“Menikah?” gumam Elena. Suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang tersesat di antara detak jantungnya sendiri. Damian mengangguk, tatapannya teguh. “Kita menikah. Dengan begitu, kau akan mendengarkanku sebagai suamimu.” Elena tertawa pendek. Tawa itu kering, tanpa bahagia, lebih mirip ejekan yang menutup luka. “Jadi itu maumu?” katanya sinis. “Menikahiku supaya aku tunduk padamu? Mengikuti semua kemauanmu? Menuruti perintahmu seperti b***k?” Nada suaranya naik, sarat amarah dan kepahitan. “Itu yang kau inginkan?” Damian menggeleng cepat, panik menyusup di wajahnya. “Tidak—bukan seperti itu, Elena.” “Lalu bagaimana?” potong Elena tajam. “Apa belum cukup semua yang sudah kau ambil dariku, hah?” Dadanya naik turun. “Harga diriku, tubuhku yang kau hancurkan, dan—” suaranya

