Bab 22 : Kemensup

1377 Words

“Aku dan cucuku berhutang nyawa pada dik Anggi dan Rena.” Kakek Ivan kembali mengulang pernyataan di awal tadi. “Oleh karenanya, izinkan kami menyokong segala rencana dan tindakan kalian berdua di masa depan dan seterusnya.” “Itu jauh lebih baik dari pada penguasaan harta kekayaan oleh Bakery.” Gicchi menambahkan dengan nada ketus. Dia membuang pandang seraya melipat kedua tangan. Ah iya, sekarang aku jadi teringat akan si tukang roti. “Jadi, setelah kesekian kalinya gagal dalam melenyapkan kalian berdua, kira-kira apakah kejadian di rumah sakit itu akan menjadi kali terakhir?” Mulutku mengucap menumpahkan isi pikiran. “Tidak akan,” jawab Rena tegas. “Selama hukum—Di negeri ini segalanya bisa dibeli dengan uang—masih berada di sisinya, dia akan terus mencoba cara lain agar si pemili

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD