Pertemuan di Warung Mak Ijah telah memulihkan kegembiraan masa kecil Dara. Setelah Ayunda pamit pulang, Fatih menawarkan diri untuk menemani Dara berjalan pulang, sesuatu yang sering mereka lakukan saat remaja. Mereka berjalan di jalan setapak yang kini diterangi lampu jalan yang baru dipasang (program Adnan untuk desa). Keheningan yang menyelimuti mereka bukanlah keheningan yang canggung, melainkan keheningan nyaman yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah saling mengenal seumur hidup. "Senang melihatmu tertawa lagi, Ra," kata Fatih, memecah keheningan. "Tawa itu sempat hilang saat kamu di kota." "Semuanya sulit di kota, Tih," jawab Dara, tersenyum kecil. "Semuanya serba cepat dan menuntut. Di sini, aku dipaksa melambat, dan ternyata melambat itu yang membuatku melihat semuanya dengan

