“Mirza, istrimu itu benar-benar tidak waras.” Ibu menghardikku.
“Aku Memang sudah tidak waras. Mas jatuhkan talak sekarang juga. Biar Hesti puas, dan merasa senang sudah memiliki kamu seutuhnya.”
“Mala, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Maafkan aku. Kita pulang yuk! Bicara baik-baik di rumah.”
“Rumah? Rumah yang mana? Rumah itu sudah aku jual.”
“Jangan begitu, dong. Itu kan rumah idaman kita.”
“Idaman katamu? Setelah ada dia di antara kita, tidak ada lagi rumah idaman. Sekarang aku tantang kamu, Mas, talak aku sekarang juga!”
Mas Mirza menatapku dengan pandangan sendu. Ia berbalik membelakangiku. Berkacak pinggang, lalu mengusap wajahnya. Dia tampak tertekan.
“Ayo, Mas. Kamu takut?” tantangku.
“Istri durhaka. Biarkan dia memilih keinginannya, Mirza.” Ibu menjatuhkan diri di sofa.
Emosinya sedikit mereda. Apakah karena mendengar tantangan kata talak dari putranya, sehingga ibu sedikit menurunkan egonya? Entahlah, mungkin saja benar. Sedangkan Melati tergugu di karpet bulu depan televisi. Apa yang ada dalam pikiran gadis itu?
“Nggak, Dek. Aku gak akan menceraikan kamu.”
Apa dia bilang?
Brak!
Aku menoleh ke arah pintu yang sengaja di banting. Mas Mirza pun sama. Ternyata Hesti yang melakukannya.
“Oh, rupanya dia gak cukup kuat menerima kenyataan. Apa kamu gak kasihan padanya?”
ucapku sambil menunjuk pintu yang Hesti banting tadi.
“Apa kamu gak lagi mencintaiku, Dek? Ingat, ada Zaki yang harus kita jaga.” Mas Mirza meraih kedua lenganku. Dia tidak memperdulikan kemarahan Hesti. Apakah aku harus senang di sini?
Aku menggeliat agar dia melepaskan tangannya. Tetapi mas Mirza malah mencengkeram lenganku, lalu perlahan tangannya merosot ke bawah, menggenggam jemariku.
“Maafkan aku, Dek. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”
Aku menyentak tangannya, lalu bergerak ke sofa untuk menjatuhkan bobot di sana. Aku lelah. Emosiku sudah memuncak sehingga membuatku terengah-engah selama beradu mulut.
Mas Mirza menyusulku. Dia duduk di sampingku sambil terus menatapku.
“Dek-“
“Aku gak bisa, Mas,” potongku tegas.
“Kita musyawarahkan ini baik-baik, ya? Mas akan pikirkan cara agar kamu dan Zaki mendapat keadilan.”
Aku mencelos. Bisa-bisanya mas Mirza menyinggung soal keadilan. Di mana akalnya, sih!
“Gampang Mas ngomong begitu. Kemarin kemana saja, hah? Pas berduaan, b******u bahkan bercinta di depanku, apa Mas memikirkan bagiamana perasaanku?”
Dia terkesiap, tampak terkejut. Mungkin tak menyangka beberapa hal mesumnya aku pergoki.
“Mas pikir, aku nggak tau apa yang Mas lakukan semalaman di kamar Hesti, hah! Tapi aku gak apa-apa. Sebelumnya pernah memergoki kalian, bahkan sudah kalian berkali-kali. Jadi jangan coba-coba mengelak.”
“Bagus kalau sudah tau!” celetuk ibu dengan pandangan sinis.
“Bu! Jangan memperkeruh keadaan.” Mas Mirza terlihat marah menanggapi celetukan ibu.
Perlahan, tangannya menggenggam tanganku. Aku mendiamkannya, bukan karena menyerah dan pasrah, tetapi memberikan dia kesempatan berkata jujur.
“Mau ngomong apa? Mungkin ini yang terakhir aku datang ke sini,” ucapku ketus.
“Dek, gak boleh ngomong begitu,” ucap Mas Mirza.
“Sekarang gak usah basa-basi, katakan apa maumu, Mas?”
“Jangan seperti itu, Dek. Aku dan Hesti memang saling mencintai dari dulu, tapi aku tetap menjadikan kamu tujuanku.”
Ah, akhirnya kejujurannya aku dengar juga. Aku menganga, lalu menghela nafas tepat di hadapannya. Siapapun tolong, dadaku sakit sekali.
"Aku ... aku sangat mencintaimu, Dek. Tolong jangan-"
“Kok ngomongnya ribet sih, Mas. Ngomongnya yang tegas, dong! Aku sudah tau kalau kalian saling mencintai. Gini saja, deh. Kalau gak bisa membuat pilihan, biar aku yang menentukan pilihan.”
“Aku masih mencintaimu, Dek. Jangan pernah berpikir untuk meminta pisah,” ucap Mas Mirza sambil mengusap matanya. Dia menangis. Untuk apa coba? Untuk menunjukkan betapa dia perlu diberi simpati?
Aku menggeleng cepat.
“Begini saja, Mas, juga Ibu.” Aku menjeda ucapan. Menghela nafas berat, karena perkataanku selanjutnya akan berat juga untuk seisi rumah ini. Ibu tampak melengos saat netra kami bertemu.
“Pertama, aku minta cerai-“
“Dek-“
“Dengar dulu, Mas!" bentakku. Sedari tadi mas Mirza tidak membiarkan untuk aku mengucapkan cerai. “Aku sudah gak respect lagi padamu, Mas. Jadi tolong kabulkan. Kedua, rumah sudah aku jual dan uangnya aku yang memiliki.”
“Gak bisa begitu, dong. Itu rumah harta gono-gini,” Ibu menyahut. Emosinya kembali naik. Keluarga ini akan cepat menyambar ucapanku jika sudah membicarakan tentang uang. Bukankah mudah sekali ditebak betapa serakahnya mereka?
“Gono-gini dari mana, Bu? Mas Mirza juga tau kalau rumah itu murni uang tabunganku. Kalau mau ngitung gono-gini, cuma mobil yang mas Mirza pakai, itu harta gono-gini kami.”
“Enak saja kamu-“
“Terserahlah, Bu. Kalau mau menggugat, silahkan ke pengadilan.”
Sudah kehilangan banyak stok kesabaran, aku berdiri, berbalik dan berniat keluar dari rumah ini. Tetapi lagi-lagi tangan mas Mirza menyekalku.
“Gak bisa begini, dong. Kamu pikirkan lagi nasib Zaki. Dia masih butuh perhatian kita. Kita juga selama ini baik-baik saja, gak ada masalah kan. Hanya saja, mas butuh sedikit pengertian darimu.” Mas Mirza berucap, seolah-olah jika orang lain yang mendengarnya, tentu dia yang mendapat pembelaan.
“Ya, tentu saja aku bakal memberikan pengertian, tapi tidak di persidangan. Sekarang, kita sama-sama angkat kaki dari rumah itu, Mas. Sebaiknya kamu segera ambil barang-barangmu karena pemiliknya yang baru akan segera menempati.”
Aku melenggang keluar tanpa memandang ibu maupun mas Mirza.
Mungkin memang benar, nuraniku p sudah mati oleh kesakitan ini, sehingga tak ada sedikitpun belas kasihan.
Apa aku kejam?
Mendadak langkahku terhenti di teras. Aku menoleh ke belakang. Tampak dari tempatku berdiri, Melati meraung keras, ibu mengomel tak jelas dan mas Mirza hanya mengusap kasar rambutnya.
Kenapa aku sekejam ini?
Hendak berbalik ke dalam, tiba-tiba dua orang datang memasuki halaman. Bukan tetangga atau saudara ibu. Siapa mereka?
“Selamat siang, Mbak,” sapa salah satunya.
“Siang. Ada perlu apa, Mas?” tanyaku.
“Mbak tuan rumah di sini? Kami datang mau menjemput motor yang dijual.”
Motor milik Melati?
“Surat jual belinya, Bu. Silahkan.” Salah seorang dari mereka menyodorkan amlop. Aku tak perlu membukanya, langsung saja menunjukkan sebuah motor yang terparkir di teras.
Aku meletakkan amlop itu di meja luar, lalu pergi meninggalkan rumah ibu.
Saat aku keluar dari halaman, ibu dan mas Mirza terdengar berdebat dengan kedua orang tadi. Terdengar juga suara jeritan keras Melati saat motor itu di turunkan dari teras.
Aku menoleh saat Lian mulai menghidupkan mesin mobilnya. Ibu mengejarku sambil memaki, “ Dasar mantu durhaka! Pergi jauh-jauh! Tega kamu sama adikmu sendiri!”
Aku melepas lelah, sambil terus mendengarkan umpatan ibu yang semakin terdengar samar, lalu menghilang bersama dengan mobil yang membawaku menjauh.
Aku pergi, tapi tidak pulang? Aku merasa tidak memiliki tempat. Rumah yang nyaman? Rumah idaman? Bullshit! Omong kosong semuanya.
Lian menghentikan laju kendaraannya ketika tangis ini tidak lagi dapat dibendung.
“Janjiku tunai, Li, bahwa aku tidak akan meneteskan air mata di rumah itu. Aku sudah membuat banjir air mata di rumah itu. Apa aku kejam, Li? Aku tidak jahat kan, Li?”
Nafasku tersengal karena mencoba menahan tangis. Tangan kokoh di sampingku bergerak meraih kepalaku dan menyandarkan ke pundaknya.
“Menangislah, jangan ditahan.” Ucapan Lian menjebol pertahanan.
Aku yang semula menahan diri untuk tetap tegar, tiba-tiba merasa sangat lemah. Bahu Lian menjadi tempatku bersandar, bahkan kemaja yang dia kenakan basah oleh air mata.
“Aku sakit, Li. Sakit sekali.”
Lian tidak menjawab. Dia membiarkan aku menumpahkan perasaan yang bercampur aduk.
“Aku gak kuat. Rasanya seperti ini dihianati. Sakit sekali, Li.”
:
:
:
Next