Hujan sudah reda dan hari sudah malam. Arga berpamitan, tak ingin situasi menjadi kacau jika kedua orang tua Laura tiba-tiba pulang. Apalagi rumah Laura terbilang di gang kampung, takutnya ada oknum yang berfikir aneh-aneh saat Laura di rumah sendiri dan ada tamu pria.
“Hati-hati di jalan ya Ga. Jangan ngebut, jalanan licin.”
“Ok.”
Arga segera melajukan motornya, berharap hujan tidak turun kembali. Dia masih memakai pakaian yang dipinjamkan Laura, walaupun sebenarnya risih karena dalamannya masih basah dan tetap dipakai.
***
Liburan sekolah sudah dimulai. Para siswa-siswi sorak sorai bahkan setelah masing-masing orang tua mereka mengambil rapor hasil pembelajaran selama satu semester. Hasil raport Laura semester ini lumayan bagus walaupun ada beberapa mapel yang harus ditingkatkan. Didikan kedua orang tua Laura yang keras agar Laura seimbang antara akademik dan non akademik membuat gadis itu selalu harus bekerja keras.
Begitupun dengan raport Arga dan Desi. Arga sang idola sekolah merupakan salah satu siswa teladan sehingga dapat dipastikan dia selalu meraih ranking paralel di angkatannya. Desi juga tak kalah nilainya kalau dibandingkan dengan Laura 11 dan 12.
“Gimana hasilnya Desi?”
“Lumayanlah, setidaknya Aku tidak dimarahi. Kamu?”
“Jangan tanya. Pasti samalah sama dikau.” Laura tertawa dengan hasil raport yang dilihatnya sesaat setelah mamanya mengambil raport itu dari wali kelas dan langsung memberikannya kepada Laura sebelum pergi.
“Heran Aku sama anak-anak yang bertahan nangkring sebagai juara paralel. Makan apa ya mereka itu. Multitalent juga. Bikin iri. Termasuk itu si Arga sang idola sekolah. Duh pinter banget dia,” cerocos Desi tanpa jeda.
Desi segera berbisik ketika melihat Arga melewati mereka dengan menggandeng siswi lain.
“Laura, playboy banget si Arga ternyata ya. Udah ganti lagi.”
Laura hanya melirik sekilas dan kembali asyik membaca novel andalannya.
“Udah, biarin napa si Des.”
“Ah kamu ini, gak ngikutin gosip-gosip terbaru. Awas saja kalau suatu hari kamu kepincut Arga. Entahlah pesona nya mirip oppa-oppa Korea.”
Laura malah tertawa cekikikan mendengar kalimat panjang Desi.
“Jangan-jangan kamu naksir Arga ya Des? Kayak orang yang lagi nangkep pacarnya yang lagi selingkuh,” goda Laura malah mendapat cubitan dari Desi.
“Gila ah. Enggak mungkin. Yang benar saja.”
Rona merah pipi Desi tidak bisa menutupi kecanggungannya.
“Udah ngaku saja, gak usah malu.” Laura menggoda lagi, kali ini ditambah kerlingan nakal matanya.
“Tahu ah, Laura gak asyik.” Desi langsung ngeloyor pergi meninggalkan Laura yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd sahabatnya.
***
Liburan ini diisi oleh berbagai kegiatan masing-masing oleh para siswa-siswi. Ada yang mengisinya dengan berlibur ke luar negeri, berlibur ke luar kota dan lain-lain. Laura harus mengubur keinginannya untuk berlibur karena Laura bersiap dengan 3 kejuaraan di liburan ini. Laura menjadi semakin sibuk untuk latihan fisik setiap hari sebagai bekal kekuatan fisiknya agar tidak mudah loyo saat tanding nanti.
Tiba saatnya Laura bersama tim rombongan atlit taekwondo satu kabupaten dalam satu bis melakukan perjalanan ke Tangerang Banten untuk memperebutkan piala Kemenpora. Laura tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia berharap dirinya dan teman timnya bisa pulang membawa medali kemenangan. Kurang lebih termasuk perjalanan Laura dan tim selama seminggu di kota tersebut. Semua perlengkapan tanding harus siap, jangan sampai ada yang hilang ataupun ketinggalan.
Lawan yang dihadapi di pertandingan ini sangat tangguh-tangguh. Level kejuaraan ini adalah tingkat nasional otomatis atlit yang mengikutinya pasti sudah mumpuni di bidangnya. Walaupun sangat berat alhamdulillah Laura pulang dengan membawa medali perak kelas prestasi kyourigi putri, timnya juga lumayan berhasil dengan membawa berbagai macam medali. Sungguh mereka sangat bisa dibanggakan.
Selang beberapa hari dari kejuaraan itu Laura dan tim yang sama juga berangkat ke Yogyakarta untuk memperebutkan piala Gubernur DIY Yogyakarta. Kejuaraan di kota ini berlangsung selama 3 hari. Belajar dari kejuaraan sebelumnya, semangat mereka semua malah semakin membara. Laura dan tim juga banyak yang berhasil pulang membawa medali. Kali ini Laura mendapat medali emas. Begitupun dengan timnya. Timnya bahkan mendapat gelar juara umum dan berhasil mendapat piala bergilir dari Gubernur Yogya. Keren dan Amazing sekali.
Untuk kejuaraan ketiga diselenggarakan di kabupaten kotanya sendiri dan ini berlangsung selama 2 hari. Kejuaraan ini memperebutkan piala bupati. Saat kejuaraan ini Arga dan Desi ikut berpartisipasi. Desi yang sudah kembali dari liburannya dan sengaja untuk melihat sahabatnya bertanding. Arga pun demikian baru kali ini dia menyaksikan pertandingan Laura. Mereka sangat antusias dan heboh sebagai supporter ketika Laura harus tanding, meski lokasi keduanya di tribun yang terpisah, tidak menurunkan semangat mereka untuk Laura.
“Go Laura, kamu pasti bisa,” teriak Desi memberi semangat kepada Laura.
Teriakan ini Desi ucapkan dengan lantang dan tanpa henti. Desi sudah siap dengan banyaknya air mineral jikalau suaranya habis karena teriak-teriak. Di sisi lain tribun juga tak kalah semangat Arga ikut meneriakinya agar Laura semakin semangat.
“Laura, semangat,” teriak Arga lantang dan kontinu.
Arga menepuk-nepukkan kedua target sehingga menimbulkan bunyi yang biasa dilakukan oleh para supporter masing-masing atlit. Begitupun para suporter yang lain yang ikut datang dan menyemangati para atlit yang sedang bertanding. Suasana di GOR ini begitu membara.
Laura berhasil mendapatkan medali emas. Sungguh prestasi luar biasa Laura yang tidak perlu diragukan lagi. Walaupun dia harus berkorban waktu dan tenaga Laura tetap semangat menjalaninya. Dia berhasil menunjukkan bakatnya dan membanggakan orang tua maupun yang lainnya. Walaupun aslinya badannya sangat lelah dan perlu waktu lama untuk beristirahat setidaknya Laura tidak mengalami cedera selama pertandingan.
“Selamat Laura, kamu keren banget tahu.”
“Terimakasih ya Des.”
Peluh keringat membanjiri muka dan badan Laura. Laura segera meneguk satu botol air mineral yang diberikan Desi sebelumnya dan langsung tandas.
“Mama dan papamu pasti bangga banget Laura.”
“Iya Des, alhamdulillah.”
Laura beristirahat sebentar sambil menyandarkan punggungnya pada tembok. Sepertinya terlelap sebentar tidak masalah. Desi masih setia duduk di samping Laura. Desi juga mulai asyik mengirim status w******p nya di mana video dan foto saat Laura bertanding.
“Aku tidur bentar ya Des. Aku lelah sekali. Jangan lupa nanti dibangunkan kalau acara penutupan dimulai.”
“Baiklah, tidurlah Laura. Aku di sini untukmu.”
Arga dari kejauhan terus memperhatikan mereka berdua. Tadinya dia ingin menghampiri keduanya tetapi diurungkan saat melihat Laura terlelap. Mungkin lain kali dia akan ada untuk Laura.