Bab 9

1222 Words
"Silahkan kembali lakukan tugas kalian masing-masing. Aku sendiri yang akan mengurus anak ini." "Baik, Pak." Para pelayan yang sempat mengerumuni Jio satu persatu mulai keluar dari kerumunan dan kembali melanjutkan tugasnya masing-masing. Adrian lalu bersimpuh di hadapan Jio yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. "Siapa nama kamu, Dek!" Jio hanya bergeming, ia sama sekali tidak berani menjawab apalagi mengangkat kepalanya. Kedua tangannya semakin kuat meremas ujung baju dengan tubuh yang mulai keringat dingin. "Kenapa kamu sampai berani mencuri di tempat ramai seperti ini? Apa kamu belum makan apapun hari ini?" Bulir bening yang sejak tadi hanya menggenang akhirnya luruh juga. Bahu Jio mulai berguncang diringi isak tangis. "Tidak usah menangis, Om sama sekali tidak marah. Kamu boleh minta es krim apa saja yang kamu suka. Tapi, tidak baik jika kamu sampai berani mencuri, lebih baik kamu minta secara baik-baik." Jio menyeka air mata yang sejak tadi luruh membasahi pipi. Tanpa berani menatap lawan bicaranya. "Adikku sedang sakit di rumah dan mau makan es krim dari kedai ini. Tapi, Mama belum punya uang untuk beli es krim." "Apa Mama kamu yang memintamu untuk mencuri?" "Tidak! Jika Mama tahu aku mencuri, Mama akan memukul kedua tanganku dan memasukanku ke dalam gudang yang gelap." "Mama kamu galak juga ternyata. Oh, iya, apa Om boleh tahu siapa nama Mama kamu?" Jio kembali dibuat terdiam saat mendapat pertanyaan seperti itu. Ia takut mamanya juga akan ikut terseret ke dalam masalahnya jika ia sampai memberi tahukan nama mamanya. Pikir Jio. "Siapa nama Mama kamu?" Adrian kembali mengulang pertanyaannya. "Ra.. Ratna Gri.. Grisela" jawab Jio tergagap dengan rasa takut yang kembali menyergap. Adrian seketika juga ikut terdiam, jantungnya berdebar kencang tanpa bisa ia kendalikan. Sebelah tangan Adrian perlahan terulur lalu mengangkat dagu Jio hingga keduanya kini bertemu tatap. Degh!!!! Jatung Adrian kembali merasakan perasaan yang sama seperti saat bertemu dengan Jia. Adrian seketika membeku dengan perasaan tak menentu dan membuat bibirnya seketika kelu. Saat ia bertemu tatap dengan Jio, ia seolah melihat pantulan wajahnya ketika dirinya masih kecil. "Tidak mungkin ini bisa terjadi! Aku pasti salah lihat!" Ini benar-benar tidak masuk akal." Gumam Adrian dalam hati. Bulir bening kini mulai menggenang di matanya. Bagaimana bisa Jio mirip sekali dengan dirinya? Adrian mulai menerka-nerka dalam hati, meski perasaannya masih merasa ragu. la menatap lekat wajah Jio, melihat penampilan Jio membuat hati Adrian terasa di remas. Dengan tangan gemetar Adrian merangkum kedua pipi Jio. Ingin sekali ia membenamkan tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. "Kamu Kakaknya Jia?" Saat itu juga Jio menghentikan tangisannya. Tatapannya kini terpaku pada pria yang kini berada di hadapannya. "Iya, Om." "Adikmu sakit di rumah?" kenapa Adrian saat itu juga merasa sangat cemas. "Iya, Om. Jia tadi mengatakan kalau ingin sekali makan es krim yang ada di kedai ini. Aku sudah minta pada para pelayan di sini tadi dan mengatakan kalau Om sendiri yang mengatakan jika aku boleh mendapatkan es krim gratis di sini. Tapi, mereka sama sekali tidak percaya padaku. Jadi, aku terpaksa mencuri es krim yang ada di atas meja. Maafin Jio, Om." Setelah mendengar jawaban Jio, Adrian seketika berhambur memeluk Jio. Melihat Jio yang nekat mencuri demi Jia membuat perasaan Adrian semakin terasa teriris. "Tidak apa-apa, Dek. Biar Om yang menegur para pelayan yang tidak percaya dengan ucapanmu. Kamu masih ingat kan pelayan yang mana saja yang tadi tidak percaya dengan ucapanmu?" Adrian mengurai pelukannya sejenak meski rasanya tidak rela. Jio melirik beberapa pelayan kedai yang tadi tidak memperdulikan ucapannya dan justru malah mengusirnya, namun Jio sama sekali tidak berani menunjuk orang-orang itu. "Om, apa aku boleh meminta satu porsi es krim untuk Jia?" "Boleh banget, Sayang. Kamu bahkan boleh memilih es krim mana saja yang kamu mau." "Tidak usah, Om. Aku hanya ingin satu porsi es krim saja untuk Jia." Adrian berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak luruh di hadapan anak kecil ini. Dan kembali memeluk tubuh Jio dengan lebih erat lagi. Adrian sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang kini berada di sekitarnya. Setelah rasa sesaknya sedikit mereda, Adrian kembali mengurai pelukannya. "Apa Om boleh bertanya sesuatu?" "Boleh Om." Jawab Jio pelan. "Apa kamu tahu di mana Ayah kamu sekarang?" Jio hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan. "Kenapa tidak tahu?" tanya Adrian yang kini semakin merasa penasaran. "Saat aku sedang pura-pura tertidur, aku pernah dengar Mama mengatakan jika Ayahku sebenarnya adalah orang yang kaya raya dan memiliki segalanya. Tapi, Mama tidak ingin bertemu dengan Ayah karena dia sangat membencinya. Ayah juga tidak mungkin percaya jika kami berdua adalah anaknya." Adrian menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Setelah tahu seperti apa kehidupan Ratna selama ini, membuatnya merasa sangat sakit. Apalagi setelah sempat menerka-nerka siapa sebenarnya ayah kandung kedua anak Ratna. Andai semua yang ada dalam pikirannya benar, ia pasti akan merasa lebih sakit dari ini. "Oke, ayo kita ke dapur, Om akan membuatkan menu es krim khusus untuk Adik kamu." Adrian meraih tangan Jio dan menggenggamnya dengan sangat erat lalu membawanya menuju dapur. Jio mengikuti langkah Adrian sambil menatap penuh kagum punggung pria yang kini tengah menuntunnya. Entah kenapa Jio seolah merasakan hangatnya sosok seorang ayah dari pria yang menurutnya sangat baik itu. "Kamu mau dibuatkan es krim yang mana?" Adrian menyodorkan buku menu es krim yang ada di kedai itu. Jio memperhatikan dengan seksama semua menu es krim yang ada di sana. Lalu Jio menunjuk satu menu es krim yang di bawakan Jia kemarin. Dengan cekatan Adrian mulai menyendok beberapa jenis es krim lalu menatanya ke dalam sebuah kotak dan menambahkan beberapa toping. Jio yang melihat hal itu semakin di buat kagum pada sosok pria yang kini berada di hadapannya. "Bagaimana? Kamu suka?" Tanya Adrian setelah menu es krim buatannya selesai. "Suka, Om." Jio mengangguk cepat dengan mata yang berbinar. Melihat sikap Adrian pada Jio yang terlihat sangat ramah membuat beberapa pelayan yang tadi sempat tidak memperdulikan ucapan Jio mulai saling berbisik. Sementara Leo hanya bisa terdiam dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu mau di buatkan es krim yang mana lagi? Kamu boleh memilih es krim apa saja yang kamu mau." Jio menunjuk beberapa menu es krim yang juga disukai Jia, meski dengan sedikit ragu. Jio menyadari jika para pelayan yang tadi sempat menghinanya masih menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Perhatian semuanya, untuk kedepannya jika kalian melihat anak ini datang kesini, tolong layani dia dengan baik dan berikan es krim apapun yang dia mau. Jika kalian berani macam-macam pada anak ini. Aku tidak akan segan-segan membuat kalian kehilangan pekerjaan." Ucap Adrian pada semua pelayan di kedai itu. "Baik, Pak!" jawab mereka secara bersamaan. **** Bibir Jio tak henti-hentinya mengukir senyum setelah berhasil mendapatkan es krim yang sangat di sukai Jia. Jio terus saja melihat isi paper bag yang berada dalam pangkuannya untuk memastikan isinya tetap baik-baik saja. Membayangkan ekspresi bahagia adiknya saat mendapat es krim membuat Jio juga ikut merasa bahagia. Membuat Jio kini ingin semakin cepat sampai di rumah. Jio menoleh ke arah pria yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia kembali menatap penuh kagum sosok pria yang kini tengah fokus pada jalanan. Adrian memutuskan untuk sekalian mengantarkan Jio pulang. Meski Jio sempat beberapa kali menolak karena ia tahu mamanya pasti akan marah besar. Tapi Adrian tetap memaksa dan beralasan ingin melihat kondisi Jia sekalian membawakannya obat. Karena itulah akhirnya Jio luluh juga. Ia tahu Jia juga pasti akan merasa sangat senang jika ada seseorang yang menjenguknya, apalagi dia juga sangat membutuhkan obat. *********** ***********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD