Damian melangkah menuju kamar Elena. Malam itu ia akan berangkat ke medan perang memberantas para pengusaha bisnis gelap yang tumbuh dengan darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Ia tak tahu kapan akan kembali. Yang ia tahu, sebelum pergi, ia harus melihat Elena … meski hanya sebentar. Ia membuka pintu tanpa mengetuk. Elena tidak terkejut. Sejak lama ia berhenti terkejut oleh apa pun yang dilakukan pria itu. Gadis itu duduk di tepi meja, sibuk menulis di sebuah buku kecil tempat ia menumpahkan segala luka yang tak pernah didengar siapa pun. “Kau sibuk?” tanya Damian, suaranya dibuat serendah mungkin. Tak ada jawaban. Pena Elena terus bergerak, seolah Damian hanyalah bayangan yang lewat. Keheningan itu membuat d**a Damian terasa sesak. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di tepi meja, terl

