Di dalam kamar, Damian melangkah dengan napas memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Amarah, cemburu, dan sesuatu yang lebih gelap bercampur menjadi satu saat bayangan Elena duduk di dalam mobil bersama Dragon terus berputar di kepalanya. Brak! Pintu kamar mandi dibukanya dengan kasar, dibanting tanpa sisa kendali. Clara tersentak bangun di atas ranjang. “Dia kenapa?” gumamnya pelan, matanya menatap pintu kamar mandi yang kini tertutup rapat. Clara memicingkan mata, sorotnya berubah tajam. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan kesimpulan yang membuat dadanya bergejolak. “Berarti benar …” bisiknya. “Damian menyimpan perasaan untuk wanita itu.” Tanpa disadari Damian, Clara tadi mengintip dari balik sela pintu kamar saat pertengkaran terjadi. Setiap bentakan, se

