Ting. Ting. Ting. Suara notifikasi memecah keheningan kamar yang pengap. Elena yang masih bersandar di daun pintu perlahan mengangkat kepala. Matanya sembap, napasnya belum sepenuhnya teratur. Ia berdiri dengan tubuh terasa berat, melangkah menuju tas kecilnya yang tergeletak di sudut kamar. Jarinya gemetar saat meraih ponsel. Satu pesan masuk. “Maaf, Nona Elena. Apakah Anda berhalangan hadir untuk wawancara hari ini? Jika belum siap, Anda bisa menjadwalkan ulang beberapa hari ke depan. Kami dengan senang hati menunggu.” Pesan itu sederhana. Sopan. Tidak menuduh. Namun justru itu yang membuat d**a Elena terasa semakin sesak. Tangannya mengepal, meremas ponsel itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Rahangnya mengeras, matanya bergetar menahan air mata yang kembali mende

