Minggu berikutnya, desa mengadakan gotong royong besar-besaran. Tujuannya adalah memperbaiki Saluran Induk Adat yang rusak di beberapa titik—saluran air yang sama yang menjadi kunci kemenangan Dara di persidangan. Pagi-pagi sekali, Dara sudah mengenakan kaos lusuh, celana jeans bekas, dan sepatu bot karet pinjaman dari Ibu. Ia membawa cangkul, tangannya yang terbiasa memegang pena mahal dan tablet kini terasa canggung memegang gagang kayu kasar. Saat ia tiba di lokasi, sebagian besar pria desa sudah sibuk membersihkan endapan lumpur dari saluran. Di sana ada Adnan, yang memimpin pekerjaan dengan penuh semangat, wajahnya berlumuran keringat dan lumpur. "Lihat siapa yang datang! Pengacara kita turun ke lapangan!" seru salah seorang warga, tertawa ramah. Dara hanya tersenyum, tidak lagi m

