Damian berlari menuruni tangga menuju lantai dasar. Langkahnya cepat dan tergesa, napasnya sedikit memburu. Ia menyisir dapur tempat para pelayan biasa berkumpul di pagi hari. Begitu sosoknya muncul, suasana dapur yang semula ramai langsung berubah sunyi. Para pelayan sontak berdiri tegak, kepala tertunduk rapi sebagai tanda hormat kepada tuan mereka. “Di mana Elena?” Suara Damian terdengar dingin, datar, namun tajam cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya menahan napas. Salah satu kepala pelayan melangkah maju dengan gugup. “Nona Elena ada di belakang, Tuan.” Tanpa mengatakan apa pun lagi, Damian langsung berbalik dan melangkah cepat menuju bagian belakang mansion. Namun, begitu sampai di sana, ia tak menemukan siapa pun. Alisnya berkerut. Ia melanjutkan langkah menyusuri

