“Ga, ini ....”
“Iya, untukmu.”
“Tapi Ga ....”
“Nanti sore Aku ke rumahmu ya, hari ini gak ada latihan kan?“
Arga langsung pergi meninggalkan Laura tanpa menunggu jawabannya. Padahal Laura mau bilang kalau nanti sore dia harus latihan karena tinggal menghitung hari kejuaraan yang akan diikutinya.
Seperti biasanya Laura pulang dengan menggunakan ojek online untuk menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah dia segera menunaikan sholat dan setelahnya direbahkan dirinya di atas kasur single bed di kamarnya yang tidak terlalu luas tapi rapi. Rumahnya sepi seperti biasa karena orang tuanya bekerja. Rumah ini ramai hanya di malam hari. Tak terasa Laura sudah terlelap.
Alarm berbunyi yang menandakan agar Laura segera bersiap. Segera mandi dan bersiap, tak lupa Laura melaksanakan sholat ashar dulu. Setelah siap dan mau mengunci pintu, Laura mengambil hp di tas nya. Suara motor sport seseorang yang sudah dikenal masuk ke halaman rumah joglo milik Laura membuat gadis itu urung mengambil hp nya.
“Hari ini masih latihan?”
“I-ya, Ga. Tadi kamu sih langsung ngeloyor pergi.”
“Tak apa, ayo naik. Kuantar sekalian.”
Arga segera memberikan helm. Laura segera naik di kursi penumpang.
“Pegang yang erat ya, jangan sampai jatuh. Ingat kata Nenek. Hati-hati.”
“Iih, Arga. Apaan sih.”
Motor segera melaju setelah Laura berpegangan pada pinggang Arga. Perjalanan menuju ke tempat latihan hanya butuh waktu 15 menit saja.
“Wah, Sabeum Laura sama siapa tuh. Cit cuit,” celetuk salah seorang jeja yang berada di tempat latihan.
Begitu sampai Laura segera turun dari motor dan menyerahkan helm kepada Arga kembali.
“Nanti pulang jam berapa Laura?”
“Seperti biasa, habis magrib.”
“Ok, tunggu aku ya. Nanti aku jemput.”
Arga segera meninggalkan lokasi tempat latihan Laura. Laura segera masuk dan memulai latihan. Sebelum ke latihan inti mereka semua melakukan pemanasan dan streching terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya cedera. Hari ini latihan inti kelincahan.
Semua jeja yang masuk kategori kelas atlit termasuk para sabeum yang akan segera mengikuti kejuaraan wajib melakukannya. Latihan kelincahan atau sering disebut agility merupakan kombinasi dari berbagai macam kemampuan tubuh. Berbagai macam kemampuan tersebut meliputi kecepatan, kekuatan, keseimbangan, reaksi, fleksibilitas dan juga koordinasi neuromuscular. Seseorang yang memiliki kemampuan agility yang baik biasanya memiliki tingkat akurasi serta kecepatan yang tinggi.
Latihan agility ini memiliki berbagai macam bentuk misalnya shuttle run ( lari lurus dengan bolak-balik ), zig zag run ( lari zig zag), latihan dengan menggunakan reaksi beban gerak, squat thrust ( jongkok berdiri), latihan dengan lompat tangga, ladder drill dan juga cone drill. Semua latihan agility tersebut memiliki tujuan untuk mengubah arah gerak dengan secepat mungkin sambil meminimalisasi hilangnya keseimbangan dari tubuh.
Tak terasa waktu latihan pun berakhir, peluh keringat membasahi semuanya menandakan keseriusan mereka semua dalam berlatih. Sebelum pulang dilakukan pendinginan terlebih dahulu.
Arga sudah menunggu di halaman gedung latihan Laura. Dia masih mengenakan helm full face dan duduk di atas motor sportnya. Tidak ada yang dikenalnya di tempat ini selain Laura.
“Sudah sholat?” tanya Laura saat menghampiri Arga.
“Alhamdulillah sudah tadi, sebelum ke sini mampir masjid dulu. Kamu sudah?”
“Alhamdulillah sudah tadi di Musholla dojang.”
“Ok, kalau gitu cabut yuk, sebelum hujan.”
“Ok.”
Laura segera memakai helmnya dan duduk di belakang Arga. Motor segera tancap gas meninggalkan dojang tempat latihan taekwondo.
“Mampir makan sebentar ya.”
“Bungkus saja ya, Ga. Makan di rumahku saja. Sepertinya sudah mendung, takut kehujanan.”
“Baiklah.”
Arga segera menyampaikan pesanannya ke penjual. Menunggu sebentar saja dan pesanan siap dibawa pulang. Mereka berdua segera menaiki motornya kembali.
Hujan mulai turun dan mereka berdua belum sampai ke rumah. Menepi sebentar di tempat berteduh bermaksud untuk mengambil jas hujan, setelah diperiksa ternyata jas hujan Arga ketinggalan.
“Maaf ya Laura, ketinggalan ternyata.”
“Tak apa Ga, mumpung masih gerimis belum deras nih, langsung cabut saja ya daripada Kita terjebak di sini.”
“Yakin, Kamu tak apa?”
“Iya, Ga. Ayo.”
Seperti anak kecil yang tidak pernah hujan-hujan an. Mereka berdua malah menikmatinya. Sepertinya memang seru momen ini.
“Wow, seru juga hujan-hujanan gini.”
Tangan sebelah Laura menengadah ke atas menikmati sensasi air hujan yang turun dan sebelahnya lagi masih berpegangan pada Arga. Senyum tersungging di bibir Arga.
“Jangan kenceng-kenceng Ga bawa motornya. Asyik banget main hujan-hujanan gini.”
Arga mulai melambatkan laju motornya, membiarkan Laura menikmati air hujan ini.
“Sebab setelah hujan selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi dan memelukmu.” Arga mengucapkannya dengan lirih dan melihat Laura yang kegirangan dari kaca spionnya.
Walaupun bergerak lambat, motor Arga tetap melaju dan akhirnya sampai di rumah Laura. Keadaan rumah masih sepi menandakan kedua ortu Laura yang belum pulang bekerja. Baju mereka sudah basah kuyub karena hujan yang mereka lewati.
“Masuk dulu Ga. Bajumu basah semua. Ups, bajuku juga.”
Laura mempersilakan Arga untuk masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya. Laura segera masuk untuk mengambil handuk dan kaos dan celananya yang besar sekiranya muat dengan Arga.
“Mandi dulu gih di kamar mandi deket dapur, biar gak sakit. Ini nanti dipakai ya.”
“Aku pulang saja ya Laura.”
“Masih hujan Ga. Nanti saja. Makanannya juga belum di makan.”
“Baiklah.” Arga segera menerima handuk dan baju ganti yang diberikan Laura dan menuju ke kamar mandi yang ditunjukkan Laura.
Laura segera meletakkan tas nya yang basah ke kursi kamarnya. Untungnya tas Laura dan Arga anti air jadi barang-barang yang berada di dalamnya aman terkendali. Laura segera bergegas mandi di kamarnya dan berganti baju. Setelah itu dia memasak air untuk membuat minuman hangat.
Arga sudah selesai mandi dan terlihat sudah duduk di kursi tamu dan menunggu Laura.
Laura membuat wedang jahe dan berusaha membawa piring serta sendok garpu untuk makan. Arga mendekati dapur untuk membantu Laura membawa minumannya.
“Sini kubantu.”
“Terimakasih, Ga.”
Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu. Minuman dan piring diletakkan di atas meja dan makanan yang tadi sudah dibeli yang tak lain adalah ayam bakar plus nasi dan sambal lalapan komplit segera diletakkan di masing-masing piring.
“Arga, bajunya kesempitan gak?”
“Hmmmm, gak juga. Tapi ngepas badan.”
“Ok, ayuk kita makan. Sepertinya enak nih.”
“Ayo. Hmmmmm dari baunya udah kelihatan.”
Mereka mulai menyantap ayam bakar tersebut yang serasa lebih nikmat jika dinikmati berdua dan dalam kondisi luar rumah yang hujannya tambah deras, ditambah wedang jahe buatan Laura menambah kenikmatan santapan mereka.