Came on, baby. Ini baru awal.
“Kenapa? Gak makan kok keselek?” Aku menggeser tubuh agarbisa melihat ekspresinya.
“Gak apa-apa, Mbak.” Hesti kembali menggerakkan koin. Segerabergerak mungkin menghindari tatapanku.
“Jadi, kamu istri siri?” tanyaku merendahkan suara. Sengajaagar tampak lebih natural. Kalau aku langsung meninggikan suara, bisa-bisa Hesti naik darah menghadapiku. Walaupun sebentar lebih bagus begitu, tapi akutidak sampai hati melihatnya yang sedang hamil tua.
“Iya, Mbak.”
“Kenapa mau jadi istri siri? Apa gak takut ketauan istri tuanya?”
Hesti masih aktif menggerakkan koin di punggung, sepertinyadia mulai mengenali karakterku.
“Karena dia cinta pertama saya, Mbak.”
Sekarang, aku yang seperti tersengat aliran listrik.Mendadak kepalaku berputar hebat.
“Sebentar-sebentar, kepalaku sakit.”
Aku menyuruhnya berhenti sejenak. Entah karena tubuhku yangmemang lemah atau karena mendengar ucapan Hesti. Tapi kepalaku memang terasa sakit.
“Aku buatkan teh ya, Mbak,” tawarnya.
“Nggak usah.” Aku langsung menolak, karena tentu saja curiga. Jangan-jangan, Hesti memberiku racun nanti. Otakku sudah berisi pikiran-pikiran buruk saat ini.
“Lanjutkan saja,” perintahku.
“Baik, Mbak.” Hesti menggerakkan lagi koinnya.
“Jadi, mantan suamimu itu cinta pertamamu?” tanyaku makin penasaran. Benarkah begitu? Jangan-jangan, begitu juga dengan mas Mirza.
“Iya, Mbak. Sama juga dengannya.”
Benar tebakanku. Dasar, mas Mirza!
Ingin merutuk, tapi terpaksa aku tahan.
“Istrinya tau?” tanyaku serius.
“Nggak, Mbak.”
“Kamu gak takut?” tanyaku mengetes
“Gak akan tau, Mbak,” jawabnya santai.
Gak tau, katanya. Dasar, benar-benar buta matanya.
“Syukur deh. Mudah-mudahan istrinya gak akan tau.Ngomong-ngomong, tolong di sebelah sini, dong.”
Aku meninggikan rambut, agar Hesti memindah koinnya ke tengkukku.
“Ini sudah merah-merah, Mbak,” ucapnya.
“Itu bekas cupangnya mas Mirza. Dia memang hobi seperti itu.”
Hesti terdiam, terdengar menghela nafas. Mungkin dia kesal.Aku jadi ingin tertawa. Sedikit hiburan sebelum aksi sebenarnya dimulai.
“O ya, kamu lulusan apa? Berapa umurmu?” tanyaku beruntun.
“SMA, Mbak. Umurku dua puluh dua tahun,” jawabnya.
“Masih muda untuk menjadi pelakor kamu, Hes,” ucapku dalam hati,untung gak keceplosan.
“Pernah kerja?” tanyaku lagi.
“Iya, Mbak. Jadi SPG.”
“Oh.”
Entah kenapa, aku semakin penasaran dengan wanita ini. Aku rasa, tak ada hal istimewa dari Hesti. Kenapa mas Mirza menyukainya? Apakahalasan satu-satunya hanya karena cinta pertama?”
“Mbak,” panggilnya. Aku sedikit menoleh.
“Kenapa? Mau tanya-tanya juga? Silahkan kalau mau nanya,”pancingku. Mudah-mudahan dia bertanya banyak tentang aku.
“Gak, Mbak. Gak berani,” jawabnya terdengar lugu.
“Kenapa gak berani? Tanyakan saja kalau penasaran.”
“Em ... Mbak Mala kerja?” tanyanya takut-takut.
“Iya. Kenapa? Sudah cukup kerokannya.” tanyaku balik.
“Enak ya, Mbak? Bisa pegang uang sendiri.”
Aku mengernyit mendengar jawabannya.
“Menurutmu begitu?” Tanyaku sambil beranjak, berdiri lalu mengenakan tunikku.
“Menurutmu nggak begitu. Malah enakan duduk manis, tanpakerja terus ngitung duit suami. Begitu kan?”
“Iya, eh gak tau Mbak.”
“Memangnya kamu gak dikirim duit.”
Hesti menggelengkan. Aku menatapnya intens.
“Terus?”
“Dikasih sebelum pergi. Lumayan buat biaya lahiran.”
“Kamu salah langkah. Mestinya kamu minta rumah pribadi,mobil pribadi, dan uang tabungan juga. Supaya kamu dan anak kamu punya jaminan hidup yang layak. Suamimu kaya gak?”
“Lumayan kaya, sih.”
“Kamu sudah dikasih apa saja?”
“Belum. Cuma dijanjikan doang.”
“Kasihan bener hidupmu. Makanya jangan mau dijadikan istri siri.”
Hesti mendelik. Dia terlihat tersinggung. Rasain.
Baru saja ingin menyuruhnya keluar, tiba-tiba pintu didorong dari luar. Zaki dan mas Mirza masuk berbarengan.
“Mama ...,” sapa Zakilangsung berlari ke pembaringan.
“Iya, Sayang,” balasku.
Kedatangan mas Mirza membuat Hesti kikuk. Dia yang semuladuduk di sofa langsung berdiri.
Aku mendekati mas Mirza sambil mencuri pandang kedua insanyang saling lirik ini. Lalu, tanganku terulur ke wajah tampan suamiku. Mengusap peluh di dahinya.
“Mas kelihatan seksi kalau keringatan seperti ini,” ucapkusambil merapat ke tubuhnya, lalu memberikan kecupan singkat ke bibirnya.
“Mbak Mala sudah selesai kan? Aku boleh keluar?” Mendadak Hesti berucap.
“Oh, iya, silahkan,” balasku.
“Hesti di sini ngapain?” tanya mas Mirza sambil berbisik.Aku menoleh ke samping, mengikuti gerak Hesti keluar. Sengaja memanas-manasinya. Dia melirikku sejenak sebelum menutup pintu.
“Tadi aku masuk angin. Minta kerokan sama dia.” Aku menjauhimas Mirza, lalu beranjak mendekati Zaki. Sebenarnya muak menjalankan peranseperti ini.
“Mandilah sama Papa, Sayang. Nanti kita makan setelah ini,”ucapku pada Zaki.
Mas Mirza mengajak Zaki mandi. Aku bergegas ke luar kamar,menyiapkan makan malam.
*
Makan malam kali ini ibu tidak berada di rumah. Ibu menemani Melati keluar untuk berbelanja keperluan gadis itu.
Bersyukur ibu tidak ada, sehingga aku bisa mendominasi meja makan. Seperti sebelumny, aku sengaja memanas-manasi Hesti. Dia terlihat mulai menguasai keadaan, tidak terkejut seperti sore tadi.
Mas Mirza juga terlihat sangat tenang, bahkan mampumenyantap makanannya hingga habis. Pintar sekali aktingnya.
Malam beranjak, aku sengaja bermesra-mesraan di depan televisi. Menemani mas Mirza menonton acara bola sebenarnya bukan termasuk hobiku. Tapi tak mengapa. Memberikan hiburan gratis untuk Hesti.
Aku tau, dia sedang mengintip dari balik pintu kamarnya.Mungkin dia cemburu, atau bahkan menangis. Kelihatannya, Hesti bukan wanitayang kuat. Dia masih labil. Mudah-mudahan rencanaku selanjutnya bisa berjalan lancar. Sebab, untuk membuat mas Mirza terjatuh, aku butuh sosok manja dari Hesti.
Mas Mirza sudah bermain api di belakangku. Tanpamempertimbangkan seberapa besar pengorbananku untuk keluarganya. Lihat saja,akan aku lepas dirinya menjadi gembel, lalu menyerahkan pada wanita manja itu. Rasakan,kalian akan tau sakitnya dibuang percuma.
“Aku mengantuk, Mas. Aku menyusul Zaki, ya?” Aku bangkitdari pangkuannya. Mas Mirza tak memberi jawaban, dia hanya menganggukkan kepala.
Aku siap mengikuti alur permainan mereka. Sekarang, akubersiap pura-pura tidur. Setelah ini, aku ingin tau hal sebenarnya.
Benar saja, sepuluh menit berselang, mas Mirza masuk ke kamarku. Menaikkan selimut, sepertinya dia memastikan aku dan Zaki sudah terlelap.
Dia keluar dengan menutup pintu. Aku langsung menyibak selimut, menuruni ranjang dan bergerak mengikuti mas Mirza. Caranya itu sangat mencurigakan. Sebab, berjalan mengendap-endap.
Aku membuka kenop pintu dengan perlahan, mengantisipasibunyi yang tak terduga. Langkah kupercepat, ingin melihat langsung kelakuanmereka di belakangku.
Kamar Hesti berada di bagian depan. Dia menempati kamar tamu. Aku berjalan dengan memperhatikan sekitar. Keadaan ruangan yang temarammemudahkan aku menyelinap tanpa bersusah payah sembunyi-sembunyi.
Mas Mirza sudah sampai di depan kamar Hesti. Dia mengetuk perlahan. Tak lama kemudian, wanita itu membukakan pintu. Mas Mirza masuk, lalulangsung menutupnya.
Dasar binatang! Aku di sini, satu atap dengan mereka,bisa-bisanya merasa aman berbuat seperti itu.
Aku berjalan mendekati pintu itu. Debaran di d**a semakin kuat. Kali ini, sakit hati sudah tidak lagi kurasakan. Mungkin sudah mati rasa,yang ada dalam otakku hanyalah membalas perbuatan mereka.
Aku berdiri tepat di depan pintu, mendengarkan suara tawaan keduanya, lalu hening. Beberapa menit kemudian terdengar desahan laknat. Akumenutup telinga. Bisa-bisanya mereka berbuat seperti itu.
Langkahku goyah menjauhi kamar meninggalkan suara-suara menjijikkan itu. Aku menabrak pintu kamarku dan bersandar di baliknya.
Menatap sosok bocah yang masih terlelap di ranjang sana, semakinmenambah kobaran api dendam ini.
Aku berjalan ke meja rias, menyambar ponsel, lalu melakukan panggilan.
“Halo, Lian. Surat-surat yang pernah aku titipkan padamu,tolong periksa kembali. Dan ... aku ingin rumah beserta isinya di uangkan. Mobil atas nama masMirza juga, Li. Aku mau secepatnya, ya?”
Aku menutup panggilan dengan menelan saliva. Cukup, semuanyaakan segera selesai, mas. Kita lihat, seberapa hebat dirimu tanpa aku.
Next