"Oi, Choi Yeonjun."
Yeonjun yang tengah memakan beberapa cokelat itu menoleh, menatap Beomgyu yang baru saja masuk ruangan ekskul seni musik dengan alis terangkat sebelah. "Lo emang nggak pernah bisa punya akhlak bagusan dikit, ya?"
"Saran lo nggak guna. Ara malah nggak suka, tau." Ujar Beomgyu yang kini memasang air muka kecut, membiarkan Yeonjun yang masih kesal karena Beomgyu memanggil namanya tanpa embel-embel Kak, Bang, Hyung, atau yang lainnya.
Jadi, tindakan Beomgyu yang menemui Ara secara tiba-tiba tadi, itu semua sarannya Yeonjun. Kemarin, saat Beomgyu tidur dan tak sengaja membiarkan surat dari Ara berada di meja, Yeonjun langsung mengambilnya. Cowok yang bertugas sebagai vokalis sekaligus rapper di band The Lights itu geregetan karena menurutnya Beomgyu nggak melakukan hal yang keren.
Padahal, melihat dari kelakuan aneh Beomgyu setelah membaca surat dari Ara, Yeonjun bisa memastikan kalau Beomgyu itu tertarik. Hanya saja, Beomgyu memang membosankan. Dia bilang bakalan mencari dan menemukan Ara dengan caranya sendiri. Namun, setelah tiga hari berlalu, Yeonjun nggak melihat hasil yang signifikan. Karena itu, ia sengaja menempelkan surat dari Ara-yang Yeonjun curi dari Beomgyu-ke mading sekolah lantai satu, sehingga semua orang bisa melihatnya hari ini. Beomgyu yang kebingungan lucu sekali, ia meminta saran untuk apa yang harus ia lakukan. Dan Yeonjun, hanya melakukan tugasnya. Ia nggak salah, 'kan?
Yah, Yeonjun cuma nggak tahu, bahwa selama tiga hari ini, Beomgyu mencari dan mengamati Ara dari jauh.
Pada hari pertama, Beomgyu sedikit kesulitan mencari Ara. Awalnya, sih, cowok itu berpikir hal itu akan mudah karena sudah tahu Ara berada di kelas mana. Sayangnya, di kelas Sepuluh Ipa Tiga itu, ada tiga cewek bernama Ara.
"Ada tiga Ara di sini, Kak; Arabella, Aranita, dan Karanina." Jawab anak kelas Sepuluh Ipa Tiga yang baru saja Beomgyu interogasi.
Setelah menghabiskan nyaris seharian mengamati ketiga Ara, akhirnya Beomgyu mendapat jawaban. Ara yang ia cari adalah Ara yang ketiga, tak lain tak bukan adalah Karanina. Cewek berambut bergelombang dan mata bulat yang warnanya sehitam malam.
Beomgyu bisa menemukannya karena Ara yang memberi tahunya, secara tidak sadar.
Sejak pertama kali membaca surat dari Ara, Beomgyu menyadari beberapa hal: kertas suratnya seperti dirobek paksa- bisa dilihat dari pinggiran kertasnya yang tak rapi untuk ukuran surat cinta, amplopnya sebelas duabelas dengan amplop usang di laci meja guru, dan Ara menyebutkan bahwa Beomgyu tak seharusnya membaca surat itu.
Artinya, Ara memang tak pernah berniat untuk memberikannya pada Beomgyu. Entah untuk apa, tetapi Beomgyu yakin pasti ada alasan di baliknya.
Benar saja. Ketika Beomgyu sedang berpura-pura nongkrong di depan perpustakaan-yang kebetulan berseberangan dengan kelas Ara, salah satu dari tiga cewek bernama Ara di kelas Sepuluh IPA Tiga keluar dari kelas dengan muka kalut. Ia memegangi jurnal berwarna birunya sambil meneriaki teman-temannya yang tengah bersantai di depan kelas.
"ADA YANG NGEROBEK JURNAL GUE, GUE YAKIN." Katanya tegas, menyuguhi teman-temannya yang bingung dengan pelototan seram. "SUMPAH YA, GUE NGGAK RIDHO KALO SAMPE ADA HAL BURUK YANG TERJADI GARA-GARA INI. KERTAS ITU HARUSNYA NGGAK DIBACA SIAPAPUN."
Salah satu dari teman-temannya, yaitu cewek berambut sebahu dan berkaca mata bulat, mendadak pucat pasi. Bisa Beomgyu tebak, cewek itu pelakunya. Wah, setelah ini mungkin Beomgyu harus berterima kasih kepada cewek itu. Berkatnya, Beomgyu bisa menyadari kehidupan Ara.
"Udahlah, Ra. Mungkin dirobek adek lo yang iseng? Emang itu apaan, sih?"
Ara mendengus. Kalau memang benar, Adiknya pasti bakal mengejeknya karena menulis surat cinta untuk Beomgyu. Yah, semuanya salah Ara, sih. Ketika gabut dan bingung mau melakukan apa, harusnya Ara melakukan hal yang lebih berguna seperti menyetrika tumpukan baju milik sekeluarga, menyapu halaman dan memotong rumputnya yang sudah meninggi, bukannya menulis surat yang ujungnya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Beomgyu sebenarnya sudah gemas, ia ingin sekali tiba-tiba muncul ke dekat Ara lalu mengatakan hal-hal keren seperti, "Ini yang lo cari?" sambil memegang surat Ara.
Namun, Beomgyu berhasil menahannya. Keputusan yang tepat, karena saat ini Ara mencari suratnya layaknya orang gila. Cewek itu mengeluarkan isi dari seluruh kolong meja di kelasnya hingga mengubrak-abrik isi tempat sampah yang tak berdosa.
Beomgyu bergidig ngeri. Untung saja ia tidak kelepasan melakukannya dan membiarkan hal buruk dan menyeramkan terjadi.
Setelah beberapa saat, cewek itu masih menggila. Sepertinya kehilangan surat yang kini masih berada di tangan Beomgyu itu benar-benar masalah besar buat Ara. Karena tak kunjung menemukannya, Ara terlihat gelisah. Yena yang sedari tadi membantu Ara untuk mencarinya mulai merasa bersalah.
"Ra, sebenernya-"
Belum sempat Yena mengakui perbuatannya, Ara melengos menuju kantin dengan langkah besar yang terburu-buru. "Gue nggak kuat, Na. Marah-marah itu ngabisin energi."
Yena masih tetap diam di tempatnya. Jika ia mengakui kesalahannya nanti, setelah Ara selesai makan, bisa-bisa ia jadi daging cincang.
"Lo nggak mau ikut?"
"Hah?—oh, gue mules, Ra. Ntar gue nyusul, deh." Yena berkelit, cewek itu kemudian memandang punggung Ara yang menjauh dengan tatapan lega.
Yah, sebelum semuanya makin besar, Yena harus mengembalikannya seperti semula. Ia bergegas menuju loker dan membuka loker Beomgyu. Oh ya, loker semua anggota The Lights itu nggak pernah dikunci. Sebenarnya, Beomgyu tadinya nggak mau membuka lokernya dan membiarkan para penggemar meninggalkan cokelat, bunga, surat, dan barang tak berguna lainnya. Namun karena Yeonjun selalu memarahinya-dengan alasan bahwa semua cokelat itu bisa ia habiskan-maka Beomgyu menurut saja. Yeonjun terlalu berisik.
"Sumpah?!" Yena memekik kaget karena tak menemukan surat Ara yang kemarin disimpannya di sana. Yang ia temukan hanyalah tumpukan surat dengan amplop warna-warni serta motif hati dan beberapa tangkai bunga yang sudah layu dimakan waktu.
Kak Beomgyu nggak mungkin ambil, 'kan? Yena membatin, setelah menyerah dengan loker yang sudah ia acak-acak itu. Cewek itu yakin, Beomgyu bukan tipe orang yang suka membaca surat dari penggemar. Beomgyu bukan Yeonjun, yang suka sekali mendengar pujian dari penggemarnya. Lalu, mengapa suratnya tak ada di tempatnya, sementara surat-surat lain masih tetap berada di sana?
Yena berjalan ke kantin untuk menyusul Ara dengan langkah lesu. Cewek itu harus bersiap karena suatu saat nanti, ketika Ara tahu bahwa Yena adalah orang yang menyobek surat Ara untuk Beomgyu dari tempatnya, Ara pasti bakalan menghabisinya.
Baru saja mau menyerah dan menerima nasibnya, Yena dibuat tersenyum lebar ketika ia tak sengaja menangkap basah Beomgyu tengah berada di kantin, diam-diam mengamati Ara, dengan mata kepalanya sendiri. Sungguh, pemandangan paling menarik yang pernah Yena lihat.