Part 4 - Independence at Heart

1316 Words
"...pas itu bunda ditawari sama ayah jadi pacarnya di helicopter, saat itu bunda speechless saking bahagianya. Duh, Disya, bunda gak bisa melupakan masa-masa itu." Disya mencibir tak suka, dikira bundanya dia juga gak bisa apa di tembak di helicopter. "Ah, itu sudah terlalu mainstream, Bun. Nanti Bang Olan lamar Disya di planet Pluto. Itu baru extreme." Namira mencubit kedua pipi anak gadisnya, membuat Disya mengaduh kesakitan. Beginilah kebersamaan ibu dan anak ini bila mereka lagi nganggur. Sekarang, Disya dan Namira sedang duduk di sofa kamarnya Disya. Satu jam yang lalu mereka bergosip ria tentang masa mudanya Namira bersama Ardigo. Disya hanya mendengar cerita Bundanya dengan seksama. "Mana ada lagi planet Pluto, sudah hilang tahu, berarti kalian gagal nikah." Disya memanyunkan bibirnya sambil menatap bundanya tak suka, "enak aja, Disya sama Bang Olan pasti tetap nikah walaupun planet Pluto hilang. Siapa tahu kami bisa nikah di Bulan." Namira menjawil hidung Disya dengan gemas. "Bangun, Dis. Kejar dulu, tuh, Bang Olan-nya sampai dapat. Ini, belum jadi pacarnya aja sudah menghayal nikah sama Orlando. Ya, pasti gak bakal nikah kalau begitu caranya." "Bunda! Disya tuh sudah ngejar Bang Olan dari kecil. Dari umur Disya tiga tahun sampai sekarang. Tapi apa hasilnya? Hatinya Bang Olan selalu susah digapai bun, huee...." rengeknya manja sambil memeluk bundanya. Namira terkekeh mendengar curahan hati anaknya. Jujur, bukan Disya saja yang berusaha membuka hatinya Orlando. Dia dan ibunya Orlando --Ferlyn-- pun telah mencoba mengagungkan nama Disya di depan Orlando. Sayangnya pria itu tak peduli semua tentang Disya. "Siapa tahu nanti Orlando yang bertekuk lutut, nah, bunda ke bawah dulu ya, mau lihatin Ayah sudah pasang bendera atau belum." Disya mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. Sepeninggalnya bunda, Disya pun merebahkan tubuhnya. Kata siapa Disya orangnya ceria? Kata siapa Disya itu kuat? Kata siapa Disya itu selalu bisa menghadapi semua teman kencan Bang Olan dengan semangatnya? Kata siapa?! Disya juga punya hati yang bisa merasakan sakit, di depan saja dia terlihat ceria. Tapi, dalam hatinya yang paling dalam, sudah teriris-iris karena Olan selalu menolaknya, dan terkadang dia juga sedih melihat Olan yang sering nge-date bersama teman kencannya. Disya tidak sekuat apapun yang kalian pikirkan. Dia bukan Wonder Woman, ataupun Cat Woman yang hatinya dilapisi besi dan baja. Hatinya juga bisa rapuh. Besok sudah tujuh belas Agustus, di mana Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Indonesia telah merdeka, sedangkan dia? Sampai sekarang belum merdekain hatinya Bang Olan. Para pahlawan telah berjuang untuk Indonesia. Lah, Bang Olan kapan berjuang mendapatkan hatinya Disya? Gak usah diperjuangkan juga hatinya Disya tetap untuk Bang Olan. Asal kalian tahu, sakit banget rasanya memperjuangkan seseorang tapi gak merdeka-merdeka. ♡♡♡ "Disya!" Disya menoleh ke arah rumah Orlando. Ternyata Ferlyn memanggil namanya. Disya tersenyum lebar pada Ferlyn --calon mertua--nya. Di mana-mana calon menantu kudu baik didepan calon mama mertua biar direstui hubungannya. "Hehe..., ada apa, Ma?" Ferlyn tersenyum, "tolong jagain Orlando ya, soalnya mama sama papa mau pergi ke Batam. Dan Arlyna hari ini dia lagi nginap di rumah temennya karena ada acara tujuh belasan besok. Gak apa, kan?" Disya mengangguk mantap. "Tentu, Disya bakal memantau dan menjaga Bang Olan. Ini janji calon menantu terhadap mama mertua masa depan." Ujarnya sambil terkekeh. Ferlyn tertawa kecil, Disya memang calon menantu idamannya. Terkadang hadirnya Disya membuatnya selalu tersenyum dan tertawa. Andai Orlando juga suka sama Disya, duh, Ferlyn makin senang karena Disya-lah yang pantas bersanding dengan Orlando. "Ya sudah, terima kasih ya Disya, mama selalu mendoakanmu untuk menjadi istri masa depannya Orlando." Disya tersenyum malu-malu, "makasih, Mama. Semoga do'a mama di jabah oleh Allah SWT." Mama Ferlyn hanya mengedipkan sebelah matanya dengan menggoda. Hal ini membuat Disya tertawa ngakak. "Ya sudah, mama mau mengepak barang dulu ya. Oh, iya, Disya mau dibeliin oleh-oleh apa dari Batam?" Disya menggeleng, matanya menatap Ferlyn dengan tatapan polos seperti bayi. "Nggak usah, Ma. Disya mau mama dan papa pulang dengan selamat sampai tujuan. Itu saja yang Disya mau. Gak lebih." Ferlyn terharu dengan ucapan Disya, lantas wanita itu memeluk Disya dengan erat sambil mencium puncak kepala Disya. "Oh, sayang, terima kasih." ♡♡♡ Dari atas balkon rumahnya, Disya bisa melihat Orlando pergi dari rumah. Entah apa yang di lakukan pria itu di sore hari. Bahkan, dia tidak membawa mobilnya, padahal langit tampak mendung, dan suara petir sudah bergema menandakan sebentar lagi hujan akan turun. Tapi pria itu sama sekali tidak peduli dengan cuaca hari ini, ia tampak terus melangkah menjauhi rumahnya. Entah ke mana. Disya bergegas keluar dari kamarnya dan memutuskan mengikuti Bang Olan-nya sambil membawa payung dengan langkah cepat. Dan hujan pun turun saat ia mengikuti Orlando yang ternyata bertemu seorang gadis di depan komplek. Mereka hanya berbincang sebentar, entah membicarakan apa. Waktu mereka berbincang hanya dua menitan dan setelah itu cewek yang bersama Olan itu pergi bersama mobil putihnya. Sedangkan Olan berlari kecil karena hujan tampak deras, tangannya melindungi kepalanya agar tidak terkena hujan. "Bang Olan!" Teriak Disya diiringi suara petir yang bergemuruh. Orlando menoleh kearah Disya, lalu ia mengacuhkan kehadiran gadis itu. Disya tersenyum pahit, namun langkahnya mengikuti langkah Orlando. Orlando merasakan kalau seluruh tubuhnya tidak terkena hujan karena payung Disya melindungi tubuhnya dari air hujan. "Nih, Bang Olan pakai aja payung Disya, lagian baju Bang Olan sudah basah kuyup, nanti Bang Olan masuk angin terus sakit. Disya gak mau Bang Olan sakit." Disya memberikan tangkai payung itu ke tangan Orlando. Orlando menerimanya dengan raut bingung yang kentara. Disya tersenyum, "Disya pulang dulu ya, Bang." Saat Disya hendak meninggalkan Orlando beserta payung hello kitty kesayangannya, malah Olan menarik tangan Disya dan memberikan tangkai payung itu kepada Disya. "Nih, gue gak butuh payung lo." Setelah berucap, Orlando pergi bersama derasnya hujan. Sedangkan Disya, dia hanya terpaku di tempatnya, sambil menatap punggung Olan sampai hilang dari pandangannya dengan nanar. Sampai kapan aku harus mengejar cintanya? Tidakkah dia tahu, perasaanku lebih besar dari sekian teman kencannya?! ♡♡♡ Hujan sudah berhenti satu jam yang lalu. Dari balkon kamarnya, Disya meminum coklat hangat yang telah dibuatkan oleh bundanya. Dia menatap rumah tetangganya yang di depan halamannya telah terpasang bendera merah putih. Begitupun rumahnya. Disya tampak memikirkan sesuatu, mungkin besok dia akan mengikuti lomba tujuh belasan, yaitu lomba karaoke antar komplek. Lagian, para tetangganya suka terhibur dengan suara emasnya. Bahkan setiap acara Dirgahayu Indonesia, pasti tetangganya pada heboh ngajakin Disya lomba karaoke antar komplek. Begitupun Pak RT yang selalu mengingatkan Disya untuk ikut serta lomba karaoke. Setiap ia mengikuti lomba tersebut, ia selalu menang. Lihat saja lawan penyanyinya, kalau gak anak TK ya mungkin anak SD lawannya. Pantas saja dia selalu menang. Kalau misalkan panitia lomba membuka perlombaan 'Lomba Mengambil Hati Orlando' pasti dia selalu kalah. Jangan ada lombanya, gak ada lombanya juga dia tidak bisa mengambil hati Orlando. Miris. Lampu kamar Orlando mati, tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Lantas, Disya meletakkan gelas yang berisi coklat hangat itu di atas meja, lalu ia melompat pembatas balkonnya dengan balkon Orlando. Sekarang gadis itu berada di balkon Orlando. Disya mengintip suasana kamar Orlando dari luar, ternyata tubuh pria itu sedang menggigil dan Bang Olan-nya sepertinya tertidur. Disya mencoba menggeser pintu balkon, dan ia bernafas lega karena pintunya tidak terkunci. Lantas dengan cepat gadis itu memegang kening Orlando. Ternyata suhu tubuhnya panas. Dengan cepat, gadis itu kebawah menuju dapur. Dia mengambil baskon dan mengisi baskom itu dengan air dingin. Setelah selesai, ia langsung bergegas ke kamar Orlando dan mengompres keningnya. "Mama...." panggil Orlando dengan lirih. Ia mengigau kecil karena matanya masih terpejam. "Ini Disya, bang." Orlando tampak tidak mengigau lagi saat Disya mengelus lengan Orlando. Mumpung Orlando sedang tidak sadarkan diri dalam artian sedang sakit. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur Orlando, dan Disya langsung memeluk Orlando dari belakang. "Kumohon, cepat sembuh ya, Bang. Agar Bang Olan bisa melihat performance Disya besok." Ungkapnya sambil terkekeh. Lalu mata ia terasa berat, dan dia tertidur di ranjang Orlando, sambil memeluk Orlando dari belakang. Tubuhnya enak di peluk. Biarkan aku memelukmu sebentar saja, karena aku yakin, suatu saat nanti, aku tidak bisa memeluk tubuhmu yang hangat dan sangat nyaman ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD