Sonya terdengar penuh energi, kontras total dengan suasana ruang tunggu yang suram. "Dara, akhirnya kamu angkat! Sidang putusan untuk kasus Merdeka Properti dimajukan! Hakim ingin mendengar pembelaan lanjutan atas klausa Hak Adat yang kamu angkat kemarin. Itu akan dilakukan secara virtual, seten

