Elena terlelap karena kelelahan yang menguras seluruh tenaganya. Sementara itu, Damian sama sekali tak bisa memejamkan mata. Sudah hampir dua jam ia terjaga, hanya memandangi wajah cantik gadis yang kini terbaring di sampingnya. Kedua tubuh mereka tertutup selimut tebal. Damian menggerakkan jarinya perlahan, memainkan anak-anak rambut Elena yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu terlihat begitu rapuh dalam tidurnya. "Cantik …," Batin Damian tersenyum, lalu berubah menjadi kekehan kecil tanpa suara. Dasar nakal. “Aku tidak tahu kenapa aku tak bisa membencimu,” bisiknya lirih, seolah hanya malam yang berhak mendengar. “Padahal aku sudah bersumpah akan membenci setiap wanita yang datang ke hidupku. Tapi kamu berbeda. Kamu justru membuatku tak sanggup ketika melihatmu m

