Ratna merasa panik sekali karena setelah memutari seisi rumah ia sama sekali tidak melihat kehadiran Jia.
Ratna hanya bisa menebak jika Jia kabur dari rumah dan pergi ke tempat pembukaan kedai es krim untuk mendapat es krim gratis di sana.
Jio juga turut membantu sang Ibu untuk mencari keberadaan Adiknya di setiap sudut rumah yang biasa mereka jadikan untuk tempat bersembunyi.
"Sepertinya Jia pergi dari rumah, Ma," ucap Jio setelah tidak berhasil menemukan keberadaan sang Adik.
"Ya sudah Mama akan mencari Adikmu, kamu ikut Mama!" Ratna meraih tangan Jio dan membawanya pergi dari rumah.
Sebelum mencari Jia, Ratna akan meminta salah satu tetangganya untuk menjaga Jio di rumahnya, sementara Ratna akan mencari Jia seorang diri.
Sebenarnya banyak tetangga lain yang tidak suka dengan keberadaan Ratna di tempat itu karena Ratna yang hidup dengan anak-anaknya tanpa seorang suami, membuat banyak gosip miring yang menyebar tentangnya.
Namun, Ratna sama sekali tidak pernah memperdulikan gunjingan para tetangganya, yang Ratna perdulikan hanya bagaimana caranya agar ia tetap bertahan hidup bersama dengan anak-anaknya.
"Mia, aku mau mencari Jia sebentar, sepertinya dia kabur dari rumah. Kamu mau kan menjaga Jio sebentar di rumahmu?" ucap Ratna pada seorang perempuan yang hampir seusia dengannya.
Hanya Mia yang mau menerimanya dengan baik di tempat itu.
"Jia kabur? Kabur ke mana dia?" tanya Mia yang kini ikut merasa cemas.
"Aku juga tidak tahu Mia, aku khawatir kalau dia nekat pergi ke tempat pembukaan kedai es krim. Aku takut terjadi sesuatu padanya di jalan." Ratna terus meremas ujung daster lusuhnya dengan raut wajah cemas.
Apalagi tempat pembukaan kedai es krim itu berada cukup jauh dari rumahnya dan pastinya akan ada banyak kendaraan yang menjadi acaman untuk Jia.
Membayangkan hal itu saja sudah membuat Ratna merasa frustasi.
"Ya sudah, sana cepat cari Jia. Biar aku saja yang menjaga Jio di sini."
"Terima kasih banyak, Mia." ucap Ratna lalu bersimpuh di hadapan Jio.
"Jio, kamu sama Tante Mia dulu ya, Mama akan mencari Jia. Kamu jangan nakal ya di rumah Tante Mia. Jangan pergi ke manapun sebelum Mama kembali." Ucap Ratna memberi pengertian pada putranya.
"Iya Ma." jawab Jio seraya menundukkan pandangannya.
Sebenarnya ia ingin sekali ikut bersama Mamanya untuk mencari Jia ke tempat pembukaan kedai es krim, berharap ia juga akan mendapat es krim gratis.
Namun, Jio sama sekali tidak pernah berani membantah Mamanya.
Tanpa menunggu lama lagi, Ratna segera melangkah lebar untuk mencari keberadaan Jia.
Sementara Jio menatap kepergian sang Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
Ratna terus menelusuri gang-gang sempit, hingga langkahnya terhenti di depan warung Bu Darmi.
Ratna berharap bisa menemukan keberadaan Jia di sana karena ia lebih baik berdebat dengan Bu Darmi daripada harus bertemu dengan Adrian.
"Mau apa kamu berdiri di situ?" tanya Bu Darmi yang kini keluar dari dalam warungnya setelah melihat kehadiran Ratna.
"Apa sekarang bukan hanya anak kamu yang akan mencuri di warungku? Kamu juga akan ikut mencuri?" tanya Bu Darmi ketus.
Ratna hanya melirik malas ke arah Bu Darmi.
"Aku datang ke sini bukan untuk mencuri di warungmu, tapi untuk menghancurkan semua barang dagangan kamu." Jawab Ratna tak kalah ketus.
Bu Darmi yang mendengar jawaban Ratna yang menyebalkan tentu saja semakin murka.
"Dasar perempuan tidak punya adab. Daripada kamu menghancurkan daganganku, lebih kamu menjadi pengemis saja sana di tempat pembukaan kedai es krim, bawa juga anak-anak haram kamu itu agar kamu bisa lebih banyak mendapat uang."
Darah di tubuh Ratna seketika mendidih saat Bu Darmi menyebut anak-anaknya, dengan sebutan anak haram.
Dengan cepat Ratna meraih segenggam pasir lalu melemparkannya ke wajah Bu Darmi.
Bu Darmi seketika mengucek matanya yang kemasukan pasir akibat ulah Ratna sambil terus mengumpat kesal.
Ratna terpaksa melakukan hal itu karena Bu Darmi tidak pernah berhenti mengganggu kehidupannya dan juga menghina kedua anaknya.
"Aku harap setelah ini kamu akan buta dan kamulah yang akan menjadi pengemis di sana." Ratna pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Meninggalkan Bu Darmi yang masih terus saja mengumpat dengan amarah yang sudah berada di puncak ubun-ubun.
"Ratna!!! Dasar perempuan jalang, lebih baik kamu menjadi jalangnya pemilik kedai es krim baru itu agar kamu menjadi p*****r dan di usir dari tempat ini. Dasar jalang sialan!!!" Umpat Bu Darmi sambil terus mengucek matanya.
***
Di tempat pembukaan kedai,
Kedai dengan nuansa keluarga yang dilengkapi dengan play ground di sudut kedai itu sudah ramai oleh pengunjung yang tengah mengantri dengan tertib untuk bisa mendapatkan es krim gratis.
Tidak hanya masyarakat di sana saja yang ikut mengantri, bahkan ada beberapa wisatawan yang juga ingin mencoba beberapa menu es krim yang disediakan di kedai tersebut.
Dan tentu saja ada beberapa dari mereka yang hanya ingin melihat ketampanan pemilik kedai yang sudah di gandrungi banyak orang.
Karena bukan hanya tampan, pemilik kedai itu juga seorang yang dermawan dan baik hati dan sudah sering mengadakan acara amal di beberapa cabang perusahaannya.
Apalagi dengan statusnya yang masih single, membuat banyak perempuan berharap bisa beruntung dengan mendapatkan si pemilik kedai.
Adrian kini tengah berdiri di samping meja kasir untuk memantau situasi di sana. Dan hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian banyak orang yang kini menatap Adrian dengan tatapan berbinar.
Namun, Adrian tetap fokus untuk memantau situasi karena tidak ingin ada keributan di tempat itu.
Sementara Jia yang baru saja tiba di depan kedai, segera membuka pintu kaca di kedai itu dengan senyum mengembang meski sedikit kesulitan.
Setelah tiba di dalam Jia menatap beberapa menu es krim yang terlihat sangat menyegarkan, usahnya untuk kabur dari rumah ternyata tidak sia-sia.
Tanpa Jia sadari, kehadirannya kini menarik perhatian Adrian, entah kenapa Adrian merasa iba saat melihat anak kecil itu membuka pintu dengan susah payah karena kondisinya.
Apalagi saat melihat kondisi anak itu yang terlihat seperti tidak terawat karena pakaiannya yang sudah terlihat usang.
Hatinya semakin terasa perih saat melihat anak kecil itu berjalan dengan di topang sebuah tongkat dan ikut memasuki antrian panjang.
Dan entah kerena apa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja ia rasakan, bahkan perhatian Adrian masih tetap tertuju pada anak kecil itu sampai saat ini.
Karena semakin Adrian memperhatikan gerak-gerik anak itu, perasaan Adrian semakin merasa sakit.
"Es krim yang itu pasti enak banget." gumam Jia saat menatap menu es krim yang terpajang di sebuah foto berukuran besar.
Semangkuk es krim yang di siram dengan lelehan coklat dan di hias dengan beberapa potong strawberry di atasnya.
Jia menelan ludah saat menatap beberapa anak yang sudah berhasil mendapat es krim gratis favoritnya dan menyantapnya di tempat tersebut.
Membuat Jia semakin tidak sabar untuk segera tiba di depan kasir.
************
************