Menjual Seluruh Aset

1064 Words
Aku mengoles bibir dengan lipstik warna natural, membubuhkan bedak tipis-tipis, lalu membereskan serakan make up di meja rias. Langkahku terhentisaat melihat bayangan di cermin. Aku memandang bayang itu tanpa berkedip. Tubuhku tinggi, tidak ada lebihan lemak yang bergelambirseperti kebanyakan wanita yang sudah melahirkan. Aku juga pandai merawat diri,rajin ke salon. Untuk urusan ranjang, bahkan tak pernah sekalipun menolak ajakan mas Mirza ketika ingin b******u. Apa kurangnya aku? Sampai saat ini masih bertanya-tanya.Kalau memang ada sesuatu yang tidak disukai, kenapa tak pernah memprotes?Kenapa malah mencari wanita lain sebagai pemuas nafsunya? Apa namanya jika bukan nafsu? Bahkan Hesti dan mas Mirza tak bisa menahan hingga esok hari misalnya. Saat aku dan Zaki pulang. Tak ada kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keb**ohan keduanya. Mereka tidak sadar jika akan kehilangan sumber pundi-pundi rupiah mereka. Ibu pun tidak merasa bersalah, malahan cenderung membela Hesti. Pipiku hampir saja basah lagi. Aku segera menengada untukmembendung lelehan air mata. Terasa sesak dadaku. Sebanyak apa pun cadangan oksigen,tidak akan mampu membuat dadaku lega. Setiap tarikan nafas terasa berat, hingga menyisakan rasa perih. Ya Allah, semiris inikah hidupku. Aku duduk kembali sambil merenungi nasib rumah tangga yangunik ini. Lamunanku terhenti oleh suara ponsel yang berdering dengannada singkat. Sebuah pesan dari Lian. [Kita ketemu nanti sore di tempat biasa. Jamnya kamu yang nentuin.] Aku menimbang sejenak. Bertemu di luar untuk saat ini pasti mas Mirza bakal curiga. Aku langsung menulis pesan balasan. [Jangan sekarang. Aku belum siap.] Pesan aku kirim, lalu beranjak keluar untuk mencari Zakiyang bermain di kamar Melati. Aku baru ingat, jika mas Mirza sedang membersihkan kandang kelincidi belakang. Mungkin dia lupa harus segera pulang. Aku melangkah perlahan melewati ruang tengah. Mengamatipintu kamar Hesti yang tertutup rapat. Curiga. Jangan-jangan mas Mirza ada di dalam sana. Akumelangkah ke dapur. Samar-samar mendengar suara ibu. Bukan Setelah menajamkan pendengaran, yernyata suara Hesti. Naluriku langsung mengajak mengintip. Benar saja, Hesti sedang berbicaradi halaman belakang. Kebetulan pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman sudah belakang terbuka setengahnya. Aku mendekat. Ingin mengetahui lebih banyak lagi percakapan mereka. Aku melangkah lebih dekat lagi. Akhirnya mendapat celah di belakang di balik pintu. Terdengar Hesti sedang terisak. Dasar manja! “Aku gak bisa lama-lama seperti ini, Mas. Mbak Mala menyindirku. Dia merendahkan aku.” Oh, rupanya dia mengadu. Bagus! Lebih cepat memanas akanlebih cepat terjadi ledakan kan? “Sabar, Sayang. Aku sedang mengusahakan sebuah ruko untuktempat tinggalmu nanti. Kamu bisa buka salon di sana, seperti cita-citamu.” Salon? Bukannya Hesti mantan SPG? Astaga! Kenapa tidak menyadari jika dia memang ularberkepala dua? Pembohong ulung. Aku tertipu ucapannya yang santun dan gaya bicaranya yang polos. “Sepertinya, mbak Mala mulai curiga, deh!” “Nggak akan. Mala memang ketus begitu bicaranya, tapi diabaik kok.” “Tuh kan, memuji!” “Nggak, Sayang. Tapi nyatanya begitu. Sabar saja. Kalausemuanya terbongkar, minimal aku sudah bisa membeli ruko itu. Mala gak akan macam-macam. Cuma hardikannya saja yang keras.” Sialan! Jadi ruko itu akan dihadiahkan pada gun**knya? Rupanya dia anggap, aku segitu membutuhkan dia? Apa dia kira, aku akan menangis lalu mengiba karena takut ditinggalkan olehnya? Keterlaluan! Kelakuannya sama persis seperti ibu. “Tapi beneran ya? Jangan lama-lama. Aku juga gak betah tinggaldi sini.” “Siap. Tinggal nunggu pencairan pinjaman. Lalu kita lunasiruko itu.” Hah! Pencairan katanya? Bagus, aku akan buat air mata kalianmencair lebih dulu. Aku menjauhi mereka karena ibu mendekati mereka. Tak ingin ketauan, aku bergegas duduk di meja makan, lalu berpura-pura memanggil mas Mirza. “Mas ...! Ayo, pulang. Sudah siang ini,” Kudengar mereka berbisik-bisik. Aku sudah jengah.Kutinggalkan saja meja makan. Beranjak ke kamar Melati. Gadis itu tersenyumketika aku masuk kamarnya. “Mbak, mau pulang? Aku ikut,” rengeknya manja. Dengan adik iparku ini, aku sama sekali tidak bisa menolak permintaannya. Aku tak merasa dimanfaatkan walaupun dia meminta ini dan itu. “Besok saja mampir sebelum berangkat kuliah. Memangnya kamu mau apa?” “Ih, Mbak Mala. Mau main lah.” “Main tapi pulangnya bawa bontotan,” celetukku. Dia tertawasambil menggendong Zaki ke luar kamar. Melati tak akan marah meskipun aku berkata ketus. Dia malah lebihberani meminta padaku daripada sama mas Mirza. Aku mengukuti Melati. Dengan gerak cepat langsung menentengtas yang sudah di depan pintu, lalu memasukkan dalam mobil. Sambil menunggu mas Mirza, aku memainkan ponsel di teras.Malas masuk ke dalam lagi. Sebab, suasana sudah panas. Gerah. Aku menoleh ketika mas Mirza sudah siap. Diaberpamitan dengan ibu. Aku pun sama. Tak terkecuali dengan Hesti. Dia menundukketika netra kami bertemu. Huft sabar. Aku butuh pendingin ruangan sepertinya, karenaudara yang semilir saja tak cukup kuat mendinginkan panasnya dadaku. Tidak ada acara dadah-dadah. Aku membuang pandangan ketika lagi-lagi menangkap sosok Hesti. "Tenang, Hes. Aku akan buat kamu manangis tapi tanpa air mata. Aku akan ke sini lagi, mengambil rekaman yang sengaja kusembunyikan," ucapku dalam hati. “Kamu kenapa, Dek? Kayaknya badmood gitu?” tanya mas Mirza tiba-tiba. Ternyata dia merasakan perubahanku. Jangan-jangan, dia taujuga kalau mencium kebusukannya. “Biasa. Lagi datang tamu bulanannya.” Syukurlah terpikir jawaban yang pas. “Oh, pantesan,” ucapnya singkat. Tak ada basa-basi lagi antara aku dengannya. Kesakitan inimembuatku di berubah sedemikian cepat, sehingga menimbun cinta yang ada. Pandanganku hanya terpampang sesuatu yang negatif saja. Terlebihsetelah mendengarkan obrolan mas Mirza dengan Hesti. Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diri. Sangatnyaman di kamar sendiri. Namun, sepertinya aku takkan lama menempati rumah ini lagi. Tiba-tiba mataku memanas, lalu basah oleh air mata. MasMirza masuk dengan menenteng tas. Aku langsung menelungkup untuk menghindari tatapannya. Mas Mirza berpamitan ke luar. Katanya mau melihat ruko yangakan dia beli. Biarkan saja. Mungkin dia bakal marah setelah ini karena Lian aku perintahkan membatalkan pembelian. Aku meraih ponsel, lalu melakukan panggilan dengan Lian. "Halo, jadi bertemu? Sekarang saja, mumpung aku lagi di luar.] Suara bising, mungkin Lian berada di pusat keramaian. "Berisik, Li. Kamu lagi di mana, sih!" "Di ruko. Baru saja menemui pemiliknya. Eh iya, rumah kamu sudah dapat pembeli yang cocok. Dia minta melihat-lihat secara langsung." "Bagus. Segera ke kafe biasa. Kita ketemu di sana." Aku menutup panggilan. Rasanya puas mendengar ucapan Lian. Aku tersenyum. Meski luar biasa sakit, tapi aku merasa menang. Pencairan pinjaman batal, otomatis ruko pun batal dibeli. rumah sudah laku, dan motor milik Melati dalam proses jual beli. Tadi pagi ketika memakai motor itu, aku mengambil surat-suratnya dari dalam jok. Melati memang selalu meletakkan di sana. Tinggal mobil mas Mirza. Mungkin akan aku urus sendiri, mengingat dia punya setengahnya. Mas Mirza, Hesti ... sampah memang harus berada di tempatnya. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD