"Azka memiliki rumah yang besar, Pa. Dia bilang padaku, punya kamar sendiri dan tempat tidur yang empuk. Di rumahnya ada akuarium berisi ikan-ikan kecil yang cantik. Azka juga bilang, Ayahnya sangat keren dan punya banyak uang. Dia membelikan mobil-mobilan keren setiap bulan." Mendadak wajah Jio terlihat sedih, lalu berkata dengan lirih. "Aku pernah mau meminjamnya, tapi dia tidak mau pinjamkan. Azka takut aku akan merusak mainannya." Adrian hanya merespon dengan senyuman. Mengusap puncak kepala Jio turun ke punggung. Mengeratkan pelukan di perut Jio hingga rasanya Jio sulit bergerak. Meski begitu, Jio merasa sangat hangat dan bahagia. Namun, senyum yang terlukis di wajahnya mendadak meredup saat membaca ekspresi sedih papanya. Tangan mungilnya bergerak mengusap genangan air mata di uj

