“Halo, Lian. Surat-surat yang pernah aku titipkan padamu,tolong periksa kembali. Dan ... aku ingin rumah beserta isinya di uangkan. Mobil atas nama masMirza juga. Aku mau secepatnya.”
Aku menutup panggilan dengan menelan saliva. Cukup, semuanyaakan segera selesai, mas. Kita lihat, seberapa hebat dirimu tanpa aku.
Aku merebahkan tubuh di samping Zaki, memeluknya eratseperti takut kehilangan. Apa pun alasan perpisahan nanti, aku ingin Zaki bersamaku.
Tekadku sudah bulat, bahwa perpisahan adalah solusi satu-satunya.
*
Mataku pedih karena hingga lewat tengah malam tak juga mau terpejam. Meskipun sudah melakukan aktivitas ringan, tetapi aku tetap sajatidak tenang. Aku baru saja selesai menempatkan alat penyadap di dua tempat.Dengan begitu, aku bisa mengetahui rencana mereka.
Aku merasa, mas Mirza akan bergerak lebih dulu. Tiga hari sebelumnya, dia kepergok membuka lemari tempat penyimpanan surat-surat penting.Beruntung surat rumah sudah aku pindahkan.
Sebenarnya tidak sengaja aku bawa ke kantor saat inginmemberikan surat rumah sebagai jaminan pengajuan utang ke bank. Entah kenapa, perasaanku seperti ada yang mengarahkan agar memperlihatkan surat itu pada Lian, sepupuku yang bekerja satu kantor denganku. Entah kenapa juga, aku memintanya menyimpan surat itu. MungkinAllah sedang menunjukkan cara untuk menyelamatkan aset berharga itu.
Sebelumnya, mas Mirza meminta sejumlah uang untuk membelisebuah ruko punya seorang teman. Untuk itu, kami sepakat mengajukan pinjamanbank untuk menambahkan tabungan kami yang belum cukup. Proses peminjaman masih dalam proses saat ini. Namun, akan aku batalkan secara diam-diam.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mas Mirza masuk denganlangkah gontai. Ia mengusap mata. Benar, dia sampai ketiduran bersama Hesti. Ah,entahlah. Tidur-tiduran atau ketiduran, bagiku sama saja.
Ranjang sedikit bergoyang. Aku rasakan tubuh kekar itu merangsek. Tangannya melingkar ke perutku.
Jelas aku merasa jijik. Tak tahan membayangkan bekas Hesti menempel ke tubuhku, aku bergeser kesamping kiri, berguling memunggunginya, lalu memeluk Zaki.
Mas Mirzamemindahkan tangannya. Beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halusnya.
Hatiku terasa sangat sakit. Melintas kembali bayangan-bayangan mereka. Ibu yang terkadang tersenyum sinis padaku, bahkansempat menggunjingkan aku bersama Melati. Mas Mirza yang sangat perhatian,tetapi teganya berkhianat di belakangku. Melati yang sebagian besar biayakuliahnya berasal dari keringatku.
Gadis itu juga pernah merengek karenakelelahan harus berkejar-kejaran dengan angkot, lalu meminta sebuah motor matickeluaran terbaru.
Terakhir, si Hesti. Aku kira seperti apa kepribadiannya? Ternyata dia kurang lebih parasit. Aku yakin, hidupnya akan bergantung dengan ibudan mas Mirza.
Suara azan terdengar dari masjid seberang jalan. Akuberanjak bangun. Sekarang, kepalaku bertambah sakit saja, karena semalamanberpikir dan sama sekali tidak memejamkan mata.
Aku mengerjakan kewajiban dua rekaat, lalu bergegas ke dapur.
Tak ada siapa pun, dapur masih sepi. Aku beranjak keluar saja. Membeli menu sarapan untuk seisi rumah ini. Barangkali untuk terakhir kali.
Dua paper bag berada dalam genggaman. Berbekal motor maticmilik Melati, aku menyambangi restoran Padang. Kebetulan buka 24 jam. Aku takperlu repot-repot masak dan menghabiskan tenaga untuk mengenyangkan perut mereka.
Tiga mangkuk dan satu piring saji kuletakkan di atas meja.Lalu memindahkan isian paper bag ke atasnya.
Finish. Aku beranjak ke kamar membangunkan Zaki. Ternyatamas Mirza ikut terbangun.
Aku kembali ke dapur, Zaki menjadi urusan mas Mirza. Saat membukapintu kamar, tampak sosok Hesti keluar dengan mengurai rambutnya yang basah.
Dia tampak kikuk menatapku. Mungkin merasa bersalah setelah mencuri mas Mirza semalaman, atau mungkin juga merasa menang karena berhasil mengelabuhiku.
Dia langsung bergegas ke dapur.
Seperti dugaan, dia terkejut melihat meja makan. Sebab, di sana sudah tersedia menu sarapan, lengkap dengan sandingannya,apel dan pisang yang kubawa kemarin sebagai oleh-oleh, s**u hangat dalam tekokaca dan sepiring salad, terkhusus untukku yang menjaga pola makan.
Aku duduk menghadap meja. Hesti masih kikuk, tampakkebingungan mau mengerjakan apa. Semuanya sudah beres. Ternyata, cumaseperti ini menantu kesayangan ibu.
Ibu memasuki dapur, disusul oleh Melati. Lima menit kemudian, Zaki muncul dalam gendongan mas Mirza.
Ibu dan Melati tampak mengamati meja makan.
“Beli mbak?” tanya Melati sambil menyomot remahan ayamgeprek di atas piring saji.
“Hu’um,” jawabku santai sambil menuangkan air panas dalam kelasberisi s**u untuk Zaki. Kemudian, belalih menuangkan s**u ke semua gelas dibelakang kursi.
“Kita sarapan,” tawarku tanpa basa-basi.
“Mbak Mala pagi banget nyari sarapannya,” ucap Melati. Gadisini satu-satunya orang yang lumayan baik padaku. Mungkin karena azas manfaat.
“Kebiasaan bangun pagi, Mel,” balasku. Tangan masih bergerakmenyendok nasi ke piring mas Mirza dan Zaki.
“Tapi gak masak,” celetuk ibu. Celetukan seperti ini biasa kudengar. Ibu akan memprotes apapun yang kulakukan.
“Mbak Mala kan sibuk, jadi wajar dong.” Melati menanggapi.
“Mala gak sempat masak. Malah lebih praktis beli,” celetukmas Mirza. Dia memang selalu membelaku di depan ibu. Tapi berani juga bilangbegitu di hadapan Hesti. Kira-kira, maduku itu bakal marah gak ya mendengar suaminya membelaku ?
Mendapat dua pembelaan membuatku merasa menang, paling tidakdi hadapan Hesti.
“Makan yang banyak, Hes. Kamu butuh banyak tenaga ...,”Ucapanku menggantung.
“Buat?” Melati menyambung. Kurasa cuma dia yang paham bahasaseperti ini.
“Buat menerima kenyataan,” balasku sambil menepuk lengan iparku. Melati tertawa lebar. Akupun sama.
“Hush! Di meja makan gak boleh tertawa.” Ibu memperingatkan.Aku masih menyemburkan sisa-sisa tawa bersama Melati.
Kulirik Hesti yang tampak tenang tanpa pengaruh, begitu pun denganmas Mirza.
Dasar, nurani kedua manusia ini memang sudah mati. Hesti menyendok makanannyadengan segan, terlihat kikuk dan serba salah. Ternyata, segitu saja nyalinya. Lihat,wajahnya saja yang tampak polos, merasa tak bersalah. Beraninya cuma main belakang.
“Sampai kapan Hesti tinggal di sini?” Pertanyaanku membuat masMirza mengangkat wajah, memandangku sejenak, lalu pergi beralih menatap Hesti.
“Sampai lahiran,” jawab mama. “Mungkin sampai sehat,” sambungnya lagi.
“Lama amat,” celetukku.
“Nunggu suaminya jemput kali, Mbak.” Tiba-tiba Melati ikut nyeletuk.Dari celetukannya, apakah Melati tidak mengetahui kelakuan kakaknya?
“Biarlah tinggal di sini. Lama juga gak apa-apa. Ibu yang menanggungbiaya kelahirannya. Sudah Hes, gak usah di dengerin orang yang nyinyir.” Ibu meradang.Terlihat sekali sikap aslinya.
Ada yang lucu ketika ibu bilang, ibu yang akan membiayai. Akujadi kepengen nyeletuk juga, uang siapa yang dibuat untuk membiayai gun**k satu ini. Pastilah uangaku.
“Gak apa-apa, sih. Asal gak ngerepotin aja,” balasku.
“Ibu yang direpotin saja gak apa-apa. Ngapain kamu yang sewot?”Ibu mulai emosi. Suaranya mulai meninggi.
“Bu, sudah. Dek, gak perlu berdebat. Berapa sih, biaya melahirkan?Nanti biar mas yang bayarin kalau Adek berkeberatanmembantu ibu.” Mas Mirza juga ikut-ikutan membela Hesti. Oh, aku bertambah sadar.Mereka memang perlu diperingatkan secara langsung.
“Halah. Uangmu juga dari aku kok, Mas. Tapi gak apa-apa sih.”
Aku mengakhiri sarapan. Salad yang di depan mata sudah ludes.
“Dek, kok ngomongnya gitu,” protes mas Mirza.
“Biasa, mungkin Mala cemburu sama Hesti,” celetuk Ibu tanpa menimbang perasaanku.
“Bu!” ucap mas Mirza.
“Tenang, Mas, Ibu. Aku gak keberatan kok, Hesti dibiayai masMirza. Aku tadi cuma ... cuma cemburu aja. Bener kata ibu.” Aku melemah saja, menyenangkanhati mereka sebelum benar-benar aku hancurkan.
“Tuh, kan? Apa kata ibu?” ucap ibu percaya diri.
Aku menyudahi sarapan. Ketegangan di meja makan tidak berlangsung lama. Aku tak ingin mengakhiri sandiwara mereka di sini, belum saatnya.
Hesti terlihat mencuci piring. Mas Mirza dan ibu mengajak Zakibermain di depan. Melati pergi dijemput temannya.
Ini saatnya sedikit memberikan sentilan pada adik maduku.
“Mbak,” sapanya begitu melihatku.
“Jangan kaget melihat kehebohan di sini. Ibu sama mas Mirza memang begitu.” Aku duduk di kursi. Tak berniat membantunya mencuci piring.
“Begitu bagaimana, Mbak?” tanyanya polos, pura-pura bo**h menurutku.Aku tak segera menjawab, masih memandang tubuh yang terlihat kepayahan saat berjalanmeletakkan piring dan gelas pada rak.
Menatap perutnya yang buncit, membuatku seketika sangat muak padanya. Buah cinta pertama Hesti dengan suamiku sebentar lagi lahir dan itu membuatkusemakin membenci keduanya.
“Mbak!” Panggil Hesti karena aku hanya melamun. Aku terkesiap,lalu pura-pura menyambar toples berisi cemilan.
“Ya itu tadi, seperti di meja makan.”
“Iya mbak. Aku sudah tau.”
Tentu saja dia tau. Lebih paham dariku semestinya.
“Semua yang tinggal di rumah ini, hidupnya tergantung padaku. Ya ... walaupuntetap saja ibu gak suka sama aku.”
“Aku gak ngerti maksud Mbak Mala.”
“Gak ngerti yang mana?”
“Itu tadi, pas Mbak bilang kalau di rumah ini kehidupannya bergantunganpada Mbak Mala.”
“Oh, iya. Kamu kan baru di sini. Jadi, gak paham alur keuangandi rumah ini.”
Aku berdiri mendekati Hesti yang sedang mengelap tangannya. Sengajamerapat agar ucapanku bisa diingat dan dicerna dengan baik.
“Hesti. Sebenarnya, aku gak masalah kalau cuma membiayai kelahiranmu.”
“Aku gak minta kok, Mbak. Ibu sudah janji mau membantu. MbakMala gak perlu repot-repot.”
“Gak perlu repot-repot gimana, sih! Ya jelas repotlah. Kamu pikir,kebutuhan di rumah ini siapa yang bayar? Mas Mirza? Mana cukup. Kebutuhan rumahkami saja nombok, bahkan aku yang menambahi.”
“Tapi-“
“Soal kontrakan ibu? Iya sih, ada. Tapi kira-kira cukup gak ya,buat membiayai kuliahnya Melati.”
“Maksudku ....” Hesti terlihat sangat bingung.
“Hesti, mas Mirza itu bukan apa-apa tanpa aku. Apalagi ibu!”
Hesti terdiam seketika. Aku berlalu meninggalkannya yang baru saja terkena pukulan telak.
“Mbak, mau ke mana? Gak masak buat makan siang?”
Aku menoleh, lalu mengeryit.
“Masak? Sorry ya, aku gak pernah masak. Sejak kecil apa-apa diurusin pembantu. Bahkan selama jadi menantunya ibu, aku belum pernah sekali pun masak. Uang Hesti, aku bisa membereskan semuanya dengan uang.”
Aku menggeleng pelan, lebih pada menyepelekan dia. Biar saja jika Hestimenganggapku sombong.
Wanita parasit seperti dia memang harus diberi peringatan, supaya sadar bahwa semua yang dia nikmati dulu dan saat ini adalahhasil dari keringatku.
Sekarang, apa dia masihpunya muka tetap berdiam di hadapanku?
Next