"Ma ... Mama ... Mama ..."
Ratna secara perlahan membuka matanya setelah mendengar panggilan lirih itu.
Meskipun masih merasa sangat mengantuk Ratna berusaha untuk menepis rasa kantuknya.
Tangan Ratna terulur lalu meraba dahi Jia, setelah pulang dari kedai es krim kemarin Jia langsung demam tinggi dan terus bergumam.
Mungkin karena kemarin Jia berjalan cukup jauh dari rumah menuju kedai es krim. Jia memang sering mengalami demam tinggi jika terlalu lelah beraktivitas.
Oleh karena itu, Ratna sering kali membatasi aktivitas Jia di luar rumah.
"Kamu udah bangun, Nak?"
Rupanya tubuh Jia masih terasa panas meskipun Ratna sejak semalam sudah mengompresnya. Lalu, tatapan Ratna kini beralih pada Jio yang turut berbaring di sebelahnya.
Selama ini mereka harus rela berdesakan di atas sebuah kasur busa yang sudah kusam dan mulai menipis.
Tak jarang mereka juga saling menarik selimut karena mereka hanya memakai satu selimut.
"Dingin, Ma... Dingin banget." lirih Jia sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kini tengah gemetar.
"Iya, Sayang. Hari ini kamu pakai selimutnya sendiri, ya." Ratna menarik selimut dari tubuhnya dan juga tubuh Jio lalu membalut tubuh Jia dengan satu-satunya selimut yang ada.
Ratna sudah sering melihat Jia dalam kondisi seperti ini.
"Sabar ya, Sayang. Besok Mama beli obatnya dulu. Demamnya pasti turun, setelah Jia minum obat."
Ratna kembali membaringkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Jia. Otaknya kini tengah berputar, mencari cara mendapatkan uang agar bisa membeli obat untuk Jia.
***
Keesokan harinya, Ratna yang sudah mendapatkan uang pinjaman untuk membeli obat Jia dan tengah membujuk Jia agar mau makan.
Ratna mengambil semangkuk bubur dari arah dapur lulu duduk tepat di samping Jia.
"Jia Sayang, makan dulu ya buburnya." Ucap Ratna lembut sambil menyodorkan sesendok bubur itu pada Jia.
Jia menggelengkan kepala pelan ketika menatap bubur yang hendak disuapkan Ratna. Melihat cairan kental itu membuatnya merasa mual.
"Jia gak mau makan, Ma. Mulut Jia rasanya pahit."
"Terus Jia maunya makan apa? Makan yang ini dulu saja ya, agar Jia bisa minun obat." Ratna kembali membujuk Jia, tapi Jia tetap tidak mau membuka mulutnya.
"Mama, Jia mau es krim. Om kemarin bilang sama Jia, kalau Jia boleh kembali lagi ke sana dan makan es krim gratis kapanpun Jia mau."
Hati Ratna bak di tusuk duri tajam. Ucapan Jia membuat luka lamanya seolah kembali mendapat luka sayatan.
Ia tidak mungkin membawa Jia ke tempat itu, jika orang yang di maksud Jia adalah orang yang paling dia benci.
Meski sebenarnya Adrian memang ayah kandung dari kedua anaknya.
"Jia, Om itu hanya orang asing, kita tidak boleh percaya pada ucapan seseorang begitu saja. Apalagi orang itu baru saja bertemu dengan kita."
"Tapi, Ma. Om itu sendiri yang bilang sama Jia, kalau Jia sama Kak Jio boleh datang ke sana dan makan es krim gratis kapanpun Jia mau."
"Tetap tidak boleh seperti itu, Jia. Apalagi sekarang kamu sedang demam, tidak baik jika makan es krim dalam kondisi demam. Nanti Mama beliin Jia es krim kalau Jia sudah sembuh ya, Sayang." Lagi-lagi Ratna mencoba membujuk putrinya.
Setelah mendengar penolakan Ratna, Jia hanya bisa terdiam. Jika mamanya sudah mengatakan tidak boleh, maka tidak akan bisa diganggu gugat lagi.
Sementara Jio yang berdiri tidak jauh dari sana, dari tadi hanya menyimak percakapan antara adik dan mamanya.
***
Jio merasa terpukau saat melihat sebuah kedai es krim yang terlihat mewah di hadapannya.
Hanya dengan menatap beberapa foto menu es krim di tempat itu, sudah membuat Jio menelan ludahnya beberapa kali.
Meski merasa sangat ragu, Jio mulai mengayunkan langkahnya ke depan pintu kaca yang menjadi pemisah antara dirinya dengan bagian dalam kedai.
Jio menguatkan tubuhnya untuk mendorong pintu kaca itu. Setelah pintu itu terbuka, Jio disambut dengan sejuknya udara di dalam toko.
"Wah, ruangannya dingin sekali, beda sama di rumah."
Jio melangkah masuk dengan senyum mengembang, sorot matanya memindai sekeliling dengan tatapan penuh kagum.
"Hey, sedang apa kamu di sini?"
Jio seketika menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan itu.
Kini dua orang pelayan pria melangkah menghampiri Jio. Mereka terus menatap Jio dengan tatapan meremehkan setelah melihat penampilan Jio yang hanya menggenakan kaos polos kebesaran yang sesekali leher baju itu turun hingga ke bahu.
Jio langsung menundukan kepalanya setelah melihat salah satu dari mereka adalah Leo, anak pertamanya Bu Darmi yang ternyata juga bekerja di kedai itu.
Tentu saja Leo juga langsung bisa mengenali Jio, anak kecil yang sering kali ketahuan mencuri di warung ibunya.
Apalagi ibu dari anak itu juga sering kali beradu mulut dengan ibunya.
"Kak, aku datang ke sini mau minta es krim gratis. Om pemilik kedai ini bilang, kalau aku boleh datang ke sini jika ingin makan es krim gratis."
Dua pelayan yang berdiri di hadapan Jio seketika tertawa setelah mendengar ucapan Jio. Dan hal itu membuat Jio semakin menundukkan kepalanya.
"Masih kecil saja kamu sudah pandai sekali berbohong. Tidak mungkin Pak Adrian memberikan es krimnya secara gratis setiap hari. Apalagi pada anak gembel seperti kamu. Orang-orang yang datang ke kedai ini kebanyakan orang kaya. Jadi, sebelum mereka merasa gak nyaman sama kedatangan kamu, lebih baik kamu keluar sekarang juga." Ucap seorang pelayan yang berdiri di samping Leo.
"Aku sama sekali tidak berbohong, Om. Om pemilik kedai ini sendiri yang bilang sama adikku."
"Kamu pikir kita akan percaya gitu aja masa omongan kamu? Apalagi sekarang pemilik kedai ini masih berada di kantornya. Jadi, sebelum dia datang lebih baik kamu pergi sekarang juga."
Dengan terpaksa Jio membalikkan tubuhnya lalu melangkah menuju pintu keluar sambil sesekali melirik ke arah beberapa meja pengunjung yang sedang menikmati es krim pesanannya.
"Ayo cepat keluar, jangan semakin membuat pengunjung di sini merasa risih karena tatapan kamu." Bentak Leo yang melihat Jio sesekali menatap meja pengunjung.
***
Di siang harinya, beberapa pelayan di kedai itu terlihat mengerubungi seseorang di ambang pintu keluar kedai.
Beberapa makian bahkan terdengar keluar dari beberapa pelayan di kedai itu seolah tengah menuntut pertanggungjawaban orang tersebut.
Seseorang itu ternyata adalah Jio, yang hari itu nekat mencuri semangkuk es krim di atas meja pengunjung yang tengah pergi ke toilet.
Jio, yang hanya seorang anak kecil, hanya bisa gemetar sambil terus memilin ujung bajunya saat beberapa pelayan di depannya terus menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ternyata di balik wajah polos kamu itu terdapat jiwa pencuri, ya!" ucap salah satu pelayan di sana.
"Berani sekali ya kamu mencuri di tempat seramai ini?"
"Coba periksa lagi yang lainnya, bisa saja dia juga mencuri barang yang lain." Ucap si pengunjung yang es krimnya di curi oleh Jio.
"Sudah, bawa saja anak itu ke kantor polisi. Anak itu memang sudah terbiasa mencuri. Dia sudah sering ketahuan mencuri di warung Ibuku." Leo juga ikut menimpali.
Di balik kepalanya yang menunduk dalam, mata Jio sudah di genangi cair bening setelah mendengar ucapan Leo.
"Kenapa kalian berkumpul seperti ini?" tiba-tiba terdengar suara yang terdengar asing di telinga para pelayan itu.
Adrian saat itu memang sengaja mampir ke kedai saat di kantor tengah jam makan siang.
"Kami menangkap seorang pencuri Pak." Jawab Leo tanpa ragu.
"Seorang pencuri?" kedua alis Adrian saling bertaut dengan tatapan yang menunggu jawaban.
"Iya, Pak. Dia mengambil semangkuk es krim yang sedang ditinggal pemiliknya ke toilet." Salah satu pelayan menunjuk semangkuk es krim di atas meja yang sudah hampir mencair.
Setelah mendengar jawaban pelayan itu, tatapan Adrian kini beralih pada seorang anak kecil dengan pakaian yang sangat memprihatikan tengah menundukan kepalanya.
*************
*************