Lian datang lebih dulu. Aku baru saja menerima pesan singkat darinya. Dia langsung ke kafe begitu keluar dari ruko.
Mas Mirza sedang ke arah sana. Mungkin saja saat ini dia sedang sesak d**a karena Lian berhasil bergerak lebih dulu.
Lian melambaikan tangan ketika aku memasuki kafe. Dia langsung memberikan surat rumah dan dan mobil kepadaku, tetapi aku tolak. Akan lebih baik jika dia yang menyimpan. Bisa saja mas Mirza atau ibu memaksaku untuk menyerahkan surat itu.
Aku dan Lian membahas penjualan rumah dan semua harta yang pernah aku hasilkan dengan mas Mirza.
“Mas Mirza akan tetap dapat bagian gono-gini sesuai yang dia hasilkan selama hidup bersama denganmu,” ucap Lian. Dia menyodorkan ponsel ke hadapanku.
“Apa ini? Nomor siapa ini?” tanyaku ketika tampak satu nomor pada layarnya.
“Nomor HP pengacara. Minta perlindungan hukum itu perlu. Mana tau keluarga suamimu itu bar-bar.” Lian memberi penjelasan.
Benar juga ucapannya.
“Aku bingung. Sudah terlalu pusing sama urusan mas Mirza. Kamu aja yang urus,” perintahku.
Lian berdecak, tetapi tidak menolak. Biar saja semua masalah jual beli rumah dan urusan pengacara itu menjadi bagiannya.
Lima belas menit berdiam di sana, aku diantarkan Lian ke rumah ibu. Dia terlalu khawatir jika aku mendapat perlakuan kasar dari keluarga mas Mirza.
Lian adalah sepupu terdekat dari keluarga mama. Dia yang selama ini membantuku mendapatkan promosi jabatan, termasuk mendapatkan pekerjaanku juga atas bantuannya.
Dari dulu, Lian tidak menyukai mas Mirza dan keluarganya. Berawal dari perundingan pernikahanku dengan mas Mirza. Keluarga mas Mirza menyerahkan urusan resepsi pada keluargaku.
Sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya, toh hanya sekadar resepsi, mama pasti bisa membayarnya.
Namun, tidak untuk keluarga besarku. Mereka berkeberatan dan menuding keluarga mas Mirza tidak memiliki modal. Bahkan mamanya Lian terang-terangan menghina mas Mirza dan ibu.
Tersinggung, keluarga mas Mirza mengancam membatalkan pernikahan. Akhirnya aku berhasil membujuk untuk mama mengalah dan merelakan membayar resepsi pernikahan kami.
Namun celaka bagiku, karena persoalan itu menjadi pemicu ibu selalu berkata sinis padaku. Ibu juga bersikap buruk dan selalu menyamakan aku dengan keluarga besarku.
Sekarang aku baru sadar, bahwa penolakan Lian waktu itu cukup beralasan. Hanya saja dia memberikan alasan yang tidak tepat. Dia menyatakan kalau Mirza lelaki yang pemalas.
Alasan itu juga yang membuatku marah padanya.
“Kenapa diam saja?” Lian membuyarkan lamunanku.
“Coba aku dulu percaya ucapanmu. Gak akan begini ceritanya.” Lirihku. Lian menoleh.
“Telat, Non. Gak usah disesali. Sekarang, turun, selesaikan urusanmu dengan mereka. Aku tunggu di sini.”
Lian menghentikan mobil tepat di depan pagar rumah ibu. Aku mengernyit, karena di halaman ada mobil mas Mirza.
“Gak usah heran. Aku tadi langsung ngomong ke pemilik ruko kalau Mirza mau menghadiahkan rukonya untuk selingkuhannya.”
“Jadi mas Mirza sudah tau?”
"Apakah terlalu cepat?" Lian balik bertanya.
Aku menggeleng. "Memang sudah saatnya," ucapku.
“Aku yakin, Mirza sudah tau kalau kedoknya sudah terbongkar. Makanya dia langsung kemari. Kamu takut menghadapi mereka?” Lian bertanya sekaligus mengujiku.
“Aku? Takut?” Aku tersenyum miring. “Kamu di sini saja, jangan ikut campur. Aku akan membuat rumah itu banjir oleh air mata. Lihat lah kalau tak percaya.”
Aku membuka pintu mobil. Berdiri dengan anggun sambil menenteng satu tas branded di tangan. Beruntung semua yang aku kenakan barang-barang mahal, sehingga mereka bisa melihat nantinya, siapa aku dan Hesti sebenarnya? Tak layak jika aku bersaing untuk memperebutkan mas Mirza dengan maduku itu.
Mungkin kedengarannya sombong. Entahlah, aku tak punya kata-kata yang tepat untuk mewakili kekesalan ini.
Aku berjalan dengan santai, berniat tidak akan menetaskan air mataku di sini.
Pintu kuketuk dengan anggun. Tanpa menunggu penghuninya, aku memutar kenop hingga pintu terbuka.
Di depanku sudah ada Hesti yang mungkin tadinya mau membuka pintu.
Dia gemetaran memandangku.
“Kenapa? Kaget? Mana suamimu? Mana mertuamu?” tanyaku beruntun. Kasihan sekali melihatnya seperti ini. Dia sampai tak bisa berkata-kata.
“Bisu kamu?”
“A-anu. Ada di dalam," jawabnya tergagap.
Aku berjalan melewatinya begitu saja. Menampakkan diri di hadapan ibu, mas Mirza dan Melati.
Ibu langsung berdiri, menyambutku dengan amarah yang terlihat jelas dari sorot matanya.
Aku berjalan mendekati meja di hadapan mereka. Ada mas Mirza di sana. Dia tertunduk lesu. Tumben.
“Dek, mau apa?” pertanyaan konyol yang diungkapkannya membuatku menatap sejenak.
“Mau ambil bukti kecurangan kalian” jawabku santai. Aku menunduk, meraba bawah meja, lalu mengambil rekaman yang kupasang di laci meja.
“Menantu durhaka! Jadi begini cara kamu berbakti sama orang tua!” hardikan ibu tidak membuatku terkejut. Aku masukkan rekaman dalam tas, lalu berjalan ke meja makan.
“Mala! Durhaka kamu!” Ibu masih membentak. Aku sama sekali tidak terpengaruh.
Tanganku terulur meraih satu rekaman lagi di bawah meja makan. Mas Mirza tampak membuntutiku.
“Jadi begini cara kamu memperlakukan keluargaku, Dek. Tega kamu melakukan ini padaku, pada ibu.” Aku mencelos. Akhirnya keluar juga kekesalannya. “Aku suamimu. Beraninya kamu lebih percaya Lian dari pada suamimu sendiri.”
“Aku yang memerintah Lian. Dia bekerja atas kendaliku. Kamu pikir aku akan diam saja uangku kamu gunakan untuk membiayai gun**kmu itu.”
Aku berjalan ke ruang tengah. Mencari sosok Hesti di sana. Ingin menunjukkan betapa berharganya diriku di bandingkan dengannya.
Dia tampak bersandar di dinding, berdiri dengan mengusap pipinya.
“Hesti Sayang, kalau kamu berkeinginan mempunyai salon, suruh suamimu bekerja sendiri.”
“Mala, lancang sekali ucapanmu!” Ibu meradang. “Uang yang diberikan Mirza kepada Hesti adalah hasil jerih payahnya sendiri. Untuk apa kamu mengucapkan itu pada Hesti.”
“Coba Ibu tanya sama mas Mirza. Gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, Bu. Selebihnya, aku yang menanggung. Dia naik jabatan tapi tidak cukup pintar menggunakan jabatannya itu agar mendapat bonus dan insentif.”
“Mala, diam! Kamu gak ada hormat-menghormatnya sama suami.” Mas Mirza mulai terpancing emosi.
“Kamu marah, Mas? Karena ucapanku benar kan?”
"Astaga, Dek. Uangku, uangmu juga. Sejak kapan kita hitung-hitungan seperti ini? Bahkan kamu juga tidak keberatan saat kita membelikan mobil ibu menggunakan uang patungan."
"Itu dulu, Mas. Sebelum aku tau kalau kalian cuma memanfaatkan aku buat memenuhi gaya hidup kalian yang sok kaya itu. Aku yang membiayai kebutuhan kalian. Tanpa aku, kalian bisa apa, hah?"
"Dek, bukan begitu-"
"Bahkan kamu sudah menghianatiku sekian lama sampai wanita simpanan kamu itu hamil. Kamu pikir aku gak tau, Mas. Ternyata kamu tidak pernah pergi ke luar kota. Jangan-jangan, pas kamu bilang lembur, lembur dan lembut itu, kamu sedang bersamanya?"
"Mala!"
"Sudahlah, Mas. Semuanya sudah berakhir."
"Apanya yang berakhir? Kamu mau menantang suamimu? Mau jadi istri durhaka?" Ibu mengangkat telunjuknya ke wajahku. Ini adalah moment terparah dari kemarahan ibu. Sebelumnya, ibu tidak pernah semarah ini.
"Kalaupun durhaka, biarlah aku menanggung semua dosanya. Allah maha pengampun, aku akan minta ampunan kepada-Nya. Lebih baik aku bersujud bermalam-malam, mohon ampunan karena sudah menjadi istri durhaka. Daripada harus diam, menerima setiap perlakuan kalian dan hanya bisa diam dan menangis, seperti isteri mudamu itu."
Aku menunjuk Hesti yang tergugu.
"Mala! Keterlaluan ucapanmu!" Mas Mirza berdiri tepat di depanku. Matanya nyalang, menyorot tajam, wajahnya juga memerah.
"Aku gak takut, Mas. Gak takut kehilanganmu, juga gak rugi jika kehilangan kalian."
"Mirza, istrimu itu benar-benar tidak waras." Ibu menghardikku.
"Aku Memnag sudah tidak waras. Sekarang, mas, jatuhkan talak sekarang juga. Biar Hesti puas, dan merasa senang sudah memiliki kamu seutuhnya."
"Mala, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Maafkan aku. Kita pulang yuk! Bicara baik-baik di rumah."
"Rumah? Rumah yang mana? Rumah itu sudah aku jual."
"Jangan begitu, dong. Itu kan rumah idaman kita."
"Idaman katamu? Setelah ada dia di antara kita, tidak ada lagi rumah idaman. Sekarang aku tantang kamu, Mas, talak aku sekarang juga!"
Next