Bab 5

1114 Words
"Ngapain kamu datang ke sini? Kamu tidak diizinkan mengemis di sini." ucap seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua dari Jia. Jia langsung menundukan pandangannya setelah melihat seseorang yang berkata seperti itu padanya. Dia adalah anak Bu Darmi yang sama-sama sering mengganggu kehidupan mereka. Anak itu langsung melirik teman-temannya dan meminta untuk mengusir Jia dari tempat itu. Tidak hanya para orang tua yang tidak menyukai keluarga mereka, tapi anak-anak di lingkungan itu juga ikut terhasut oleh para orang tua mereka. Oleh sebab itu, Ratna selalu mengurung kedua anaknya di dalam rumah. "Aku juga ingin mendapat es krim gratis," cicit Jia pelan. "Mau mendapat es krim gratis atau mau mencuri? Ibuku bilang kalau kalian adalah keluarga pencuri." Ucap Dina seraya melipat kedua tangannya di depan d**a. "Sungguh Dina? Ibumu berkata seperti itu?" Apa, jadi dia sering mencuri di toko Ibumu, Dina?" tanya salah satu temannya Dina. "Iya, kemarin Kakaknya ketahuan mencuri di warung Ibuku." "Ya ampun ternyata selain gembel, mereka juga suka mencuri." Dina, yang kesal melihat kehadiran Jia, akhirnya kembali mengusir Jia dari tempat itu. "Keluar dari sini, atau aku akan meminta penjaga kedai ini untuk mengusirmu," ancam Dina. "Tapi aku juga ingin makan es krim," jawab Jia dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu lihat orang yang di samping kasir itu? Orang itu pasti akan menyuruhmu keluar dari sini jika tahu kalau kamu ada di sini." Dina melirik ke arah pria yang tengah berdiri di samping meja kasir sambil melipat kedua lengannya di depan d**a dengan tatapan dingin yang mengarah ke arahnya. Jia menduga jika pria itu sedang marah padanya karena kehadirannya di tempat itu. "Ayo!! Pergi sekarang juga." Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya luruh setelah mendapat perlakuan kasar dari Dina. Dengan langkah yang tertatih, Jia terpaksa membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar. Nahas saat Jia sudah tiba di ambang pintu, seorang pengunjung yang baru saja datang tidak menyadari kehadiran Jia membuka pintu kaca itu dan membuat Jia tertabrak pintu. Jia langsung terjerembab ke belakang saat itu juga dan membuat tangisnya seketika pecah. Adrian yang dari tadi menatap Jia dari samping kasir langsung melangkah lebar dan menembus kerumunan pengunjung untuk menghampiri Jia. Adrian langsung menggendong tubuh Jia dan mengusap punggung anak kecil itu, berharap tangisnya akan segera reda. Dan entah kenapa detik itu juga jantung Adrian berdebar lebih cepat dari sebelumnya di sertai rasa sesak saat isak tangis Jia menusuk indra pendengarannya. Semua pengunjung kedai itu seketika mengarahkan pandangannya pada Adrian dan Jia yang kini masih menangis dalam pelukan Adrian. Entah kenapa saat kedua tangan Jia melingkar di lehernya, Adrian merasa kalau ia seolah memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak kecil ini. Adrian seolah menemukan belahan jiwanya yang sudah lama hilang. Membuat Adrian kini semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa aku merasa seperti ini saat bertemu anak ini?" Batin Adrian. "Permisi Pak, apa anak itu mengganggu Bapak? Biar saya saja yang mengantarnya keluar." Ucap seorang pelayan yang menghampiri Adrian, dia mengira kalau anak kecil itu sudah menganggu atasannya karena penampilan Jia cukup mengganggu penglihatan. "Tidak perlu." jawab Adrian tegas. "Tolong bawakan saja beberapa menu es krim ke meja di pojok sana." Pelayan tersebut seketika menautkan kedua alisnya saat mendengar perintah dari atasannya. Tapi, ia tetap segera beranjak dan menuruti perintah Adrian. Setelah mengambil beberapa menu es krim, pelayan itu langsung kembali menghampiri Adrian yang kini duduk di meja pengunjung bersama dengan Jia. Pelayan itu meletakkan beberapa jenis es krim di atas meja, lalu meletakkan tongkat milik Jia di samping kursinya. Jia menyeka air matanya dengan cepat saat melihat seorang pelayan yang menghampiri. Ia juga memberanikan diri untuk mendongak dan menatap wajah Adrian. Namun, saat Adrian juga menatapnya, Jia langsung kembali menundukkan pandangannya. Adrian melihat dahi dan telapak tangan Jia yang memerah karena kejadian tadi. Melihat Jia yang terus menundukkan kepalanya Adrian berusaha bersikap ramah agar anak kecil itu tidak merasa takut padanya. "Sudah, jangan menangis lagi ya. Ada Om di sini." Ucap Adrian ramah seraya mengusap lembut kepala Jia. Jia hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya. Sementara Dina dan teman-temannya yang sedang mengantri saling menyenggol lengan mereka masing-masing lalu melangkah menghampiri Adrian. "Om, jangan biarkan dia berada di sini. Dia berasal dari keluarga pencuri. Bisa saja dia datang ke sini untuk mencuri." ucapan Dina berhasil membuat Jia semakin menundukkan kepalanya. "Iya, Om! Kakaknya pernah ketahuan mencuri di warung Ibunya Dina. Dia ke sini pasti untuk mencuri." Ucap teman Dina menimpali. Namun, Adrian bukannya terhasut oleh ucapan anak-anak itu. Ia kini justru menatap nanar Jia yang semakin menundukkan pandangannya. Melihat Jia yang memilin ujung bajunya di bawah meja, membuat tangan Adrian terulur dan mengusap punggung Jia. "Dia tidak mungkin mencuri di tempat ini, karena hari ini semua menu es krim di sini semuanya gratis dan siapapun boleh mendapatkannya. Jadi, lebih baik kalian kembali masuk ke antrian." Ucap Adrian memberi pengertian pada anak-anak itu. "Iya, Om." Dina dan juga beberapa temannya seketika terkejut saat melihat pemilik kedai itu memperlakukan Jia dengan baik. Mereka juga bahkan melihat beberapa jenis es krim yang tersaji di hadapan Jia tanpa harus mengantri seperti mereka. Mereka bisa melihat dengan jelas betapa lembutnya Adrian memperlakukan Jia. "Om boleh tahu siapa nama kamu?" tanya Adrian yang kini memperhatikan setiap inci wajah Jia. "Kenapa dia mirip sekali denganku waktu kecil dengan versi perempuan?" Batin Adrian. "Namaku Jia." "Jia? Nama yang cantik. Kamu datang ke sini sendiri?" Jia hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya. "Mama kamu ke mana?" "Mama ada di rumah." "Oh ... Jadi kamu datang ke sini tanpa sepengetahuan Mama kamu?" tanya Adrian yang melihat anak berusia lima tahun itu kembali terlihat gugup. "Mama melarangku untuk datang ke sini. Jadi, aku pergi diam-diam karena ingin makan es krim." Jawab Jia jujur sambil sesekali curi-curi pandang pada beberapa jenis es krim di hadapannya. Jia sama sekali tidak berani memakan makanan itu sebelum di izinkan oleh Adrian. "Kenapa Mama kamu melarangmu untuk datang ke sini? Bukannya semua orang sudah tahu kalau hari ini semua es krim di tempat ini gratis?" Dengan mata yang berkaca-kaca Jia pun menceritakan alasan Mamanya melarangnya untuk datang. "Mama bilang kalau kita tidak boleh terlalu berharap pada pemberian orang lain. Aku dan Kakakku sangat menyukai es krim. Tapi, Mama cuma bisa membelikan kami es krim setelah Mama mendapat bayaran dari tempatnya bekerja." Dada Adrian seketika merasa sesak setelah mendengar jawaban Jia. Adrian menatap Jia dengan tatapan iba, apalagi saat melihat tatapan Jia yang sejak tadi tidak terlepas dari es krim yang berada di atas meja. Adrian menduga jika anak kecil itu sangat menginginkan sekali es krim itu. Ia lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sapu tangan dan mengusap tangan Jia lalu mengusap pipi Jia dari sisa-sisa air matanya. "Ayo di makan es krimnya, nanti keburu meleleh. Kamu boleh menghabiskan semua es krim itu." Bibir Adrian mengukir senyum ramah. ************ ************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD