Elena melangkah keluar dari taman tanpa tujuan pasti. Ia bahkan belum memesan taksi. Kakinya bergerak sendiri, seolah berjalan bisa membantu menata perasaan yang sejak tadi terasa kusut dan menyesakkan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang berdenyut tak karuan. “Sepertinya aku terlalu lama berada di dekat Tuan Damian,” gumamnya lirih. “Mungkin karena itu aku jadi merasa aneh saat melihatnya bersama wanita lain.” Ia mengangguk kecil, seolah membenarkan ucapannya sendiri. Mencari alasan agar rasa perih itu terdengar masuk akal. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah mobil hitam berhenti perlahan di sisi jalan, tepat di sampingnya. Elena menoleh, sedikit terkejut. “Hola, Elena.” Suara itu membuatnya refleks menegang sebelum akhirnya menatap pemiliknya. “Eh …

